alexametrics

Membaca Dampak Industri 4.0

loading...
Membaca Dampak Industri 4.0
Era Revolusi Industri 4.0 ditandai peran teknologi mengambil alih hampir sebagian besar aktivitas perekonomian. Data terbaru menyebutkan, terdapat 23 juta pekerja akan terdampak dalam era industrialisasi 4.0. Foto/Ilustrasi
A+ A-
MENTERI Ketenagakerjaan Ida Fauziah membeberkan data bahwa terdapat 23 juta pekerja akan terdampak dalam era industrialisasi 4.0. Jumlah yang cukup besar tersebut berpotensi menambah angka pengangguran jika tidak diantisipasi ataupun dihadapi dengan benar. Ida juga telah memetakan bahwa 6 juta sampai 29 juta orang di Indonesia yang harus kembali mengikuti pelatihan untuk jenis pekerjaan yang baru. Untuk itu, Ida berharap 305 balai latihan kerja (BLK) menyikapi persoalan di atas dengan baik.

"Untuk mengantisipasi dampak tersebut, kita perlu menambah kompetensi tenaga kerja dengan program triple skilling , yakni skilling , re-skilling , dan up-skilling ," ujar Ida di Jawa Tengah. Kepada wartawan, dia juga mengatakan semua pihak bisa melihat tren pasar sehingga pelatihan yang diberikan mampu diserap oleh industri karena memang sesuai kebutuhan pasar. Harapan Kemenaker adalah BLK bisa menjadi garda terdepan dalam membangun SDM di masa mendatang.

Kemajuan teknologi memang seperti pisau bermata dua. Ada dampak positif dan negatif. Yang diperlukan adalah memahami kemajuan teknologi tersebut sehingga kita semua bisa mengukur dengan baik dampaknya, baik positif maupun negatif. Lantas, yang harus dilakukan adalah mengambil sisi positifnya dan menghindari atau mengurangi dampak negatifnya. Setidaknya itulah pendapat umum. Kuncinya ada pada bagaimana kita semua, terutama yang terdampak dengan perubahan teknologi, mampu membaca dampak dari perubahan tersebut. Mampu membaca dampak seperti sudah menyelesaikan persoalan. Banyak yang gagal dalam menghadapi perubahan karena gagal dalam membaca dampak perubahan. Dan, hanya sedikit yang gagal setelah mampu membaca perubahan tersebut.



Kemenaker tampaknya sudah mampu memetakan dampak dari era industrialisasi 4.0. Tidak hanya itu, Kemenaker juga telah melakukan langkah antisipasi ataupun menghadapi dampak tersebut. Harapannya, tentu bisa memaksimalkan dampak positif dan menghindari atau mengurangi dampak negatif. Dampak positif dari industrialisasi 4.0 adalah munculnya peluang baru atau jenis pekerjaan baru. Bisa juga jenis pekerjaan yang dikembangkan dari yang lama. Tentu langkah re-skilling , dan up-skilling akan mampu mengatasi ini. Langkah selanjutnya adalah mengajak masyarakat untuk bisa berubah menghadapi era industrialisasi 4.0.

Namun, tidak cukup dengan itu. BLK sendiri tentu tidak bisa dibiarkan sendiri dalam mencetak SDM yang andal dalam era industrialisasi 4.0. Dunia pendidikan dan industri juga harus digandeng. Bahkan, persoalan klasik dari bangsa ini adalah gap antara pendidikan dan industri. Selama ini, kalangan industri berkeluh kesah seorang sarjana tidak bisa siap kerja karena tidak sesuai dengan kebutuhan industri atau pasar. Perubahan di dunia pendidikan juga dibutuhkan. Dunia kampus atau sekolah juga harus digandeng Kemenaker untuk menghadapi tantangan sekaligus peluang era industrialisasi 4.0.

Dunia industri pun tidak bisa hanya berpangku tangan meminta SDM dari dunia pendidikan. Perlu ada transfer pengetahuan dari kalangan industri ke dunia kampus. Harus ada komunikasi yang intens secara komprehensif untuk menghadapi tantangan sekaligus peluang ini. Beberapa industri dan lembaga pendidikan sudah menjajaki ini, tetapi perlu gerakan yang lebih besar untuk bisa menghadapinya. Beberapa lembaga pendidikan juga sudah menyesuaikan kurikulumnya dengan pasar dan industri. Namun, perlu gerakan yang lebih besar.

Tantangan dan peluang ini, perlu dihadapi bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan industri harus satu frekuensi dalam menghadapi tantangan ini. Kolaborasi ketiganya dibutuhkan sehingga ke depan tidak ada pihak yang saling menyalahkan. Tidak hanya pemerintah yang sudah mampu membaca perubahan ini, lembaga pendidikan dan industri juga telah mampu membaca ini. Untuk menjawabnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Perlu kolaborasi. Jika ini dilakukan, tentu akan mampu menembus batas persoalan. Jika ini dilakukan maka akan mengubah persoalan menjadi peluang. Ujungnya, mampu menekan angka pengangguran dan meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia. Dan, pemerintahan yang baru tengah mulai berjalan. Waktu panjang masih terbentang untuk mengubah persoalan di atas menjadi peluang.
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak