Langkah Menuju Transformasi Ekonomi Hijau

Senin, 01 Agustus 2022 - 07:57 WIB
loading...
A A A
Saat ini China merupakan penyumbang emisi CO2 terbesar di dunia yakni 10.175 juta metrik ton CO2 dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 5,9% (sebelum pandemi).

Selanjutnya negara yang memberi sumbangan emisi terbesar kedua adalah Amerika Serikat (5.285 juta Mt CO2) dengan pertumbuhan ekonomi 2,2%.

Sementara Indonesia dengan pertumbuhan 2019 sebesar 5,02% berada di urutan ke-8 penghasil emisi CO2 terbesar (618 juta Mt CO2).

Peningkatan aktivitas ekonomi domestik sebesar 1% akan menimbulkan emisi karbon hampir dua kali lipat. Kondisi ini menunjukkan betapa aktivitas ekonomi Indonesia menyebabkan potensi degradasi lingkungan yang tinggi.

Data IPCC (2021) menunjukkan bahwa emisi GRK, termasuk karbon dioksida (CO2), merupakan pendorong utama perubahan iklim yang menyebabkan reaksi berantai seperti cuaca ekstrim, peningkatan permukaan air laut, dan bencana alam seperti kekeringan serta banjir.

Emisi GRK global yang telah meningkat sebesar 43% dalam dua dekade terakhir. Di tahun 2018 GRK yang dihasilkan setara 51,8 miliar ton CO2 ekuivalen, di mana 31% dihasilkan dalam produksi baja, semen, dan platik, lalu 27% dihasilkan oleh penggunaan listrik, 19% dihasilkan oleh sektor peternakan dan pertanian.

Selanjutnya 16% dihasilkan oleh mobilisasi menggunakan transportasi, 7% sisanya dihasilkan oleh barang penghangat dan pendingin, yang seluruhnya mengindikasikan kemungkinan krisis iklim yang lebih buruk akan terjadi lebih cepat.

Konsumsi makanan diperkirakan bertanggung jawab atas 28% emisi global di semua sektor, dengan kontribusi konsumsi produk hewani sebesar 62% atau sekitar 6,1–10,9 GtCO2eq dari jumlah total emisi GRK dari makanan.
Estimasi tersebut mencakup semua kegiatan produksi makanan, mulai dari pertanian, energi yang digunakan, produksi bahan kimia dan mineral, penggunaan lahan dan alih fungsi lahan dan hutan, hingga sampah yang dihasilkan dalam proses produksi bahan makanan, sekaligus emisi GRK dari distribusi bahan makanan tersebut.

Emisi GRK dari makanan akan terus meningkat seiring meningkatnya populasi manusia. Sebagian besar sumber energi listrik dunia masih bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil mulai dari batu bara, minyak, dan gas. Seiring dengan peningkatan populasi, kebutuhan energi listrik diprediksi terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga emisi CO2 yang dihasilkan dari sektor ini juga terus meningkat.

Padahal, sektor konsumsi listrik saat ini telah menyumbang hampir dua pertiga dari pertumbuhan emisi CO2. Bahkan, pada tahun 2018, emisi CO2 dari energi meningkat sebesar 1,7% dan menjadi kenaikan emisi CO2 dari sektor energi tertinggi dalam sejarah, yaitu mencapai 33,1 Gt CO2 setara dengan 44 kali emisi negara Jerman.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1113 seconds (10.101#12.26)