alexametrics

PGRI: Antarkan Anak-anak ke Masa Depan, Bukan ke Rumah Sakit

loading...
PGRI: Antarkan Anak-anak ke Masa Depan, Bukan ke Rumah Sakit
Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) meminta pemerintah merancang pola pendidikan baru dan kurikulum untuk masa kenormalan baru. Foto/SINDOphoto
A+ A-
JAKARTA - Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) meminta pemerintah merancang pola pendidikan baru dan kurikulum untuk masa kenormalan baru. Selain itu, perlu memperbaiki sistem pendidikan jarak jauh (PJJ) sebagai antisipasi kegiatan belajar mengajar tetap dari rumah.

Dunia pendidikan Indonesia sedang dalam ketidakpastian. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sempat mewacanakan akan membuka sekolah pada 13 Juli 2020. Belakangan, wacana itu diralat lagi karena tekanan publik yang menyatakan khawatir terhadap keselamatan anaknya. (Baca juga: Pimpinan DPR Usulkan Sekolah Daring dengan Pola Normal)

Ketua PB PGRI, Dudung Koswara mengatakan pihaknya setuju sekolah dijadikan model untuk penerapan protokol kesehatan tetapi ketika pandemi COVID-19. PGRI menganggap terlalu berisiko jika tetap memaksa suntuk sekolah disaat kasus positif COVID-19 masih tinggi.



“Ketika menetapkan protokol kesehatan dengan pilot project anak sekolah sekalipun di daerah hijau itu tetap berisiko. Ada ungkapan,’buat anak kok coba-coba'. Itu respons publik yang khawatir saat anak-anaknya harus masuk sekolah,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk Kesiapan Sekolah Era New Normal, Rabu (3/6/2020). (Baca juga: Orang Tua Setuju Sekolah Dibuka Asal Berstatus Zona Hijau)

Dudung mengungkapkan hampir seluruh ekosistem pendidikan tidak sepakat jika harus masuk sekolah. PGRI tidak ingin sekolah menjadi area spekulasi bagi anak-anak. Bahkan, PGRI tidak setuju wacana pembukaan sekolah untuk yang berada di zona hijau.

Dengan pergerakan orang yang semakin tinggi di masa kenormalan baru tentu membuka kemungkinan orang di zona merah berkunjung ke zona hijau. Bisa juga sekolahnya berada di zona hijau, tapi ada siswa dan guru yang tinggal di zona merah. Ini membuka kemungkinan penyebaran atau penularan virus Sars Cov-II di sekolah.

“Menentukan anak masuk sekolah itu tidak boleh grasa-grusu. Kalau rumah itu diibaratkan madrasah pertama, jangan terlalu khawatir ketika anak di rumah dengan PJJ. Namun harus disempurnakan (PJJ),” terang Dudung. (Baca juga: Soal Pembukaan Sekolah, Pemerintah Jangan Grasa-grusu)

Saat ini sebaiknya mengutamakan kesehatan seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem pendidikan. “Kesehatan anak didik yang utama. Antarkan anak-anak ke masa depan bukan antarkan ke puskesmas atau rumah sakit,” tegasnya.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak