Paham Teror Makin Mudah Merongrong

loading...
Paham Teror Makin Mudah Merongrong
Kasus ledakan bom di Gereja Katedral Makassar mengindikasikan sel-sel teroris masih terus mengancam. (Ilustrasi: SINDOnews/Wawan Bastian)
TERUNGKAPNYA pelaku teror bom di depan Gereja Katedral, Kota Makassar, yang diketahui sebagai pasangan suami istri membuat kita tersentak. Aksi keji di saat umat Katolik sedang beribadah itu ternyata dilakukan orang yang masih berusia sangat muda.

Lukman,26, sang pelaku diketahui belum genap setahun menikah dengan Yogi Sahfitri Fortuna, 26. Sejak saat itu pula, para tetangga menilai ada banyak perubahan dalam perangai sehari-hari pasangan tersebut. Sejatinya, bukan kali ini saja fenomena sepasang suami istri menjadi “pengantin bom” muncul. Kita masih ingat, rentetan ledakan bom di tiga gereja Kota Surabaya pada 13 Mei 2018 lalu juga dilakukan suami istri, yakni Dita Upriyanto, 48, dan Puji Kuswati, 43. Hal yang memprihatinkan, aksi Dita dan Puji juga melibatkan empat anaknya. Bahkan sehari setelah kasus ini, aksi suami istri, yakni Tri Murtono, 50, dan Tri Ernawati juga melakukan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Duo Tri dan dua anaknya pun tewas.

Pada 15 Juli 2018, pasangan suami istri juga diketahui melakukan bom panci di Mapolres Indramayu. Pada 10 Oktober 2019, penikaman terhadap Menko Polhukam Wiranto saat kunjungan ke Pandeglang, Banten, juga dilakukan oleh anak muda sekaligus sepasang suami istri, Syahrial Alamsyah (Abu Rara), 31, dan Fitria Diana, 21.

Hal yang justru membuat kita makin prihatin adalah dari rentetan peristiwa bom dengan pelaku suami istri itu, diketahui proses persiapannya pendek, bahkan sangat singkat. Pendek dari proses indoktrinasi, training, simulasi hingga eksekusi.

Kasus Lukman dan Sahfitri, pelaku bom Makassar, misalnya, jika perubahan perilaku terlihat enam bulan, maka hakikatnya indoktrinasi dan kematangan pelaku untuk benar-benar menjadi pengantin tak jauh dari kurun waktu tersebut. Bahkan yang membuat kita makin tercengang, kematangan aksi mereka tak lagi bertumpu pada jaringan offline seperti lewat guru, atau senior semata. Mereka sudah makin lentur untuk mendapatkan sumber pengetahuan dan ideologi. Kemampuan Lukman membuat bom yang diduga kuat hasil utak atik di internet adalah salah satu buktinya. Selain itu, seperti dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangn Terorisme (BNPT) Boy Rafly Amar, kemampuan pasangan ini membuat bom juga belajar pelatihan di internet dari seniornya.



Tentu sebenarnya tidak hanya Lukman yang melakukan pola ini. Beberapa pelaku yang ditangkap aparat sebelum dia juga memperkuat tren ini. Namun yang justru patut diwaspadai, di balik insiden bom gereja Katedral Makassar, sejatinya banyak “Lukman” lain yang masih berkeliaran. Umur mereka pun muda, bahkan tergolong generasi milenial.

Memang sudah tepat langkah aparat yang tak henti melakukan langkah preventif dengan meringkus lebih dini para terduga pengantin bom seperti yang intensif dilakukan beberapa minggu jelang kasus Gereja Katedral. Langkah ini menunjukkan bahwa aparat mampu mendeteksi sel-sel aktif terorisme yang berpotensi membahayakan negara.

Namun terlepas dari prestasi yang tercatat itu, kasus Katedral menunjukkan bahwa masih ada bolong-bolong. Di sinilah, tuntutan agar aparat memiliki sistem, teknologi, SDM serta piranti yang makin memadai menjadi kian urgen. Bahwa ideologi radikalisme dan terorisme diyakini akan terus ada sepanjang faktor pemicunya tidak diatasi dengan komprehensif. Dengan modal kesadaran itu, maka sepanjang itu pula para aktor-aktornya akan terus bergerak dan bermetamorfosa dengan menyesuaikan situasi maupun teknologi.

Di tengah fakta ini, negara melalui aparatnya sudah seharusnya membuat pola antisipasi yang strategis. Termasuk mengontrol ketat konten di internet yang saat ini menjadi andalan mereka untuk memuluskan aksinya.

Hal yang tak kalah penting, upaya deradikalisasi juga harus terus menjadi perhatian. Anak-anak muda yang menjadi pelaku lazimnya mudah untuk dipengaruhi dengan paham tertentu. Di sinilah, banyak pihak perlu diajak untuk berkolaborasi, baik orang tua, tokoh agama, guru, dan masyarakat tentunya. Perang terhadap terorisme adalah perang bersama yang membutuhkan kesadaran kolektif.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top