alexa snippet

Dua Profesor Ini Akan Dikukuhkan Jadi Guru Besar UNS

Dua Profesor Ini Akan Dikukuhkan Jadi Guru Besar UNS
Prof Dr Wakit A Rais MHum (baju putih), dan Prof Dr Suyitno (baju kotak kotak) saat memberikan keterangan pers menjelang dikukuhkan sebagai Guru Besar UNS, Solo, Jawa Tengah. FOTO/Koran SINDO/ARY WAHYU WIBOWO
A+ A-
JAKARTA - Jumlah guru besar Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah akan bertambah.

Prof Dr Wakit A Rais M Hum akan dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Linguistik (etnolinguistik) dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Wakit menjadi Guru Besar ke-185 UNS dan ke-23 FIB.

Selain Wakit A Rais, Prof Dr Suyitno MPd juga akan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Sastra dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Dia akan diangkat sebagai Guru Besar ke-184 UNS dan ke-56 yang dimiliki FKIP. Keduanya akan dikukuhkan secara resmi saat Sidang Senat Terbuka UNS, 15 Agustus mendatang.

Prof Wakit A Rais sudah mengkaji hubungan bahasa dan budaya Jawa dalam perspektif kajian etnolinguistik sekitar 15 tahun, dan menghasilkan sekitar 40 karya penelitian terkait kebudayaan dan kearifan lokal Jawa.

“Kajian kurang lebih dari 15 tahun telah mendorong saya untuk menekuni berbagai
persoalan tersebut,” kata Wakit A Rais, Kamis (10/8/2017) siang.

Berpijak dari pengalaman tersebut, dalam pidato pengukuhan guru besar
nanti dirinya akan mengangkat kearifan lokal yang terangkum dalam bahasa Jawa sebagai tema utama.

Dia berpendapat ketahanan kepribadian masyarakat sangat ditentukan oleh kekuatan kearifan lokal (local genius) dalam menghadapi kekuatan global.

Sementara itu, Prof Suyitno sangat aktif dan konsisten dalam menekuni ilmu kajian sastra. Pria kelahiran Sukorejo, 22 Januari 1952 itu telah menghasilkan sekitar lima buku ilmiah dan sembilan penelitian terkait kajian sastra.

Dalam naskah pidato pengukuhan guru besar, Suyitno akan mengupas tuntas terkait adanya multi paradigma dalam kajian sastra. Juga menunjukkan antusiasmenya dalam melihat pendekatan kajian karya sastra dari sistem oligarki dan jerat kapitalisme.

“Saya berpendapat jika realitas sastra sebagai perpaduan realitas nyata dan realitas baru kreativitas pengarangnya bersifat subjektif. Realitas sastra bersandar pada visi pengarang dan tidak pernah terlepas dari hakikatnya yang imajinatif,” kata Suyitno.
(dam)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top