alexametrics

Politikus Milenial Pilih Medsos untuk Komunikasi Publik

loading...
Politikus Milenial Pilih Medsos untuk Komunikasi Publik
Platform media baru, misalnya Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube jadi media komunikai politisi milenial. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Sejumlah politikus muda Senayan memiliki cara tersendiri dalam melakukan komunikasi publik, terutama dalam menyapa konstituen di daerah. Pendekatan konvensional seperti bertatap muka tetap dilakukan, namun komunikasi lebih banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai saluran media sosial (medsos).

Platform media baru, misalnya Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube dipilih baik untuk sekadar menyapa konstituen di daerah pemilihan (dapil) maupun untuk menyampaikan berbagai kegiatan yang terkait dengan tugas sebagai anggota Parlemen di Senayan. Politikus muda PDI Perjuangan, Muchamad Nabil Haroen, mengatakan, generasi milenial punya cara komunikasi yang unik dengan memanfaatkan medsos.

”Begitu pula dengan anggota DPR dari kelompok milenial juga punya saluran komunikasi khusus untuk menyapa publik. Saya sendiri menfokuskan di media sosial, terutama konten-konten di Youtube (Channel Nabil Haroen),” tutur politikus berusia 35 tahun ini, kemarin.



Pernyataan tersebut sekaligus menanggapi hasil survei Institut Riset Indonesia (INSIS) yang menyebutkan bahwa para politisi milenial di Senayan belum banyak bersuara dan mewarnai pertarungan opini di media massa. Diakui Gus Nabil- sapaan akrabnya- media massa, baik media cetak dan online selama ini menjadi kanal aspirasi publik.

Namun, riset itu tidak apple to apple untuk membandingkan dengan tingkat pengaruh (influence) di ruang publik. Perlu ada riset lanjutan untuk melihat pengaruh DPR milenial di ruang publik. Tentu, catatan publikasi media massa menjadi salah satu dari instrumen untuk menganalisa.

Pernyataan senada disampaikan anggota DPR termuda Senayan dari Fraksi Nasdem, Hillary Brigitta Lasut mengaku dirinya aktif mengunggah semua kegiatan dan gagasannya di Parlemen lewat media sosial (medsos). "Rata-rata juga teman-teman muda melakukan yang sama," katanya politikus berusia 23 tahun ini.

Menurutnya, sebagai anggota DPR, agendanya di Parlemen sangat menumpuk. ”Masalahnya apakah media tertarik atau tidak untuk meliput, itu ada di luar kendali kami. Kami bukan artis, kami wakil rakyat. Kinerja kami dihitung bukan dari seberapa banyak membuat sensasi, tapi seberapa banyak utang tugas dan tanggung jawab kami kepada masyarakat diselesaikan dan dampaknya boleh terasa di publik," urainya.

Meski demikian, Hillary tidak mau menganggap survei tersebut sebagai cibiran, namun justru akan dijadikan bahan untuk motivasi diri agar bisa bekerja lebih keras lagi, tanpa berharap membuat sensasi. Politikus muda dari Fraksi Golkar, Puteri Komarudin juga mengakui bahwa sebagai anggota DPR, dirinya sebenarnya sudah banyak bersuara dalam berbagai rapat komisi.

Hanya saja memang belum banyak dikutip media. "Saya sendiri bahkan lebih banyak menggunakan media sosial dan jejaring sosial, seperti grup WA Dapil untuk membuka ruang diskusi kepada publik guna menyerap aspirasi mereka," kata politikus berusia 26 tahun ini.

Menurut Puteri, jika ukuran dari survei tersebut adalah pemberitaan di media, sejak beberapa bulan menjabat sebagai wakil rakyat, dirinya beberapa kali diwawancarai sejumlah media, mulai dari topik ringan hingga isu-isu substansial yang berkaitan dengan penugasan di Komisi XI tempatnya bertugas.

"Media bagi saya adalah partner strategis yang sangat penting untuk menyampaikan informasi yang diperlukan masyarakat. Sehingga, saya sangat terbuka kepada media untuk mewawancarai saya. Hanya saja memang belum banyak media yangg meliput kader-kader muda di parlemen," urainya.

Puteri mengatakan, sebagai anggota DPR, dirinya sebenarnya sudah banyak bersuara dalam berbagai rapat komisi. Hanya saja memang belum banyak dikutip media. "Saya sendiri bahkan lebih banyak menggunakan media sosial dan jejaring sosial, seperti grup WA Dapil untuk membuka ruang diskusi kepada publik guna menyerap aspirasi mereka," urainya.

Politikus muda Fraksi Golkar lainnya, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengatakan, di periode 2019-2024 jumlah anggota DPR milenial semakin meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini merupakan sebuah kemajuan dimana harapannya anggota DPR milenial dapat memberikan warna baru di dunia politik.

Soal suaranya yang masih kurang terdengar di publik, bisa juga karena para politisi milenial ini belum di kenal oleh para wartawan. "Maka ini merupakan PR media/wartawan utk menggali info terkait nama-nama para anggota DPR milenial serta background mereka masing-masing," tuturnya. Politikus 26 tahun ini pun banyak menggunakan platform media soasial dalam berkomunikasi dengan konstituen.

Sementara politikus muda dari Fraksi PKB, Tommy Kurniawan, 35, mengatakan, sebenarnya dirinya dan juga para politisi muda lainnya di Senayan sudah cukup banyak bersuara dalam berbagai kegiatan baik di tiap-tiap komisi atau rapat fraksi. Hanya saja, memang diakuinya belum banyak pernyataan mereka yang dikutip oleh media.

Anggota Komisi VI ini mengatakan, karena jumlah politikus muda yang cukup banyak sekitar 100 orang, mereka pun menggagas adanya perkumpulan Kaukus Parlemen Pemuda Indonesia (KPPI). Diakuinya, para politikus milenial ini banyak menggunakan medsos untuk berkomunikasi.

Sebelumnya, Peneliti Founding Fathers House (FFH) Dian Permata mengatakan, dari 1.765 judul berita yang dibuat unit analisis, hanya 45 publikasi yang mengutip politikus milenial sebagai narasumber berita. Artinya, dari 1.700 lebih judul berita, anggota DPR baru mengisi 2,5% ruang publikasi di enam media massa yang digunakan unit analisis. Sementara itu, ada 177 judul berita yang mengutip politikus muda tentang politikus yang dibuka 31-40 tahun.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak