alexametrics

2019, Tahun Laga Kedua Jokowi-Prabowo yang Berakhir Happy Ending

loading...
2019, Tahun Laga Kedua Jokowi-Prabowo yang Berakhir Happy Ending
Presiden Jokowi bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 11 Oktober 2019. Foto/SINDOnews/Eko Purwanto
A+ A-
Tahun 2019 menjadi momentum penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Pada tahun ini telah digelar Pemilihan Umum secara serentak, yakni Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden yang dilaksanakan bersamaan.

Hiruk pikuk politik sangat terasa pada tahun ini. Tak heran jika banyak kalangan yang menyebut 2019 sebagai tahun politik. Meski dihelat bersamaan dengan Pemilihan Legislatif, namun gaung Pemilihan Presiden jauh lebih membahana.

Apalagi tahun 2019 menjadi pertarungan kedua alias rematch bagi Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, dua rival yang sebelumnya berkompetisi di Pilpres 2014.



Pada Pilpres 2019, Jokowi menggandeng Ma'ruf Amin menjadi wakilnya, sedangkan Prabowo maju bersama rekan separtainya, Sandiaga Salahuddin Uno. Kedua pasangan ini berkontestasi selama sembilan bulan, mulai dari pendaftaran hingga pemungutan suara.

Dinamika Pilpres 2019 sangat terasa, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Masyarakat seolah terbelah menjadi dua kelompok. Bahkan istilah "cebong" dan " kampret" semakin sering terdengar kala itu.

Konstelasi politik Pilpres 2019 tidak jauh berbeda dengan lima tahun sebelumnya. Hanya Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan yang pada 2014 mendukung Prabowo memilih lompat pagar masuk ke barisan partai politik pendukung Jokowi pada 2019.

Berbagai peristiwa terjadi selama perhelatan tersebut. Adapun yang menyita perhatian publik adalah kasus hoaks Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya sekelompok orang di Bandung. Begitu juga kasus ujaran kebencian yang dilakukan Ahmad Dhani.

Kasus ini semakin mendapatkan perhatian besar karena baik Ratna maupun Dhani adalah dua orang yang notabene pendukung Prabowo Subianto.

Pertarungan kedua kandidat berlangsung sengit. Setidaknya itu juga terlihat dari massa yang menghadiri setiap keduanya berkampanye. Tensi politik kala itu memanas. Terutama di masyarakat. Beberapa kali massa keduanya nyaris bentrok.

Setelah melewati proses pemungutan suara, akhirnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 21 Mei 2019 menetapkan kemenangan untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf yang meraih 85.607.362 suara atau 55,50% dari total suara sah nasional. Pasangan Prabowo-Sandi mendapat 68.650.239 suara atau 44,50% dari total suara sah nasional. Selisih kedua pasangan sebanyak 16.957.123 suara.

Pasangan Jokowi-Maruf meraih kemenangan di 21 provinsi. Sedangkan Prabowo-Sandi unggul di 13 provinsi. (Baca juga: Penetapan Hasil Pilpres 2019: Jokowi-Ma'ruf 55,50% dan Prabowo-Sandi 44,50%)

Penetapan KPU tidak lantas membuat kubu Prabowo-Sandi pasrah. Mereka menyatakan menolak keputusan itu dengat menggugatnya ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada 24 Mei 2019.

Langkah konstitusional itu ditempuh Prabowo karena merasa ada kecurangan yang terstruktur dan sistematis dalam pelaksanaan pilpres.

Pertarungan politik Jokowi dengan Prabowo pun pindah ke ranah hukum. Melalui kuasa hukumnya masing-masing, mereka beradu argumen di MK.

Setelah melalui proses persidangan, akhirnya MK pada 27 Juni menolak gugatan Prabowo-Sandi. Putusan itu memupus harapan Prabowo untuk menjadi presiden.

Prabowo-Sandi pun akhirnya menerima kekalahan. Meski demikian tensi politik tak kunjung mereda. Terutama massa pendukung.
Hingga akhirnya terjadi momentum yang mengejutkan. Jokowi dan Prabowo secara mendadak bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Keduanya bersalaman dan saling memuji 14 Juli 2019.

"Saya dan Pak Jokowi bertemu di atas MRT ini juga gagasan beliau, beliau tahu saya belum pernah naik MRT. Terima kasih Pak, luar biasa, kita bangga akhirnya Indonesia," kata Prabowo saat itu.

Pertemuan itu ibarat pepatah panas setahun dihapuskan hujan sehari. Media massa pun ramai-ramai memberitakan "perdamaian" dua rival ini.

Pertemuan dua kekuatan politik tak berhenti di sana. Jokowi dan pendukungnya kian intens berkomunikasi dengan Prabowo. Hingga akhirnya, Prabowo datang ke kediaman Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, 24 Juli 2019.

Spekulasi pun muncul saat itu. Apakah Prabowo akan masuk koalisi dan mendapat tempat di kabinet?

Sinyal itu semakin kuat karena Prabowo bersama para elite Partai Gerindra tidak pernah menampik setipa kali ditanya mengenai kemungkinan tersebut.

Pada 11 Oktober 2019, Prabowo diundang Jokowi ke Istana Negara. Keduanya melakukan pertemuan. Isyarat Prabowo masuk koalisi Jokowi pun menguat. Apalagi Prabowo saat itu mengatakan siap membantu pemerintah jika dibutuhkan.

Isu Prabowo dan Gerindra masuk koalisi semakin kencang setelah Jokowi-Ma'ruf dilantik 20 Oktober 2019. Esok harinya, Prabowo dan politikus Partai Gerindra Edhy Prabowo dipanggil ke Istana.

Benar saja, pada 23 Oktober mengumumkan susunan kabinetnya. Jokowi pun mempercayakan jabatan Menteri Pertahanan (Menhan) kepada Prabowo.

Penunjukkan Prabowo sebagai Menhan dinilai sejumlah kalangan sebagai sesuatu yang istimewa. Betapa tidak, Prabowo adalah penantang Jokowi dalam dua kali pilpres. "Keistimewaan" itu tergambar saat Jokowi mengumumkan Prabowo menjadi Menhan.
Prabowo mendapatkan tepuk tangan paling meriah dari para menteri di Istana.

Lalu apa alasan Jokowi menunjuk Prabowo menduduki posisi strategis itu. Dalam wawancara dengan wartawan, Jokowi mengaku ingin membangun demokrasi gotong royong.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak