alexametrics

Kampus Harus Ikuti Dinamika Era New Normal

loading...
Kampus Harus Ikuti Dinamika Era New Normal
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, Iman Ramdhan dan Putri Widia Ningrum mendemonstrasikan inovasi Sterila. Sterila adalah alat sterilisasi barang belanjaan yang aman dan efektif di tengah merebaknya virus Corona. Foto/SINDOnews/Ali Masduki
A+ A-
JAKARTA - Pandemi virus Corona (Covid-19) belum usai. Sebagai antisipasi, pemerintah terus meminta semua pihak untuk mulai beradaptasi dengan kondisi yang diberi istilah normal baru.

Tidak terkecuali dunia usaha dan industri, pendidikan juga ditekankan untuk mampu menyesuaikan kondisi yang sekarang. (Baca juga: Bersiap New Normal)

Terkait normal baru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimina untuk mendorong kampus-kampus vokasi untuk berkolaborasi dengan industri agar menghasilkan karya-karya riset terapan yang mendukung tanggap darurat Covid-19.



Kampus dan industri harus duduk bersama untuk mengantisipasi kenormalan baru selepas pandemi corona.

“Bagaimana kurikulum dan skema pencapaian kompetensi sumber daya manusia dirancang bersama. Jadi, perubahan industri bergeser ke kondisi kenormalan baru, juga harus diikuti dinamikanya oleh kampus dan kurikulumnya,” ujar Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto melalui telekonferensi di Jakarta, Rabu (27/5/2020).

Wikan menyebut konsep itu ‘Paket Pernikahan’. Paket tersebut terdiri dari beberapa bagian. Pertama, kurikulum disusun bersama industri, di mana materi training dan sertifikasi di industri masuk resmi ke dalam kurikulum di kampus.

Kedua, dosen tamu dari industri rutin mengajar di kampus. Kemudian, program magang yang terstruktur dan dikelola bersama dengan baik. Keempat, yaitu komitmen kuat dan resmi pihak industri menyerap lulusan.

Kelima, program beasiswa dan ikatan dinas bagi mahasiswa. Keenam, bridging program di mana pihak industri memperkenalkan teknologi dan proses kerja industri yang diperlukan kepada para dosen sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan oleh pihak industri.

Selanjutnya, sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan oleh pendidikan tinggi bersama industri. Kedelapan, joint research yaitu riset terapan dengan dosen yang berasal dari kasus nyata di industri. Terakhir, berbagai kegiatan/program ‘pernikahan’ lainnya.

“Nomor 1 sampai dengan nomor 6 adalah paket ‘pernikahan’ minimum. Nomor 7 sangat diharapkan terwujud, serta nomor 8 dan seterusnya, sangat baik bila terwujud,” jelas Wikan.

Selain riset terapan, kampus juga didorong untuk melakukan program-program pengabdian masyarakat berbasis teknologi terapan untuk berperan dalam meringankan beban masyarakat selama pandemi berlangsung.

Saat ini, kata Wikan, sudah terjadi beberapa pernikahan antara kampus dengan industri pengguna lulusannya. Bahkan, ada yang sudah mencapai ‘Paket Pernikahan’ yang lengkap.

Salah satu contoh yang sudah melaksanakan skema lengkap adalah PT PLN Persero bersama Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS), Sekolah Vokasi UGM dan Sekolah Vokasi UNDIP. Dari pernikahan tersebut, mereka bersama-sama mendirikan program studi (prodi) Sarjana Terapan (D4) Teknik Elektro yang khusus berfokus pada teknologi distribusi atau jaringan listrik.
(dam)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak