BAPPISUS, Pengendali Pembangunan dan Mata-Telinga Presiden Prabowo

Kamis, 07 Agustus 2025 - 15:11 WIB
loading...
BAPPISUS, Pengendali...
Yasmin N. H, Pakar Perang Asimetris sekaligus Alumni Sekolah Master Pertahanan Universitas Pertahanan. Foto/Istimewa
A A A
Yasmin N. H.
Pakar Perang Asimetris, Alumni Sekolah Master Pertahanan Universitas Pertahanan

DALAM lanskap birokrasi pemerintahan yang semakin kompleks, kehadiran Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) menjadi manuver strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mengembalikan efektivitas kendali negara terhadap pembangunan. Sebagaimana era Presiden Soeharto pernah memiliki Sekretaris Pengendali Operasi Pembangunan (Sesdalopbang) yang legendaris, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang gesit dalam melakukan debottlenecking, maka BAPPISUS hari ini bukan hanya warisan kelembagaan, tapi transformasi dari kebutuhan nasional.

BAPPISUS bukan lembaga yang hadir untuk menggantikan peran auditor seperti BPKP atau penegak hukum seperti KPK. Ia diciptakan untuk mengisi celah yang selama ini kerap jadi biang stagnasi: lemahnya fungsi pengendalian dan troubleshooting di level eksekusi. Di sinilah letak posisi strategis BAPPISUS, ia menjadi “mata dan telinga Presiden” terhadap seluruh proses pembangunan nasional. Bukan sekadar pelapor, BAPPISUS adalah pengendali aktif, pengawas teknis, pemecah masalah, sekaligus pencegah dini terhadap kegagalan proyek negara.

Fungsi utama yang patut disorot adalah pengendalian pembangunan. Dalam praktiknya, pengendalian bukan sekadar memantau atau melaporkan progres, melainkan memastikan bahwa seluruh kegiatan pembangunan berjalan sesuai prioritas presiden, dengan kualitas dan kecepatan yang terukur. Ketika birokrasi tersendat, ketika lintas kementerian tersangkut ego sektoral, dan ketika rakyat mulai mengeluh karena proyek tidak kunjung menyentuh mereka, di sinilah BAPPISUS bekerja.

Dalam Perpres No. 159 Tahun 2024, BAPPISUS diberi mandat langsung oleh Presiden untuk mengawal pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan. Fungsi ini jauh lebih kuat daripada lembaga pengawas pasca-fakta. BAPPISUS hadir dalam proses, bukan hanya hasil. Ini berarti mereka bisa mengintervensi lebih dini, bahkan sebelum masalah menjadi skandal. Pendekatan ini menjadikan BAPPISUS sebagai garda depan dalam menjaga kredibilitas pemerintahan Prabowo di mata publik.

Presiden Prabowo menyadari bahwa birokrasi Indonesia kerap lamban dan mempersulit, alih-alih melayani. Kritik ini disampaikan secara terbuka dalam sidang kabinet. Maka pembentukan BAPPISUS adalah jawaban terhadap kritik itu: lembaga ini bukan tambahan birokrasi, tapi tim reaksi cepat. Ketika bottleneck ditemukan, saat ada ketidaksesuaian spesifikasi proyek, atau ketika ada hambatan lapangan, BAPPISUS turun langsung ke lokasi, bekerja bersama kementerian/lembaga, mencari solusi, dan mengembalikan pembangunan ke jalur semula.

Tugas ini mengingatkan kita pada peran Sesdalopbang di masa Soeharto, yang sempat dijabat oleh tokoh sekelas Solihin GP. Kala itu, Sesdalopbang bisa menindaklanjuti langsung temuan lapangan, menyusun solusi lintas kementerian, bahkan menjadi pendamping harian presiden dalam pengambilan keputusan pembangunan. Begitu juga UKP4 di masa SBY, dengan Kuntoro Mangkusubroto sebagai otaknya, menjadi kekuatan kendali operasional atas program prioritas nasional.

Kini, di bawah Aries Marsudiyanto, BAPPISUS mewarisi semangat itu namun dengan dimensi kekinian yang lebih adaptif dan taktis. Dengan dukungan struktur yang ramping, profesional, dan fleksibel, BAPPISUS tidak terjebak dalam birokrasi struktural yang kaku. Ia dapat bergerak cepat, melakukan investigasi atas hambatan pembangunan, dan menyusun rekomendasi presisi yang langsung diterima Presiden. Peran ini tidak mungkin dilakukan oleh lembaga audit biasa yang terikat prosedur dan hierarki reguler.

Yang membedakan BAPPISUS dengan pendahulunya adalah keberanian untuk masuk ke ranah investigasi teknis di lapangan. Misalnya, dalam program pembangunan infrastruktur atau transformasi digital desa, BAPPISUS dapat memetakan faktor penghambat, baik dari aspek regulasi, kelemahan kontraktor, hingga kendala geografis, dan segera menyusun aksi korektif. Bahkan bila perlu, BAPPISUS bisa meminta data dan melakukan sinkronisasi dengan kementerian/lembaga, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 35 Perpres-nya.

Secara kelembagaan, BAPPISUS berada langsung di bawah Presiden dan menjadi bagian dari Lembaga Kepresidenan. Kedudukannya sejajar kementerian, namun fungsinya sangat operasional dan strategis. Ini mencerminkan komitmen Presiden Prabowo untuk menghadirkan pengawasan berbasis kepentingan rakyat, bukan sekadar prosedur administratif. Keterlibatan langsung Presiden dalam penugasan BAPPISUS juga menunjukkan bahwa lembaga ini bukan tempelan birokrasi, melainkan alat kendali politik-pembangunan yang vital.

Adanya figur seperti Aries Marsudiyanto, dengan latar belakang militer dan kedekatan personal dengan Presiden, menambah dimensi loyalitas dan disiplin yang tinggi dalam pelaksanaan tugas. Dalam konteks ini, kepercayaan penuh dari presiden kepada kepala BAPPISUS menjadi modal penting dalam menjaga integritas fungsi lembaga. Seperti halnya Tjokropranolo di masa Soeharto atau Kuntoro di era SBY, peran personal leadership juga menjadi penentu efektivitas lembaga.

Namun lebih dari soal figur, keberadaan BAPPISUS adalah cermin dari kebutuhan zaman: pembangunan yang terukur, akuntabel, dan tepat sasaran. Dengan tantangan pembangunan yang makin kompleks, mulai dari digitalisasi, percepatan infrastruktur, hingga tata kelola desa dan anggaran daerah, maka peran pengendali pembangunan yang aktif, berani, dan tidak ragu turun ke lapangan menjadi sangat relevan.

Dalam konteks ini, BAPPISUS tidak hanya sekadar lembaga pemantau. Ia adalah eksekutor kebijakan pengawasan pembangunan yang gesit. Ia adalah jembatan antara visi presiden dan eksekusi di lapangan. Ia adalah pengawal agar uang negara benar-benar sampai kepada rakyat. Dengan kerja yang konkret dan berdampak, BAPPISUS dapat menjadi garansi bahwa pembangunan era Prabowo tidak hanya banyak, tapi juga berkualitas dan tepat guna.

Keberadaan BAPPISUS bisa dimaknai sebagai bentuk modernisasi dari konsep development control unit yang pernah hidup di berbagai era. Ia bukan sekadar nostalgia kelembagaan dari zaman Soeharto atau SBY, melainkan kebutuhan baru yang muncul dari kesadaran bahwa pembangunan harus dikendalikan, bukan hanya direncanakan. Dengan pendekatan problem-solving, lapangan, dan koordinatif, BAPPISUS berpeluang besar menjadi poros pengendali pembangunan nasional yang efektif.

Dalam dunia yang cepat berubah dan menuntut hasil nyata dari negara, BAPPISUS menjelma sebagai instrumen vital kepemimpinan Presiden Prabowo untuk memastikan bahwa pembangunan bukan hanya wacana, tapi aksi nyata yang sampai ke rakyat. Penguatan lembaga ini adalah penguatan kendali negara atas masa depan Indonesia.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Terima Surat...
Prabowo Terima Surat Kepercayaan 9 Duta Besar Negara Sahabat
Wamenlu Ungkap Prabowo...
Wamenlu Ungkap Prabowo Minta Maaf soal Terlambat Menerima Surat Kepercayaan Dubes
Prabowo Tegaskan Politik...
Prabowo Tegaskan Politik Bebas Aktif saat Bertemu 8 Dubes di Istana
Buku Presiden Solusi...
Buku Presiden Solusi Catat 108 Kebijakan, Qodari: Prabowo Menyasar Akar Persoalan Bangsa
Presiden Prabowo Terima...
Presiden Prabowo Terima 8 Duta Besar Negara Sahabat di Istana Merdeka
Tangis Nanik S Deyang...
Tangis Nanik S Deyang Pecah setelah Dilantik Prabowo sebagai Kepala BGN
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
Prabowo Panggil Chatib...
Prabowo Panggil Chatib Basri ke Istana, Ada Apa?
Momen Siswa SRMP 17...
Momen Siswa SRMP 17 Tabanan Curhat ke Prabowo
Rekomendasi
PMGO 2026 Cetak Rekor...
PMGO 2026 Cetak Rekor Guinness, Lebih dari 1,2 Juta Pendaftar Turnamen
Siap Uji Nyali? Ini...
Siap Uji Nyali? Ini Deretan Rekomendasi Microdrama Horor di V+Short
Dasco Ungkap Tujuan...
Dasco Ungkap Tujuan Prabowo Panggil Chatib Basri-Luhut ke Istana
Berita Terkini
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Konstruksi Perkara Suap...
Konstruksi Perkara Suap Bupati Muara Enim, KPK: Ada Uang Rp500 Juta untuk Jaga Hubungan Baik
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Polemik Voters Munas...
Polemik Voters Munas HIPMI Mengemuka: BPD DOB Pertanyakan Dasar Pengurangan Hak Suara
Geledah Kantor Wika,...
Geledah Kantor Wika, Kortas Tipikor Polri Sita Dokumen hingga Barbuk Elektronik
Ajukan JC di Kasus Korupsi...
Ajukan JC di Kasus Korupsi MBG, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Sebut 26 Nama di BAP
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved