Menemukan dan Membangun “Passion dalam Dunia Profesional

loading...
Menemukan dan Membangun “Passion” dalam Dunia Profesional
Muhamad Ali (Foto: Istimewa)
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital

KETIKA Bill Gates dan Steve Jobs sedang berada di puncak pencapaian mereka masing-masing, terdapat arus besar yang menjadi acuan bagi anak-anak muda kala itu untuk mencapai sukses dalam hidup seperti dua nama besar di dunia teknologi tersebut. Bill Gates dengan kerajaan Microsoft-nya dan Steve Jobs dengan imperium Apple-nya.

Namun ada suatu kesalahan persepsi yang juga muncul bahwa kesuksesan seseorang––dengan mengacu pada apa yang dicapai oleh Gates dan Jobs—tidak memerlukan suatu gelar akademik yang mentereng. Kebetulan, keduanya tidak pernah menamatkan pendidikannya di universitas. Lalu muncul anggapan bahwa gelar akademik tidaklah penting.

Fakta “kebetulan” bahwa keduanya sukses sekaligus tidak lulus sarjana, tentu saja dua hal yang berbeda dan tidak saling berhubungan. Sukses tidak berarti harus tidak lulus sarjana. Namun keduanya juga memberikan pelajaran hidup bahwa untuk sukses tidak harus menjadi sarjana.

Apa faktor paling penting untuk mencapai sukses? Jika ditelusuri lebih mendalam, juga berangkat dari perjalanan hidup dua nama besar tersebut, saya melihat bahwa keduanya menjadi manusia sukses karena mampu menjawab dengan baik beberapa prinsip berikut ini. Pertama, untuk menjadi sukses, orang harus mengetahui nilai-nilai hidup apa yang paling diyakini dan paling memengaruhi hidup.



Kedua, mereka bisa menemukan tujuan spesifik di dalam hidup. Seperti apa tujuan spesifik itu contohnya? Berinovasi terus-menerus? Mengalahkan orang lain? Membalas kebaikan orang tua? Mencari jabatan?

Ketiga, untuk menjadi sukses, orang harus menentukan prioritas-prioritas di dalam hidup. Namanya prioritas, tentu saja pilihannya sesedikit mungkin, karena dengan pilihan semakin sedikit, fokusnya semakin tajam.

Keempat, untuk menjadi sukses, orang harus mengenali minat yang paling besar, bakat yang paling menonjol, kemampuan dan keahlian yang paling dikuasai, keterampilan yang paling dapat diandalkan. Lebih dari itu, orang juga harus dapat mengenali kekurangan-kekurangan yang melekat dalam diri masing-masing!

Itulah empat prinsip paling penting, yang menurut saya harus digali sejelas-jelasnya oleh setiap orang yang sedang mulai membangun karier di dunia profesional, sehingga mereka dapat menemukan passion yang paling cocok sebagai jalan hidup mereka yang terentang panjang puluhan tahun di depan.

Seringkali kita membaca suatu kisah, betapa karier seseorang sangat cemerlang, tapi sebaliknya juga sangat tidak cemerlang pada awalnya. Jack Ma, nama masyhur lain di luar Gates dan Jobs, adalah contoh terbaik bagaimana dia mengejar passion dalam hidupnya. Berkali-kali Jack Ma gagal mendapatkan pekerjaan. Berkali-kali pula tidak berhasil memperoleh beasiswa yang ia inginkan atau kejar. Namun setelah bertahun-tahun kemudian, dengan menggunakan kegagalan-kegagalan itu sebagai daya ungkit untuk mencapai apa yang dia inginkan, Jack Ma menjadi salah satu orang paling sukses dari Tiongkok.



Namun pertanyaan mendasarnya, apa itu passion? Dia, dalam gambaran saya, adalah suatu hasrat, keinginan, dorongan, yang membuat setiap orang dapat mengeluarkan seluruh pikiran dan kemampuanmu, dan semua itu mereka lakukan dengan gembira. Passion adalah hal yang jika dipikirkan, didiskusikan, dikerjakan, pasti melibatkan emosi dan semangat yang meluap-luap.

Passion, dengan demikian, justru menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan tertinggi dalam pencapaian hidup manusia. Dan, seringkali kita menyaksikan, kisah-kisah keberhasilan seseorang dalam skala atau level apapun, dalam bidang atau jenis pekerjaan apapun, pada umumnya bersumber pada keberhasilan mencari jawaban atas empat prinsip sukses.

Pendidikan di Indonesia, juga di mana pun di seluruh lembaga pendidikan formal, saya lihat sering kali membuat anak-anak didik menjadi manusia yang seragam. Manusia dengan cita-cita dan tujuan hidup yang sama. Manusia dengan prioritas-prioritas hidup yang mirip. Model pendidikan formal, bahkan sejak pada tingkat dini, sering kali gagal untuk memperkembangkan passion yang dimiliki setiap orang. Bahkan untuk menemukan minat dan kemampuan dari tiap anak didik pun sistem pendidikan belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan.

Oleh karena itu tantangan bagi setiap anak muda hari ini adalah membuat dan membuka ruang sebanyak mungkin di luar pendidikan formal, yang mampu menggali dan menemukan apa passion terdalam dalam hidup mereka.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top