alexametrics

Cerita Haru Aktivis Kemanusiaan Naik Abang Gojek Penyandang Disabilitas

loading...
Cerita Haru Aktivis Kemanusiaan Naik Abang Gojek Penyandang Disabilitas
Hening Parlan yang aktif di Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMS) itu bercerita tentang perjalanannya naik ojol Gojek dari Kawasan Manggala Wanabakti (Senayan) ke Cikini, Jakarta Pusat, Senin 2 Desember 2019) sore. Foto/Facebook
A+ A-
JAKARTA - Aktivis yang bergerak di isu kemanusiaan, Hening Parlan berbagi cerita haru. Teknologi Gojek membantu mewujudkan cita-cita bahwa mencari nafkah yang baik adalah hak semua orang termasuk penyandang disabilitas.

Hening yang aktif di Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMS) itu bercerita tentang perjalanannya naik ojol Gojek dari Kawasan Manggala Wanabakti (Senayan) ke Cikini, Jakarta Pusat, Senin 2 Desember 2019) sore. Dibagikan melalui akun Facebook pribadinya.

”Kutuliskan agar jemput di depan Bank Mandiri. Dan jawabnya: ‘siap.’ Tak lama, ada balasan; ‘saya sudah di depan Bank Mandiri,” ujar Hening mengawali ceritanya.



Sesampainya di titik penjemputan dimaksud, Hening menyapa namun jawaban sang mitra Gojek yang tertulis bernama Azis Setiana itu kurang jelas. ”Dia mengarahkan tangannya agar saya duduk. Setelah saya duduk ia menoleh ke saya dan bicara dengan bahasa isyarat yang saya tangkap bahwa ia bilang ia tidak bisa mendengar dan bicara,” terusnya.

Hening tersenyum kemudian mengangkat jempol sambil mengangguk. ”Kami pun jalan ke arah Cikini. Dan tahu nggak sih, sepanjang jalan itu saya mewek (menangis) karena terharu,” akunya ketika dikonfirmasi terkait postingannya tersebut.

Terlebih Hening menyadari bahwa perjalanannya bersama Azis itu sehari jelang Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember. ”Kebetulan saya memang bergerak di isu-isu kemanusiaan jadi saya perhatikan soal-soal seperti itu,” ucapnya.

Sekuat tenaga Hening menahan agar tangisnya tidak pecah. Tidak semakin menjadi-jadi. Meskipun pikirannya tidak bisa dialihkan dari terus membayangkan betapa hebat Azis dengan keterbatasannya mencari nafkah sebagai mitra ojol Gojek.

”Salut buat Gojek yang mau menerima pengemudi yang berkebutuhan khusus. Jadi kita harus apresiasi Gojek,” tegas Hening yang juga aktif di PP Aisyiyah.

Sebab, menurutnya, mencari nafkah merupakan hak semua orang. Siapapun boleh dan berhak mencari rejeki yang halal. ”Teman-teman yang berkebutuhan khusus tidak ada bedanya dengan yang lain. Justru harus diapresiasi,” kata perempuan yang juga bekerja di Paladium itu.

Maka, Hening meminta semua pihak untuk saling berempati. Dalam konteks konsumen dengan mitra Gojek, menurutnya, hal tersebut bisa direalisasikan dengan saling pengertian.

”Jangan membatalkan sepihak, marah-marah karena telat, pesanan makanan dibatalkan tanpa sebab, dan sebagainya. Karena kita tidak tahu kondisi mereka bagaimana,” sarannya.

Kepada mitra Gojek penyandang disabilitas seperti Azis, Hening juga berpesan supaya tidak patah semangat. Teknologi membantu memudahkan pekerjaan di tengah keterbatasan atau kendala yang harus dihadapi.

”Kita semua manusia punya takdir yang tidak sama. Harus melihat ke depan dengan positif. Apalagi yang beruntung diberikan kesehatan dan kelebihan lainnya ya. Harus lebih bersyukur,” ungkapnya.

Di akhir perjalanan, setibanya di tujuan, Hening memberikan apresiasi tinggi kepada Azis. Salah satunya terwujudkan dengan foto (selfi) bersama. ”Kujabat erat, kamu hebat....semangaat yaaa ...kamu hebaat. Aku bangga dengannya dan terharu.”
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak