alexametrics

Menkes: Artificial Intelligence Mampu Deteksi Dini Kanker Serviks

loading...
Menkes: Artificial Intelligence Mampu Deteksi Dini Kanker Serviks
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat menjadi Keynote Speaker pada seminar kanker bertajuk Innovation and New Approach in Cervical Cancer Detection: Using Artificial Intelligence. Foto/SINDOnews/m.ridwan
A+ A-
JAKARTA - Masyarakat khususnya para perempuan diminta untuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit kanker serviks. Hal itu disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Trisakti (Perkatri) Reza Aditya Digambiro, dalam seminar kanker bertajuk Innovation and New Approach in Cervical Cancer Detection: using Artificial Intelligence (AI), yang dibuka Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Hotel Mercure Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Menurutnya, penyebab utama kanker serviks atau leher rahim adalah virus Human Pappiloma Virus (HPV). Kanker itu biasanya menyerang wanita berusia 35 hingga 55 tahun. “Penyakit kanker serviks ini bisa dicegah. Caranya harus mau memeriksakan diri dan melakukan deteksi dini kanker. Itu jauh lebih murah ketimbang pengobatan terkena kanker,” ungkap Reza.

Untuk pengobatan setelah didiagnosa terkena kanker leher rahim, penderita harus melakukan kemo terapi yang nilainya bisa mencapai Rp25 juta sekali kemo. Padahal, untuk menekan pertumbuhan kanker itu sendiri minimal dilakukan 6 kali kemo.



Alhasil, penderita harus mengeluarkan uang sebesar Rp150 juta untuk kemo terapi. Belum lagi kalau harus menjalani radioterapi, penderita harus mengeluarkan uang Rp25 juta sekali terapi. Upaya radioterapi inipun harus dilakukan hingga enam kali.

“Totalnya bisa Rp300 juta untuk proses ini. Belum lagi proses lainnya. Karena itu, sebaiknya dilakukan pencegahan ketimbang pengobatan. Lakukan krioterapi. Biayanya jauh lebih murah asal masyarakat mau melakukannya,” ujar Reza yang kini bertugas di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

Menurut Reza, Krioterapi adalah terapi dengan menyemprotkan gas N2 dengan suhu yang sangat dingin ke bagian leher rahim. “Langkah ini dilakukan agar sel-sel kanker di area itu mati. Jadi, kondisinya akan bersih lagi. Dan, biayanya juga murah, paling Rp75.000 sekali semprot. Namun, belum banyak orang yang aware dengan metode pencegahan kanker seperti ini,” ungkapnya.

Dia menegaskan, untuk stadium awal memang tidak terdapat gejala signifikan dari penyakit itu. Karena itu, jika terdeteksi dini, kanker serviks itu bisa dicegah. Salah satunya juga melalui skrining. “Skrining seharusnya dimulai setidaknya tiga tahun setelah seorang wanita aktif secara seksual. Perlu juga skrining dengan pap smear secara teratur setiap dua tahun,” ujarnya.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan menyambut baik digelarnya seminar kanker ini. Sebab, seminar kanker tersebut akan membuka wawasan banyak orang. Terlebih, tema yang diangkat adalah penggunakan alat artificial intelligence untuk deteksi kanker. “Ini pendekatan deteksi kanker lewat artificial intelligence . Itu artinya mengumpulkan semua data. Dan, itu membantu dokter dalam memberikan ketepatan diagnosa deteksi kanker,” ujar Menkes Terawan.

Ahli patologi dari RS Dharmais Jakarta Evlina Suzana, menambahkan, deteksi dini kanker adalah upaya yang harus dilakukan agar terhindar dari penyakit mematikan itu. Dan dia juga menyambut baik adanya alat deteksi artificial intelligence yang dinilai telah teruji menurunkan angka penderita dan kematian akibat kanker di China.

“Pencegahan kanker itu lebih efektif dan efisien. Sebab, untuk pengobatan kanker serviks membutuhkan biaya cukup banyak hingga Rp2 miliar, karena prosesnya panjang. Jadi, saya sepakat kita harus menggaungkan pencegahan kanker. Kami berharap ada anggaran negara yang dialokasikan untuk pencegahan penyakit, termasuk kanker,” kata Evlina.

Direktur Pusat Skrining Kanker Serviks Wuhan Landing, China, Wong Yong Wee, mengatakan, pihaknya cukup berhasil menekan angka penderita kanker di China lewat deteksi dini. Salah satunya, dengan menggunakan artificial intelligence.

“Deteksi dini sudah menjadi hal mendesak guna mencegah kenaikan jumlah penderita kanker serviks. Kami sudah berupaya melakukannya dengan menggunakan deteksi artificial intelligence,” kata Wong.
(cip)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak