alexametrics

Website KPU Jadi Sasaran Ancaman Menjelang Pemilu 2019

loading...
Website KPU Jadi Sasaran Ancaman Menjelang Pemilu 2019
Pengamat Keamanan Siber, Charles Lim mengungkapkan website Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi sasaran ancaman yang serius menjelang Pemilu 2019 mendatang. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pengamat Keamanan Siber, Charles Lim mengungkapkan website Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi sasaran ancaman yang serius menjelang Pemilu 2019 mendatang. Ancaman tersebut bukan hanya menyerang website saja, tapi bisa menyerang database dari KPU.

"Kan KPU menginformsikan lewat website. Jadi website itu akan menjadi target, dibelakang website itu apa? Database jadi pastilah database itu yang akan diacak-acak, pasti website database pasti akan diacak-acak," ujar Charles dalam diskusi Polemik MNC Trijaya Network, dengan tema 'Darurat Ancaman Siber' di d'consulate resto, Jakarta Pusat, Sabtu (9/2/2019).

(Baca juga: Waspada, Serangan Siber Bisa Menyerang Media Massa Indonesia)


Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, menurut Charles KPU harus mempunyai tim penjaga. Tim pejaga KPU bisa bekerja sama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).



"Misalnya Asian Games, BSSN terlibat untuk mejaga dan memproteksi Asian Games website juga. Kalau kita lihat Asian Games website ini kan di belakangnya database sama KPU belakangnya database juga," jelasnya.

(Baca juga: Praktisi Sebut Motif Serangan Siber Paling Besar Yakni Terkait Uang)


Untuk penjagaan di luar, KPU juga perlu melakukan koordinasi dengan BSSN dan stakeholder terkait. Proteksi tersebut harus dilakukan secara bersama-sama tidak bisa sendiri jadi perlu orang-orang yang berkompeten dalam menjaga website KPU tersebut.

"Orang-orang itulah yang dikumpulkan untuk memproteksi di belakang layar, di bagian depan tetap KPU harus punya, di belakang layar harus dijaga bersama-sama," tuturnya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak