alexametrics

Sistem IT Diretas, KPU Diminta Tak Asal Tuduh

loading...
Sistem IT Diretas, KPU Diminta Tak Asal Tuduh
Pengamat Siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan jika dilihat hanya dari alamat Internet Protocol (IP)-nya saja itu terlalu cetek. Foto/Ilustrasi/Okezone
A+ A-
JAKARTA - Basis data Komisi Pemilihan Umum (KPU) diserang peretas Rusia dan China dalam upaya untuk mengganggu pemilihan umum (Pemilu) 17 April 2019 mendatang. Kendati demikian, KPU menjamin aksi hacker tersebut tak mengganggu proses dan tahapan pemilu.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan jika dilihat hanya dari alamat Internet Protocol (IP)-nya saja itu terlalu cetek.

"Kalau cuma berdasarkan IP lalu bilang peretas China dan Rusia itu terlalu cetek. Harus ada data pendukung lain dong," ujarnya kepada SINDOnews melalui pesan singkat, Kamis (13/3/2019).

(Baca juga: Peretas Rusia dan China Serang Basis Data KPU Indonesia)




Pernyataan tersebut ia lontarkan lantaran IP gampang sekali untuk dimanipulasi. "Soal IP kan gampang dimanipulasi. Pakai VPN juga IP berubah," ucapnya.

Untuk itu, ia mengatakan bahwa KPU sudah semestinya untuk mengumpulkan data pendukung yang valid terlebih dahulu sebelum akhirnya mengumumkan jika sitem IT-nya diretas.

"Kalau mengatakan peretas China dan Rusia itu buktinya apa? Maka KPU harus lebih cerdas jangan langsung main tuduh atau umumkan sesuatu tanpa data pendukung yang valid," ungkapnya.

(Baca juga: Akui Sistem IT Diretas, KPU Jamin Tak Ganggu Tahapan Pemilu)


Upaya yang perlu dilakukan adalah mengamankan koneksi dengan baik, serta memonitor usaha-usaha peretasan. Jika perlu mem-follow up ke cyber crime atau Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

"Yang harus dilakukan yah mengamankan koneksinya dengan baik dan memonitor usaha-usaha peretasan. Kalau perlu di follow up ke cyber crime atau BSSN," pungkasnya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak