alexametrics

Tingkatkan Kompetensi, Kemendikbud Latih 2.160 Guru SMK

loading...
Tingkatkan Kompetensi, Kemendikbud Latih 2.160 Guru SMK
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto saat membuka peluncuran Program Up-skilling dan Re-skilling Guru Kejuruan SMK. Foto: Ist
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Up-skilling dan Re-skilling bagi 2.160 guru kejuruan SMK. Pelatihan ini akan dilakukan secara online dan blended learning selama 2-4 bulan.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto mengatakan, program Up-skilling dan Re-skilling bagi guru kejuruan SMK ini adalah untuk mendukung kerja sama yang erat atau link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Wikan mengungkapkan, dengan perkembangan teknologi di industri yang cepat, SMK harus mampu beradaptasi dengan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual dengan industri. Salah satunya melalui skema pembelajaran project by learning atau bring industry to school. (Baca juga: Kerja Sama Asing Disorot, Pemerintah Diminta Utamakan Perusahaan Domestik)



"Guru SMK tidak hanya mengajar, tetapi juga sebagai mentor, fasilitator, motivator, dan coach yang dapat mengubah no body menjadi seorang superstar. Mampu membangkitkan anak menjadi kompeten setelah lulus SMK baik secara prestasi, leadership, ability, dan kemampuan komunikasi," ujarnya pada Webinar Peluncuran Program Up-skilling dan Re-skilling Guru Kejuruan SMK dan Bantuan Pemerintah Bidang Kemitraan dan Penyelarasan dengan DUDI, Selasa (30/6/2020).

Pelaksanaan Program Up-skilling dan Re-skilling Guru Kejuruan SMK didasarkan pada pemetaan empat bidang cluster center of excellence (CoE) SMK meliputi bidang manufaktur dan konstruksi, ekonomi kreatif, hospitality, dan care service.

Pemilihan CoE telah mempertimbangkan tren perkembangan industri dan kapasitas penyerapan tenaga kerja. Secara total, terdapat 21 kompetensi keahlian di SMK yang masuk dalam kriteria program ini.

Program Up-skilling dan Re-skilling Guru Kejuruan SMK akan dilakukan secara online learning dan blended learning sesuai kompetensi dan keterampilan kejuruan yang akan dicapai guru. (Baca juga: Pemerhati Pendidikan Kritik Kerja Sama Kemendikbud dengan Google)

Pelatihan selama 2-4 bulan ini terbuka bagi guru SMK yang memiliki usia di bawah 50 tahun dan memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Untuk informasi lebih lengkap mengenai persyaratan dapat diakses melalui laman www.vokasi.kemendikbud.go.id.

Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri juga meluncurkan bantuan pemerintah ke SMK meliputi fasilitasi pembentukan pusat karier siswa/bursa kerja khusus (BKK) SMK untuk 80 SMK, fasilitasi kemitraan dan penyelarasan SMK dengan DUDI bagi 60 SMK serta fasilitasi pembentukan tempat uji kompetensi (TUK) SMK berstandar industri bagi 100 SMK.

Terkait program-program yang diluncurkan tersebut, Wikan berpesan bahwa setiap program yang dikeluarkan harus selaras dengan tujuan link and match pendidikan vokasi dengan DUDI. (Baca juga: Kisruh Syarat Usia, DPR Minta Kemendikbud Awasi PPDB Daerah)

Direktur Kemitraan dan Penyelarasan DUDI Ditjen Vokasi Kemendikbud Ahmad Saufi menambahkan pihaknya telah membentuk Forum Pengarah Vokasi (FPV) sebagai komitmen membangun ekosistem kemitraan yang baik antara pendidikan vokasi dengan DUDI.

"Fungsi membangun ekosistem ini sudah ada di Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan DUDI. Kita harus membangun kerja sama yang berbasis simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Namun selain menguatkan kemitraan ini, saya juga ingin berpesan kepada para siswa agar mau belajar berbagai jenis skill, termasuk bahasa dan menambah pengalaman melalui kegiatan yang bermanfaat," ujar Saufi.
(jon)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak