alexametrics

Inovasi Kebijakan Mendesak

loading...
Inovasi Kebijakan Mendesak
Candra Fajri Ananda. Foto/Istimewa
A+ A-
Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
 
KITA lagi-lagi dituntut harus bijak dalam menyikapi hasil akhir pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017. Pasalnya seperti dugaan sebelumnya, tingkat realisasinya tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah.

BPS (2018) mencatat pada 2017 tingkat pertumbuhan ekonomi kita hanya mencapai 5,07%. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5,03%.

Target pemerintah untuk mewujudkan pertumbuhan sebesar 5,2% melalui APBN-P 2017 urung tercapai. Dengan demikian kita tidak dapat memungkiri lagi bahwa perekonomian kita tengah mengalami cobaan yang sangat berat. Dari sini pemerintah perlu banyak belajar dari pengalaman selama 2017, terutama mengelola perekonomian dalam negeri yang seharusnya tidak terjadi dan terulang kembali pada 2018.

Kondisi di tahun 2017 kemudian menjadi sarana refleksi untuk menebak bagaimana nantinya hasil akhir di tahun 2018. Nah, menariknya di sini ternyata Dana Moneter Internasional (IMF) berani mengatakan bahwa tahun 2022 nanti tren pertumbuhan ekonomi kita akan terus meningkat hingga bisa lebih dari 6%.

Tahun ini, IMF masih memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan di kisaran 5,3%. Tebakan IMF seakan-akan bergerak melawan arus dari asumsi pihak-pihak lainnya yang justru mengatakan target pertumbuhan yang paling realistis hanyalah kenaikan tipis. Pemerintah sendiri juga masih optimistis bahwa target pertumbuhan di APBN 2018 yang sebesar 5,4% masih cukup kredibel untuk terus diupayakan.

Justifikasi yang digunakan pemerintah dan IMF juga nyaris sama, yakni terkait dengan stabilitas makro yang terkendali, inflasi yang terjaga tetap rendah, dan proyeksi harga komoditas andalan ekspor yang diprediksi akan semakin menguat sehingga berpengaruh pada defisit transaksi berjalan. Apalagi hasil-hasil reformasi kebijakan dan paket deregulasi yang terhitung gila-gilaan akan semakin tampak pada beberapa waktu ke depan.

Namun IMF juga mengingatkan kita bahwa masih ada beberapa rintangan yang harus siap dihadapi. Termasuk di dalamnya adalah risiko perekonomian global yang masih menghantui, potensi penurunan penerimaan pajak, dan kecenderungan kenaikan suku bunga di pasar keuangan mengingat adanya pengetatan likuiditas pasar keuangan global.

Kendati demikian kita tetap perlu waspada karena gambaran kondisi pada 2017 relatif sama dengan kondisi pada tahun sebelumnya. Alhasil kenaikan pertumbuhan yang diidam-idamkan tetap sulit direalisasikan.

Setidaknya hal ini menggambarkan bahwa ada persoalan struktural yang belum terentaskan. Dari sisi muara perekonomian seperti hasil ekspor-impor sudah cukup kentara apa saja penyebabnya.

Ekspor kita masih saja terjebak pada komoditas barang mentah yang nilai ekonominya tidak cukup banyak mendorong pertumbuhan. Adapun dari sisi impor juga masih terbelit dengan ketergantungan distribusi bahan baku dan bahan penolong yang kebanyakan digunakan untuk produksi domestik.

Kita juga belum membahas sejauh mana perjalanan efisiensi perekonomian dalam negeri terus bergerak. Publikasi BPS mengenai PDB Indonesia kemarin menyisipkan pesan yang menarik. Intinya, jika tidak ada gebrakan dan inovasi kebijakan berarti dari pemerintah, penulis khawatir perekonomian kita mengalami stagnasi untuk waktu yang relatif lebih lama. Semoga saja tidak demikian.

Persoalan Struktural
Dalam struktur PDB 2017 menurut lapangan usaha, tiga sektor lapangan usaha yakni industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan masih dinobatkan sebagai sektor utama karena kontribusinya yang besar terhadap pembentukan PDB. Ketiganya menyumbang secara berurutan, yakni masing-masing sebesar 20,16%, 13,14%, dan 13,01%.

Sektor konstruksi perlahan tetapi pasti kontribusinya terus mengejar ketiga sektor yang tadi disebutkan seiring masifnya upaya pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Tahun kemarin kontribusinya tercatat sebesar 10,38%. Dari sisi pertumbuhan parsial, sektor konstruksi juga tumbuh secara meyakinkan dengan kenaikan sebesar 6,79%.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak