Gelar Dialog, Ayo Mengajar Indonesia Ajak Cegah Intoleransi dan Radikalisme
Sabtu, 24 April 2021 - 18:21 WIB
loading...
A
A
A
“Ayo mengajar Indonesia harus membuat anak-anak peserta didik tidak kecut, harus mengajarkan pemahaman keagamaan yang moderasi, dan toleransi, serta pemerintah harus inisiatif agar guru-guru diberikan pelatihan tentang Pancasila dan nasionalisme sehingga dalam pengajarannya bisa memberikan nilai-nilai toleransi. Saya mengapresiasi gerakan Ayo Mengajar Indonesia ini, agar bisa menekankan perbaikan karakter,” tuturnya.Baca juga: Eks Pelajar Suriah asal Indonesia Ungkap Bahaya Radikalisme di Kalangan Anak Muda
Sementara itu, pakar pendidikan dan Wakil Sekjen PB PGRI Jejen Musfah menyampaikan bahwa pendidikan karakter bisa melalui tiga cara, yakni modeling, kebiasaan, pengajaran. “Radikalisme itu benih-benihnya dari intoleransi, jika model pengajarannya inklusif atau kolaboratif atau pembelajaran aktif, saya rasa akan berkurang rasa intoleransi,” ujarnya.
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigjen Polisi Ahmad Nurwakhid mengatakan jangan membiarkan intoleransi berkeliaran di masyarakat umum, apalagi memfitnah dan menjelakan satu sama lain. "Satu sama lain harus saling mengenal satu sama lain, satu sama lain harus menghargai, saling menyayangi, dan jangan biarkan intoleransi merajalela, karena intoleransi adalah embrio radikalisme dan terorisme,” katanya.
Peserta dialog dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, serta relawan Ayo Mengajar Indonesia. Peserta yang hadir secara offline 30 orang, hadir dalam online ada 300 orang.Baca juga: Antisipasi Informasi Tak Sehat, Kominfo Luncurkan 4 Modul Literasi
Sementara itu, pakar pendidikan dan Wakil Sekjen PB PGRI Jejen Musfah menyampaikan bahwa pendidikan karakter bisa melalui tiga cara, yakni modeling, kebiasaan, pengajaran. “Radikalisme itu benih-benihnya dari intoleransi, jika model pengajarannya inklusif atau kolaboratif atau pembelajaran aktif, saya rasa akan berkurang rasa intoleransi,” ujarnya.
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigjen Polisi Ahmad Nurwakhid mengatakan jangan membiarkan intoleransi berkeliaran di masyarakat umum, apalagi memfitnah dan menjelakan satu sama lain. "Satu sama lain harus saling mengenal satu sama lain, satu sama lain harus menghargai, saling menyayangi, dan jangan biarkan intoleransi merajalela, karena intoleransi adalah embrio radikalisme dan terorisme,” katanya.
Peserta dialog dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, serta relawan Ayo Mengajar Indonesia. Peserta yang hadir secara offline 30 orang, hadir dalam online ada 300 orang.Baca juga: Antisipasi Informasi Tak Sehat, Kominfo Luncurkan 4 Modul Literasi
(dam)
Lihat Juga :