Waspada Potensi Tsunami, LIPI: Keterampilan Evakuasi Mandiri Wajib Dimiliki

loading...
Waspada Potensi Tsunami, LIPI: Keterampilan Evakuasi Mandiri Wajib Dimiliki
Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto mengatakan bencana tsunami memiliki potensi berulang. Foto/Ilustrasi Tsunami Banten/SINDOnews
JAKARTA - Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto mengatakan bencana tsunami memiliki potensi berulang. Oleh karena itu wilayah Indonesia yang sudah pernah terdampak tsunami bisa jadi masih akan berpotensi terjadi tsunami lagi.

(Baca juga: Terungkap, Kapolri Listyo Sigit dan Panglima TNI dari Keluarga TNI AU)

"Ada hal yang harus diperhatikan bahwa di suatu daerah yang sudah mengalami tsunami besar sekalipun seperti di Aceh misalnya pada tahun 2004, itu tidak berarti kemudian aman. Karena kemudian tsunami 2004 adalah tsunami besar yang dipicu oleh gempa 9 magnitudo yang perulangannya adalah panjang," ungkap Eko dalam diskusi Sapa Media: Masyarakat Siaga Bencana 2021 secara virtual, Jumat (29/1/2021).

(Baca juga: Ada Potensi Tsunami Dahsyat, Peneliti LIPI Kritik Kebijakan di Selatan Jawa)



Eko mengatakan di dalam perulangan periode tsunami yang panjang itu, ada gempa-gempa lain yang skalanya magnitudonya lebih kecil yang bisa juga memicu tsunami. "Dan ini yang kita temukan di Teluk Busung yang menunjukkan adanya endapan tsunami pada 2004 dan tsunami 2005," katanya.

"Nah, yang perlu kita perhatikan ketika belajar dari gempa 2009 yang melanda Padang pada 30 September misalnya, tsunami bisa melanda sebelum peringatan dini Ina-TEWS diterima oleh masyarakat," kata Eko.

Karena, kata Eko, boleh jadi ada wilayah-wilayah Indonesia yang memang memiliki jarak antara gempa hingga tsunami mencapai daratan sangat pendek kurang dari 10 menit. “"Namun boleh jadi juga ada keterlambatan dalam mendistribusikan informasi dari peringatan dini itu. Katakanlah sistem komunikasi dan sebagainya," katanya.

Sehingga, tegas Eko, masyarakat Indonesia yang wilayahnya berhadapan langsung dengan tsunami harus memiliki keterampilan untuk evakuasi mandiri.

"Sehingga jadi perhatian kita, dimana wilayah Indonesia yang berhadapan langsung dengan sumber tsunami sangat dekat, keterampilan untuk evakuasi mandiri menjadi hal yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Yaitu keterampilan untuk bisa melakukan evakuasi dengan berbasis guncangan gempa," jelasnya.

Tentunya, jelas Eko, masyarakat harus sedikit bisa membedakan guncangan gempa yang kira-kira memicu tsunami. "Ciri-cirinya sudah pasti kita tahu adalah bahwa guncangan gempa yang memicu tsunami kecil bisa sangat keras goncangannya, tapi tidak selalu. Karena ada yang disebut sebagai tsunami earthquake, dimana tsunami dengan guncangan gempanya lemah tapi sebenarnya gempa itu magnitudonya cukup besar untuk memicu tsunami," katanya.



Eko mengatakan yang perlu diperhatikan dalam kondisi itu adalah lamanya guncangan gempa. "Mau keras, mau lemah guncangannya kalau cukup lama, katakanlah lebih dari 30 detik, maka boleh jadi gempa itu bisa memicu tsunami kalau kita sedang berada di pantai," tutupnya.
(maf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top