alexametrics

Yuri: Screening Massal Terus Dilakukan untuk Deteksi Corona

loading...
Yuri: Screening Massal Terus Dilakukan untuk Deteksi Corona
Juru Bicara Pemerintah Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto . Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah Penanganan Virus Corona (COVID-19) Achmad Yurianto menegaskan pemerintah terus mengupayakan pelaksanaan deteksi dini melalui screening massal.

“Kita sudah mengupayakan untuk pelaksanaan deteksi dini. Kita sudah melakukan upaya untuk melaksanakan pemeriksaan massal, screening namanya,” ungkap Yuri di Graha BNPB, Jakarta (26/3/2020).(Baca juga: Corona Terus Makan Korban, 893 Orang Terinfeksi, 78 Meninggal Dunia)

Screening yang dilakukan pemerintah adalah dengan menggunakan metode rapid test atau pemeriksaan cepat, ini ditujukan untuk segera menemukan dugaan kasus positif. “Karena kepastian adanya kasus positif adalah melalui pemeriksaan virus secara langsung yang kita lakukan dengan menggunakan swap pada dinding hidung ataupun pada dinding belakang dari tenggorokan kita,” jelas Yuri. (Baca juga: Perang Melawan Corona, Indonesia Butuh 1.500 Dokter dan 2.500 Perawat)



Swap ini dilakukan dengan prosedur yang khusus yakni, pemeriksaan yang sebut dengan Real Time PCR. Tetapi, kata Yuri, pemeriksaan rapid test juga menjadi penting. “Dengan pemeriksaan antibodi memang memiliki beberapa kekurangan tetapi inilah sebagai upaya kita untuk melakukan screening awal di dalam konteks untuk melakukan pengawasan terhadap dugaan kasus positif,” katanya.

Sehingga rapid test yang dilaksanakan dengan menggunakan sampel darah itu ditujukan adalah untuk menindaklanjuti hasil penelusuran kontak. “Harapan kita bahwa kontak dekat dari kasus positif yang sudah terkonfirmasi dan kita rawat di rumah sakit bisa kita tindak lanjuti dengan penelusuran dan mencari kemungkinan adanya kasus positif yang lain di masyarakat,” jelas Yuri.

Namun, Yuri mengatakan hasil pemeriksaan rapid test negatif tidaklah dimaknai bahwa ada jaminan yang bersangkutan tidak sedang sakit. “Beberapa waktu yang lalu sudah beberapa kali kami sampaikan bahwa screening awal dengan hasil negatif dimaknai kemungkinan memang belum muncul antibodi dari tubuh seseorang yang sudah terinfeksi virus,” katanya.

Apalagi, untuk membentuk antibodi dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar 6 sampai 7 hari. Setelah itu baru bisa diukur untuk kemudian dapat dikatakan positif atau bukan. “Harapan saya ke depan adalah screening tes semata-mata ditujukan untuk mencari kasus-kasus yang mungkin positif,” jelas Yuri.

Kepastian kasus positif ini, tambah Yuri juga akan didapatkan dari pemeriksaan PCR. “Tentunya inilah yang menjadikan guidance kita. Tetapi dari hasil pemeriksaan rapid test kita sudah bisa memberikan saran bisa memberikan rekomendasi kepada yang bersangkutan untuk melaksanakan pembatasan secara mandiri,” kata Yuri.
(cip)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak