alexametrics

Nongkrong Seru di Warung Terapung

loading...
Nongkrong Seru di Warung Terapung
Sejumlah remaja menikmati santapan di warung terapung Mang Ujuk di kawasan Sungai Musi. Bukan hanya makanan dan minuman yang ditawarkan, pemandangan di sekitar sungai yang menjadi ikon Kota Palembang itu juga menjadi daya tarik bagi pengunjung.
A+ A-
Sungai Musi dan Jembatan Ampera merupakan ikon Kota Palembang yang sangat populer. Bukan saja kaya sejarah, sungai ini juga sangat indah. Tak heran jika banyak orang memilih tempat ini sebagai alternatif tempat nongkrong.

Untuk urusan satu itu, Sungai Musi punya tempat khusus yang dikenal sebagai warung kopi terapung. Sesuai namanya, warung ini didesain sangat sederhana dari kapal-kapal getek yang ditambatkan di dermaga.

Di warung ini pengunjung tidak hanya dimanjakan dengan menu ringan khas Palembang seperti pempek serta aneka minuman seperti es teh dan kopi. Sambil menyantap menu dan menyeruput kopi hangat, pengunjung warung terapung juga bakal disegarkan dengan pemandangan aktivitas khas pesisir sungai yang ramai setiap hari. Warung-warung terapung ini mudah dijumpai di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) dan Pasar 16 Ilir Palembang.



Setiap hari menjelang sore sejumlah warung terapung terlihat berlabuh di tempat ini. Salah satunya milik Harun, 52, atau yang akrab disapa Mang Ujuk. Warung ”perahu getek” milik Mang Ujuk berukuran cukup luas. Setidaknya, dari bagian lambung hingga buritan memiliki kapasitas sekitar 30 orang. Beberapa meja terlihat dikelilingi oleh empat atau lebih kursi plastik layaknya warung kopi biasa.

Sementara, pada bagian haluan, dimanfaatkan sebagai dapur dan tempat mencuci piring. Kilau matahari yang mulai kemerahan seakan menyambut aktivitas di warung kopi ini. Satu per satu pengunjung mulai berdatangan. Tak harus menunggu lama, warung terapung milik Mang Ujuk telah terlihat ramai saat hari menjelang sore. Saat ombak sungai Musi beriak, warung terapung ikut berayun.

Ini memberi sensasi keasyikkan tersendiri bagi para pengunjung. Dengan santai mereka menyeruput kopi panas dipadu makanan ringan yang telah terhidang. Suasana sore yang hangat mulai berganti dengan nuansa malam yang menawan. Siluet dan kilau lampu dari Jembatan Ampera semakin mempercantik panorama Sungai Musi yang terlihat dari atas warung terapung.

Semakin malam, aktivitas warung ini belum berhenti. Satu per satu pengunjung mulai berganti, membuat warung ini tak pernah sepi. Salah seorang pengunjung warung terapung, Iqbal, mengatakan, sudah sejak lama warung terapung ini menjadi tempat favoritnya menghabiskan waktu. Ia kerap datang ke warung terapung untuk menikmati suasana santai. Biasanya, ia akan memesan secangkir kopi sambil menikmati makanan ringan ataupun gorengan.

”Datang ke sini buat nongkrong. Sebab suasananya enak, terbuka tempatnya. Jadi kesannya santai. Apalagi di sini bisa sambil menikmati panorama Sungai Musi. Saya biasanya ke sini sama pacar,” ujar Iqbal. Senada dikatakan pengunjung lain, Ayu. Menurutnya, warung terapung ini bisa dibilang merupakan tempat tongkrongan yang paling asyik. Selain suasananya santai dan asyik, warung terapung juga menawarkan makanan serta minuman dengan harga yang terjangkau alias murah meriah.

”Biasanya pas pulang kerja mampir ke sini sama teman-teman. Kami ngobrol, seruseruan. Kadang-kadang selfie-selfie-an. Soalnya tempatnya enak. View-nya bagus. Harga menunya terjangkau. Asyik lagi, kadang-kadang diayun-ayun sama ombak,” papar Ayu.

Sementara, pemilik warung terapung, Mang Ujuk, mengatakan bahwa warung kopi miliknya merupakan warung yang ”bersahabat” bagi kantong siapa saja. Sebab, harga yang ditawarkan memang terjangkau, baik oleh pelajar ataupun karyawan. Untuk menu gorengan, rata-rata ditawarkan dengan harga Rp1.000, tekwan ataupun model Rp4.000, sedangkan lenggang Rp7.000.

Selain itu, ada mi goreng dan mi rebus. Aneka minuman pun tersedia, dengan harga Rp3.000-4.000. Bukan hanya warga Palembang, warung ini juga kerap didatangi para tamu dari luar kota yang penasaran dengan keindahan Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

”Setiap hari saya bisa menghabiskan 150 porsi model atau tekwan, satu dus mi instan, serta aneka gorengan. Jam operasional pukul 15.30-21.00 WIB. Alhamdulillah ramai terus” ucap Mang Ujuk, yang memulai usahanya sejak 2004.

Febria astuti
(bbg)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak