1 Juta Kasus Korona, Kita Jangan Hanya Terkejut

loading...
1 Juta Kasus Korona, Kita Jangan Hanya Terkejut
Satgas Penanganan Covid-19 mencatat, jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air kemarin sudah mencapai 1.012.350. (Ilustrasi: SINDONews/Wawan Bastian)
ANGKA kasus positif Covid-19 di Indonesia telah menembus 1 juta orang. Jika merujuk pada data Satgas Penanganan Covid-19 kemarin, jumlah kasus terakhir sudah mencapai 1.012.350.

Tak dinyana, eskalasi angka ini begitu cepat, bahkan tak genap 11 bulan. Namun yang membuat miris, di balik angka-angka ini, juga ada puluhan ribu saudara kita yang telah dikuburkan. Mereka tak kuasa melawan serangan virus baru yang disebut-sebut berasal dari China dan hingga kini belum ditemukan obatnya itu.

Tidak hentinya kasus baru korona di Indonesia membuat kita kian prihatin. Indonesia pun tercatat menjadi salah satu negara pemasok besar angka Covid-19 di dunia. Per kemarin, kasus positif korona di dunia telah mencapai 100 juta.

Satu juta kasus membuat kita terpana. Namun sedemikiankah angka itu begitu cepat menanjak laksana lompatan kilat? Sudahkah 1 juta kasus itu mendeskripsikan kekuatan bangsa ini sebenarnya? Apakah pula di tengah pengelolaan data korona Indonesia yang masih semrawut, kebijakan publik yang tepat sudah tercipta?



Pertanyaan dan harapan publik ini memang tidak sederhana. Namun kita semua tidak bisa terus leha-leha, apalagi coba-coba. Tembusnya kasus korona hingga 1 juta kasus tak cukup direspons dengan keterkejutan dan kekagetan saja. Di balik itu ada tantangan besar yang hakikatnya dihadapi bangsa ini segera.

Di level global, wabah ini belum teratasi. Harapan terbesar masyarakat dunia hingga kini lebih banyak disandarkan pada efikasi vaksin, apa pun itu namanya. Karena masih bersifat sementara, artinya belum ada obat atau ramuan yang terbukti manjur untuk membasmi virus korona. Fungsi vaksin pun sejatinya hanya pelindung agar tubuh lebih kuat dari ancaman korona.

Dengan situasi yang rentan ini, dibutuhkan respons pemerintah secara cepat sekaligus tepat. Cepat berarti membuat mitigasi penanganan yang antisipatif. Dengan cara ini lubang-lubang masalah cepat diketahui dan tak menyisakan persoalan di kemudian hari. Tepat bermakna komprehensif dan membumi. Cara demikian menghindarkan kebijakan pemerintah yang tumpang tindih atau bahkan tak efektif layaknya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), atau syarat tes Covid-19 di moda transportasi.



Di tengah keterbatasan itu, membuat kebijakan yang cepat dan tepat adalah keharusan. Jangan lagi kebijakan yang muncul malah kontraproduktif dan merugikan masyarakat. Apalagi kebijakan yang menitikberatkan kepentingan segelintir kelompok tertentu, termasuk sekadar membangun citra. Untuk menuju itu dibutuhkan diskusi dan deliberasi berbagai stakeholder, termasuk masyarakat, sebelum sebuah regulasi itu dibuat.

Sekali lagi 1 juta kasus hakikatnya kembali kepada kita semuanya. Akankah angka itu menjadi data statistik saja? Atau angka itu sudah merepresentasikan profil bangsa ini yang sejati? Tidak mudah memang menghadapi wabah besar ini. Dibutuhkan kesadaran tinggi, kolaborasi, dan sinergi. Di lain sisi, perlahan virus korona bukan menjauh, tetapi terus kian dekat. Bahkan virus ini menerabas orang-orang yang begitu memiliki kesadaran dan pengawasan tinggi atas ancamannya.

Kasus yang menimpa Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo baru-baru ini menjadi salah satu buktinya. Jika tokoh-tokoh yang begitu ketat menjaga protokol kesehatan akhirnya terkena, tentu bahaya yang lebih besar hakikatnya mengancam khalayak. Apalagi setelah 11 bulan dikungkung korona, banyak warga masyarakat mulai jengah, lelah, dan kian tak peduli dengan regulasi-regulasi karena merasa tak banyak berarti.

--
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top