alexametrics

IYRC 2019, Pelajar MTsN 1 Tangsel Ciptakan Alat Pendeteksi Gempa dan Tsunami

loading...
IYRC 2019, Pelajar MTsN 1 Tangsel Ciptakan Alat Pendeteksi Gempa dan Tsunami
Salah satu kelompok peserta kompetisi robot anak dari MTs Negeri 1 Tangsel membuat inovasi alat pendeteksi gempa dan tsunami yang bertenaga listrik. Foto/SINDOnews/Hasan Kurniawan
A+ A-
TANGERANG - Sebanyak 400 pelajar dari 100 sekolah di Jabodetabek mengikuti Indonesian Youth Robot Competition (IYRC) 2019 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang. Kompetisi robot anak terbesar di Indonesia ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun sejak 2014. Tahun ini acara dilangsungkan selama satu hari dengan tema My Robot Helps Us.

Ketua Indonesian Youth Robot Competition (IYRC) 2019, Ferdiansyah mengatakan tidak hanya pelajar dari Jabodetabek, kompetisi robot anak ini juga diikuti pelajar kota lain.

"Ada juga yang dari Semarang, Bandung, Palembang, dan Surabaya," ungkap Ferdiansyah kepada SINDOnews di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Minggu (14/4/2019).



Kompetisi ini, kata Ferdi, merupakan ajang bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan sejak dininya di bidang Science Technology, Engineering dan Math (STEM). Sekaligus mencari bibit unggul.

"Pemenang lomba akan kita fasilitasi untuk mengikuti lomba International Youth Robot Competition di Korea Selatan pada 1-4 Agustus 2019. Kita akan bawa 20-50 orang pemenang untuk ke sana," sambungnya.

Project Leader Digital Hub Sinar Mas Land, Irawan Harahap menambahkan pihaknya sangat fokus terhadap pengembangan dunia informasi dan teknologi masyarakat.

"Teknologi merupakan salah satu fokus kami dalam transformasi BSD City sebagai the first integrated smart digital city. Tidak hanya pada teknologi itu sendiri, tapi juga pada para digital talent," ujar Irawan.

Pihaknya pun bangga bisa menjadi bagian dari proyek masa depan itu, yakni mewadahi kompetisi robot anak terbesar di Indonesia dan memberikan fasilitasnya. "Kami bangga dapat mewadahi talenta muda kita, menjadi tempat berkumpulnya para komunitas teknologi dan menjadi tuan rumah berbagai acara di bidang teknologi yang sedang berkembang," paparnya.

Sementara itu, salah satu kelompok peserta kompetisi robot anak dari MTs Negeri 1 Tangsel membuat inovasi alat pendeteksi gempa dan tsunami yang bertenaga listrik. Melalui alat yang diciptakannya itu, para siswa Kelas 2 yang digawangi oleh Attaya Bagas Rafir R (13), Naailul Azmi (13), dan Rafi Ramadhan (13), mereka membuat miniatur pendeteksi gempa dan tsunami.

Bagas, ketua tim mengatakan, inovasinya itu dinamakan Alert atau Alarm Earthquake and Tsunami. Alat cukup berfungsi saat diujicoba getaran dan gelombang air.

"Jadi ada sensor gempa atau getar, jadi jika ada getaran, lampu kuning akan menyala dan buzer akan berbunyi untuk memperingati penduduk sekitar agar cepat mengevakuasi diri," katanya, di ICE BSD.

Didampingi kedua rekan timnya, Bagas lalu menguji coba inovasinya itu dengan gebrakan di atas meja yang cepat direspons dengan bunyi alarm dan lampu kuning. Bunyi dan menyalanya lampu kuning itu, jadi tanda bahaya telah terjadinya gempa. Alat ini, kata Bagas, bisa ditanam 20 meter lebih di bawah permukaan tanah dan bisa menangkap dengan tepat getaran yang ada.

"Jadi, cara kerjanya alat ini kita tanam di tanah, sekira 20 meter lebih di dalam tanah. Karena jika terlalu dekat, seperti truk dan benda jatuh akan bergetar juga. Makanya, kita tanam agak tinggi," sambung Bagas.

Rafi, rekan Bagas menambahkan untuk alat pendeteksi tsunami ada alat lagi yang dipasang di atas permukaan laut. Cara kerja alat ini, kurang sama dengan yang pertama.

"Namanya sensor air. Kita pasang di atas laut. Jadi kita ngukur titik gelombang pasang, paling tinggi misalnya 1 meter, kita akan pasang 1 meter ke atas. Jadi ketika gelombang tinggi, langsung bunyi," jelasnya.

Jika pendeteksi gempa sensor yang bunyi berwarna kuning, pada sensor tsunami warna merah. Sensor merah ini juga terkait dengan sensor palang pintu yang akan langsung tertutup jika ada potensi tsunami.

Fungsi palang pintu ini untuk mencegah ada korban jiwa yang besar dari para pengguna jalan, jika tsunami menerjang. Sehingga, cukup efektif sebagai upaya penyelamatan.

"Alat ini, bisa dipasang terpisah, sesuai dengan kebutuhan. Misal pendeteksi gempa bisa kita pasang di wilayah yang jauh dari pantai. Sedang yang ada pendeteksi tsunaminya bisa di dekat lautan," tukasnya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak