alexametrics

Penanganan Terorisme Perlu Pendekatan Bloking Area dan Moderasi

loading...
Penanganan Terorisme Perlu Pendekatan Bloking Area dan Moderasi
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan keterangan catatan akhir tahun 2019 di kantor PP Muhammdiyah, Yogyakarta, Sabtu (21/12). Foto/KORAN SINDO/Priyo Setyawan
A+ A-
YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketun PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan ada dua ranah yang menjadi perhatian untuk menangani terorisme, yaitu dibawa ke ranah hukum dan dicari sumber akarnya.

“Tindakan teroris, baik yang membikin kekacauan, bom bunuh diri, pengeboman di tempat publik dan apapun latar belakangnya, harus ditindak tegas sesuai hukum,” kata Haedar saat ditanya soal penangkapan terduga teroris di Yogyakarta usai memberikan keterangan catatan akhir tahun 2019 Muhammadiyah di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta, Sabtu (21/12/2019).

Haedar menjelaskan, kalau masih bisa dijerat dengan hukum, tanpa perlu ditembak mati di lapangan kecuali protap maksimal. Justru, lanjut dia, yang pelu dilakukan adalah diseret ke pengadilan, agar diketahui sebab mereka melakukan tindakan itu sebagai bahan untuk mencari solusi penangganan terorisme pada persoalan akarnya.



“Jadi dibawa ke ruang hukum semuanya, apalagi di amendemen UUD 45 sudah ada pernyataan di pasal pertama, Indonesia adalah negara hukum. Jadi segala tindakan atas nama negara terhadap perbuatan warga negara yang bertentangan dengan hukum dan ketertiban publik harus dilakukan tindakan hukum,” terangnya.

Kedua dilihat sumber masalah terorisme. Di hampir setiap negara komplek. Indonesia juga sudah melakukan pendekatan melihat terorisme dari banyak aspek dan lihat akarnya. Supaya sarang teroris tidak banyak berkembang, sebab dipadamkan di sini muncul di sana, maka perlu ada langkah-langkah melihat sumber masalah. “Tapi, jika sumber masalah tidak dipecahkan dan selesaikan ya sarang itu akan tumbuh,” jelasnya.

Muhammadiyah sendiri menawarkan moderasi sebagai satu langkah agar menghadapi radikalisme tidak dengan radikal, sebab tidak berjangka panjang. Juga perlu adanya bloking area. Misal di DIY, apa betul menjadi sumber terorisme. Itu perlu pemetakan. Itulah yang disebut blocking area.

“Memecahkan terorisme itu perlu blocking area, lihat titik mana saja, supaya tidak ada generalisasi. Jika sudah generalisasi akan membuat gaduh. Jika sudah gaduh pendekatan akan riuh dan serab keras tetapi tidak kena sasaran,” ungkapnya.
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak