alexa snippet

Merokok Tidak Membunuhmu

Merokok Tidak Membunuhmu
Mohamad Sobary Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com
A+ A-
Kejujuran itu aspek penting di dalam hidup kaum terpelajar, yang bergulat di dalam dunia ilmu, untuk mencari kebenaran.

Kaum terpelajar dicintai Allah Yang Maha Kuasa karena keterpelajarannya. Mereka, di dalam tradisi Minangkabau, dihormati, dengan ungkapan ”selangkah didahulukan, seranting ditinggikan”. Mereka juga sangat dihormati, sebagaimana dunia Minangkabau menghormati orang kaya.

Maka, tahulah kita bila dari masyarakat tersebut lahir ungkapan: ”orang kaya tempat meminta, orang pandai tempat bertanya”. Orang pandai, kaum terpelajar, yang bergulat di dunia ilmu pengetahuan itu luas. Ada peneliti di bidang ilmu-ilmu sosial, ada dokter, dan jenis penelitian di bidang kesehatan dan penyakit, dan ada pula para perumus kebijakan publik, di berbagai bidang, termasuk di bidang kesehatan orang per orang, maupun di bidang kesehatan masyarakat.

Di bidang yang terakhir ini hubungannya dengan dunia kedokteran dekat sekali meski mereka memiliki sendiri kaidahkaidah keilmuan, yang sangat dipengaruhi ilmu sosial. Di sini ada satu hukum dasar yang menyangkut bukan saja dunia ilmu, melainkan juga dunia rohani, yang kedua-duanya memiliki hubungan hangat, dan bersifat langsung, dengan Allah Yang Maha Mengetahui atas Segala Sesuatu.

Hubungan itu terumus di dalam etika keilmuan dan bisa juga dalam etika profesi, di mana mereka tidak boleh berbohong. Kebenaran itu milik Allah Yang Maha Benar, jadi jelas tak bisa dikorup. Di sini jelas kebenaran tersebut tak bisa disulap menjadi keputusan politik. Kebenaran, tentang apa saja, berada di dalam domain Allah Yang Maha Benar tadi dan merupakan keputusan yang ada di tangan-Nya.

Para ilmuwan, di bidang keilmuan apa pun, dengan begitu tidak boleh bohong meski mereka diampuni kalau usahanya mencari kebenaran itu salah. Pendeknya, mereka itu manusia yang boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Seorang ilmuwan misalnya di bidang kedokteran, yang juga duduk di dalam suatu jabatan yang memegang kebijakan publik, sikapnya sebagai ilmuwan dan sebagai perumus kebijakan tidak boleh benturan satu sama lain.

Tokoh dunia ilmu ini tidak boleh mengalami konflik nilai ketika posisinya sebagai perumus kebijakan publik tidak memperoleh dukungan ilmiah dari dunianya yang lain yaitu sebagai ilmuwan tadi. Sebagai pengamal ilmu, dia harus mampu merumuskan ilmu yang bersifat amaliah, dan segenap amalnya harus pula dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan, menjadi amal ilmiah.

Jika disini terjadi benturan, dan yang bersangkutan mengorbankan yang satu demi membela yang lain, dia menerabas keagungan dunia ilmu. Lebih khusus, dia mengabaikan kebenaran. Di sini dengan begitu berat dia mengabaikan Allah Yang Maha Mengatur segalanya di dalam bentangan alam semesta, di atas bumi di bawah langit.

Tak diragukan, bukan hanya di bawah langit bumi yang tampak dari sini, melainkan di bawah langit, langit, dan langit lain, yang bertingkat- tingkat, yang kita kenal dalam ungkapan: di atas langit masih ada langit, dan di atasnya yang atas itu masih ada yang lebih atas lagi. Begitu kebenaran terbentang, dan di bawah kontrol sang pemilik langit dan bumi, yang tak bisa dibohongi, karena Dia tak pernah mengantuk, tak pernah tidur, dan tak pernah lalai barang sedetik pun.

Dengan begitu, menjadi jelas, sejelas jelasnya, bahwa seorang hamba, seorang ilmuwan, seorang perumus kebijakan publik, seorang beriman, hendaknya tampil di dalam suatu sosok pribadi yang utuh, yang tak pernah terbelah, dan tak boleh sengaja membuat dirinya tampil menjadi kepingan-kepingan yang terpisah satu dari yang lain. ***

Posisi ilmuwan, pejabat perumus kebijakan publik, dan hamba yang beriman, hakikatnya satu, dan di depan Allah Yang Maha Tinggi, dia rendah, di hadapan Allah Yang Maha Memerintah, dia tunduk, patuh dan taat, tanpa syarat apa pun. Di hadapan Allah Yang Maha Benar, dia harus benar.

Di hadapan Allah Yang Maha Jujur, dia pun harus jujur sejujur-jujurnya. Ketika kebijakan di bidang kesehatan dirumuskan, apakah dasarnya? Kebenaran. Tak boleh lain dari kebenaran. Ketika kebijakan di bidang kesehatan berhadapan dengan keretek, sudah dijelaskan, merokok mengganggu ini dan itu, yang dulu telah akrab dengan kita.

Adakah rumusan itu disusun di atas sebuah landasan kebenaran yang sahih, kuat, dan tak terbantah, biarlah kejujuran ilmiah di bidang kedokteran menerangkan dengan landasan kejujuran.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top