alexametrics

BIN Tegaskan Kekerasan di Sejumlah Daerah Tak Saling Terkait

loading...
BIN Tegaskan Kekerasan di Sejumlah Daerah Tak Saling Terkait
epala BIN Jenderal Pol Budi Gunawan berbincang dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan saat meninjau lokasi terjadinya ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu 24 Mei 2017 malam. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Badan Intelijen Negara (BIN) memastikan kasus kekerasan terhadap umat beragama di beberapa daerah di Indonesia tidak saling terkait.

BIN menduga ada pihak tertentu yang sengaja memutarbalikkan fakta dengan cara menyebarkan berita kekerasan tersebut menjadi hoax.

"Satu kasus dengan yang lainnya tidak ada keterkaitan. Tetapi memang ada pihak-pihak yang memelintir ini, dugaannya ingin membuat keresahan, dipolitisir, sehingga melemparkan berita-berita menjadi berita hoax. Termasuk isu lama kan juga dimunculkan lagi, termasuk isu PKI," ujar Kepala BIN Budi Gunawan seusai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis, (15/2/2018).

Dia menjelaskan kronologi beberapa kasus kekerasan yang terjadi di Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Barat.

"Contoh di Jatim, dia (pelaku) kan mau berobat karena memang sudah pernah berobat di situ. Karena ustaz yang mengobati itu tidak ada dari pagi sampai sore, ya namanya orang ada kekurangan, sehingga stres lalu mengamuk, pecah kaca," tutur Budi.

Seperti diketahui, di Tuban, Jawa Timur, M Zaenudin memecahkan kaca Masjid Baitur Rohim karena terlalu lama menunggu kiai yang dipercaya dapat menyembuhkan dirinya. Sementara di Bogor, kasus kekerasan memiliki motif berbeda dengan kasus di Jawa Timur.

"Di Bogor lain lagi, itu memang si penganiaya kan orang gila murni. Ada juga di Bogor kasus yang direkayasa, diganti pakai seragam salah satu ormas kemudian divideokan oleh satu kelompok dan diviralkan, ini beda-beda kasusnya," tuturnya.

Sementara kasus kekerasan di Gereja Katolik St Lidwina Sleman, Yogyakarta, menurut Budi, pelaku kekerasan yang diidentifikasi bernama Suliyono telah dipantau Densus 88 Antiteror Polri sebelumnya.

"Khusus di Yogya itu sudah kita prediksi, pelaku jadi pantauan kami di Densus. Dia adalah salah satu dari beberapa orang yang gagal ke Suriah, jadi dia sudah ter-brainwash untuk melakukan itu," tutur mantan Wakapolri ini.

Maraknya berita yang tersebar di media sosial mengenai kasus kekerasan terhadap umat beragama, BIN mengimbau masyarakat tetap berpikir jernih dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

"Masyarakat harus peka terhadap itu. Jangan sampai kita terjebak dalam permainan ini. Kepada masyarakat, jangan mudah terpancing," katanya.
(dam)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak