alexametrics

Jeritan Hati Seorang Dokter

loading...
Jeritan Hati Seorang Dokter
Petugas PMI membawa tulisan Kami Tetap Bekerja Untuk Kalian, Kalian Tetap di Rumah Untuk Kami di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2020. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
A+ A-
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

SAAT ini negara dalam suasana darurat perang asimetris. Bukan militer lawan militer, senjata lawan senjata; melainkan yang dilawan adalah virus, makhluk teramat kecil ukuran nano yang tak bisa dideteksi wujud dan gerakannya dengan teknologi yang ada. Pasukan militer dengan peralatan senjata supercanggih ternyata kewalahan menghadapi virus Covid-19.

Kini ujung tombak pasukan tempur itu digantikan oleh tenaga medis. Sekian ribu dokter, perawat, dan tenaga medis lain dikerahkan untuk memeriksa dan merawat pasien korona. Sekian banyak rumah sakit merasa kewalahan menerima kunjungan pasien.



Mendengarkan cerita dan keluhan para tenaga medis itu, hati ikut merasa pilu. Mereka terikat sumpah dokter dan panggilan moral tidak boleh dan tidak tega lepas tangan menghadapi sekian ratus pasien yang terkena wabah korona.Problemnya, dan ini sangat eksistensial, pasien itu datang tidak sekadar berobat layaknya pasien biasa, mereka juga membawa virus yang mudah sekali bermutasi sehingga mengancam keselamatan dokter dan tenaga medis lainnya serta siapapun yang bersentuhan dengannya.
Sebagai pasukan ujung tombak yang berada di garis terdepan, para tenaga kesehatan itu bekerja dengan risiko sangat tinggi karena ancaman penularan virus. Mereka itu antara lain para dokter, perawat (paramedis), petugas laboratorium, radiologis, petugas administrasi, tenaga kebersihan, dan petugas gizi yang mengantar makanan. Beberapa dokter telah meninggal dan sekian tenaga kesehatan lain ambruk karena tertular.

Ketika meninggal, sesuai protokol kesehatan, jenazahnya langsung dibungkus rapat dan dimasukkan liang kubur tanpa upacara keagamaan yang dihadiri keluarga dan tetangga pada umumnya untuk menghindari penyebaran virus korona yang menempel. Padahal, mereka itu orang-orang terhormat dan menjadi tulang punggung keluarga. Yang juga memilukan, ketika dalam perawatan di rumah sakit, pihak keluarga tidak boleh mendekat.

Cerita lain yang sangat menyentuh perasaan, para tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 itu ketika hendak pulang ke rumah mesti ekstrahati-hati, jangan sampai menularkan virus ke rumah. Keintiman dan spontanitas melepas rindu pada keluarga terampas, padahal mereka letih sehabis bekerja bertaruh nyawa.

Bagi para tenaga medis, situasi rumah sakit menjadi seram dan menakutkan oleh ancaman hantu virus mematikan. Sementara mereka ketika pulang ke rumah, mesti menjaga agar kondisi rumah tangga steril dari virus yang sangat mungkin menempel pada dirinya. Sebuah situasi dilematis yang membuat pilu dan letih.

Berita lain yang saya terima, beberapa tenaga medis seperti perawat, petugas administrasi, dan petugas kebersihan yang pada indekos atau sewa rumah kontrakan dekat rumah sakit tempat bekerja, oleh pemiliknya disetop tidak boleh melanjutkan setelah tahu mereka bekerja di rumah sakit rujukan. Dikhawatirkan, mereka menyebarkan virus sehingga bisnis kontrakan terancam tutup. Tentu saja tidak hanya tenaga medis yang saat ini dirundung galau dan kekhawatiran.

Namun yang ingin saya sampaikan, para dokter itu merasa geram dan kasihan pada perilaku masyarakat yang tidak menaati aturan untuk melakukan social distancing. Mereka masih datang ke tempat keramaian, tidak disiplin jaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Menganggap enteng pada ancaman virus korona.

Melihat perjuangan dan pengorbanan para tenaga medis, mestinya aparat pemerintah dan para politisi ikut mendukung mereka dengan turun ke bawah memberi peringatan kepada masyarakat yang masih bandel. Bantuan alat pelindung diri (APD), vitamin, dan makanan bergizi sangat dibutuhkan oleh mereka.

Saya sendiri merasa sedih ketika kegentingan virus korona ini justru digoreng menjadi isu politik oleh para buzzers dan ada pedagang yang mengambil keuntungan dengan menumpuk barang kebutuhan pokok untuk menaikkan harga dan melipatgandakan keuntungan pribadi.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak