alexametrics

Cemaskan Corona, Orang Tua Waswas jika Sekolah Kembali Dibuka

loading...
Cemaskan Corona, Orang Tua Waswas jika Sekolah Kembali Dibuka
Bila benar terealisasi, mereka menilai kegiatan belajar itu bisa mengancam keselamatan anak karena pandemi Covid-19 atau virus Corona yang belum usai. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Wacana pemerintah membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli nanti memantik respon dari orang tua siswa. Bila benar terealisasi, mereka menilai kegiatan belajar itu bisa mengancam keselamatan anak karena pandemi Covid-19 atau virus Corona yang belum usai.

(Baca juga: Pemerintah Diminta Kaji Matang Rencana Pembukaan Sekolah)

Rossa (40) mengatakan belum mendapat info dari sekolah terkait wacana tersebut. Sejauh ini, dari info yang diperolehnya dari grup Whatsapp orang tua siswa, baru sebatas pengumuman pengambilan laporan akhir tahun siswa.



"Cuma dapat info nanti tanggal 2 Juni sekolah dibuka. Tapi itu ambil laporan akhir tahun belajar aja," tutur dia saat dihubungi SINDOnews, Kamis (28/5/2020).

Bila sekolah kembali dibuka dengan belajar tatap muka, Rossa jelas menolak. Bagi dia, itu sama saja membuka potensi tertular virus Corona karena perilaku anak yang sulit untuk bersikap disiplin selama di sekolah. "Pasti khawatir karena anak masih belum bisa disiplinkan. Beda sama orang dewasa," ujarnya.

Rossa menceritakan anaknya saat ini berusia 13 tahun dan baru naik ke kelas 2 SMP di salah satu sekolah menengah di Tangerang. Selama mengikuti pembelajaran dari rumah, dirinya lebih mudah memantau dan melarang buah hatinya untuk bepergian keluar rumah.

Oleh karena itu, dirinya lebih setuju dengan sistem pembelajaran secara online ketimbang tatap muka selama pandemi Covid-19. Selain pendidikan, ia beralasan kesehatan anak menjadi fokus utamanya saat ini.

"Jadi, saya enggak setuju. Kecuali sekolah sudah ada standarisasi kesehatan atau kebersihan. Kalau sekolahnya belum ada, sebagai orang tua pasti sangat khawatir," tukasnya.

Pernyataan senada juga diutarakan Ernita (41). Ia tegas menolak rencana jika sekolah kembali dibuka dan belajar tatap muka seperti biasanya. Menurutnya, tidak ada jaminan kalau di sekolah akan aman dari penularan Covid-19.

"Bisa jantungan saya kalau jadi dibuka. Apalagi kasus ini kan enggak tahu kapan selesainya. Malah masih bertambah kan," tutur dia saat dihubungi SINDOnews, Kamis (28/5/2020).

Ernita memiliki dua anak belia yang bersekolah. Sheryl (7) yang bersekolah di SD Sang Timur, sedangkan Steven (6) merupakan siswa di TK Sang Timur Cakung, Jakarta Timur.

Ia yakin anak-anak tidak terlalu paham mengenai protokol kesehatan seperti menggunakan masker, hand sanitizer, rajin mencuci tangan selama di sekolah. Sebab, usia tersebut lebih senang bermain bebas.

"Gimana ngontrolnya. Tau sendiri kalau anak-anak itu enggak bisa diam, pegang sana sini. Pakai masker terus ya enggak betah juga. Jadi ini bikin kita orang tua was-was," cemasnya.

Sejauh ini, Ernita mengatakan belum ada pemberitahuan dari pihak sekolah mengenai kepastian tentang pelaksanaan tahun ajaran baru 2020/2021. Demikian juga terkait kegiatan belajar mengajar, tidak ada kepastian dilakukan tatap muka atau tetap memakai sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Kalau dari grup WA sekolah sih, cuma ada informasi tanggal 2 sampai 4 Juni nanti untuk pengambilan laporan akhir tahun," jelas dia.

Ernita meminta agar kegiatan belajar di sekolah sebaiknya diundur ke Januari 2021 atau kasus pandemi Covdi-19 mulai melandai. Dirinya juga lebih memilih membayar uang sekolah secara penuh meski hanya belajar dari rumah.

"Itu jauh lebih aman. Enggak apa-apa deh bayar full, yang penting jangan belajar di sekolah kalau belum dipastikan aman," pintanya lagi.
(maf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak