alexametrics

Mematahkan Teori Columbus (14-bersambung)

loading...
Mematahkan Teori Columbus (14-bersambung)
Layar phoenicia dikecilkan karena kecepatan lebih dari 5 knot. Foto/Koran SINDO/Abdul Aziz
A+ A-
Dua minggu Kapal Phoenicia Of Southampton sandar di pelabuhan kapal pesiar San Miquel Marina, Tenerife kepulauan Canary, Spanyol. Kru kapal replika yang mengambil rancang bangun dari June Vernes 7 itu sudah tidak sabar menjajal angin sahara barat yang dikenal bertiup ke barat sepanjang masa.

Bukan tanpa alasan kami menunggu dua minggu di Tenerife. Minggu pertama, dikarenakan angin bertiup rata-rata 35 knot hingga 40 knot dari arah barat laut. Dengan kecepatan tersebut membuat semua yacth yang akan melintas Samudera Atlantik menuju benua Amerika menambatkan kapalnya erat-erat.

Setelah angin mereda, kami dijadwalkan berangkat Sabtu, 16 November 2019. Tapi, berhubung Habiba Macichi belum mendapatkan visa Spanyol maka keberangkatan ditunda hingga paspornya terstempel kerajaan Spanyol. Dan, itu baru didapat pada Kamis 21 November 2019. Alasannya, seluruh kewarganegaraan negara-negara Afrika harus memiliki visa terlebih dahulu sebelum memasuki wilayah Uni Eropa, walaupun menggunakan kapal pesiar atau hanya sekedar transit di bandar udara negara-negara Uni Eropa.



Komposisi kru sendiri sempat mencapai 14 orang. Tapi karena waktu keberangkatan molor, Paul Baily warga Virgin Island, Karibia ini memutuskan pulang. Langkah yang sama diambil oleh David Hoskin. Dia beralasan mendapat kabar bahwa istrinya perlu perawatan khusus, dan menyiapkan pernikahan putrinya dalam waktu dekat ini.

Namun begitu, kami kedatangan tenaga sukarela baru, yakni Remi Kahwaji pemegang paspor Kanada keturunan Lebanon berusia 27 tahun. Penyandang gelar sarjana teknik itu bekerja di perakitan pesawat pribadi di Amerika Serikat. Lalu, satu orang lagi Sheimaa Oubari, berusia 31 tahun pemegang paspor Perancis dan Lebanon. Bisa dikatakan dua orang ini menjadi pewaris sah kapal Phoenicia, karena berdarah Lebanon, tempat asal mula Bangsa Phoenicia.

Kapal Phoenicia juga diperkuat oleh David Smith 23 tahun, yang baru saja meraih sarjana ilmu komputer salah satu Universitas Skotlandia; dan Dederik AA Cappelen, 53 tahun asal Norwegia yang juga anak buah Steiner di kapal Viking. Sedangkan kru lama seperti Philip Beale, Yuri Sanada, Sudirman, Charlie Beale, Maran Fazzi, Steiner Lillas, Max Cattini dan saya sendiri, masih setia dengan perjalanan ini.

Tepat Pukul 07.45 waktu Tenerife, kapal Phoenicia memulai pelayaran menuju Peurto Plata, Republik Dominika di pulau Hispanola kawasan Karibia. Jika Diambil garis lurus, jarak kedua titik tersebut adalah 3.200 Mil Laut. Tapi, Philip Beale memutuskan akan memanfaatkan angin Atlantik Utara yang sedang bertiup ke selatan sampai ke 20 lintang utara.

“Angin Sahara Barat akan membawa kita ke kawasan Karibia di 20 lintang utara, terlebih kalau kita langsung ke barat, maka kita akan terseret ke kepulauan Azores,” kata papar Philip saat rapat kru. Jika itu terjadi, lanjut Philip, ekspedisi Phoenicia gagal membuktikan bangsa Phoenicia lebih dahulu sampai di kawasan Amerika ketimbang Cristhoper Columbus.

Tak ada yang membantah, dan seluruh kru bekerja seperti biasa. Kami pun akhirnya terbagi dalam tiga tim jaga. Pertama Tim Viking, dengan pimpinan jaga Steiner lillas. Tim ini beranggotakan Dederik Capelen, Yuri Sanada dan Sheima Oubari. Selanjutnya tim Phoenicia, dipimpin langsung Philip Beale dan diperkuat oleh Maran Fazzi, Remi Kahwaji dan David Smith. Terakhir Tim Catur, Charlie Beale sebagai pimpinan jaga, beranggotakan Sudirman, Max Cattini dan saya. Tim terakhir menamakan dirinya tim catur karena tidak ada yang bisa mengalahkan Sudirman dan Charlie dalam tarung catur.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak