alexametrics

Wawancara Khusus Mendikbud dan Dikti Nadiem Anwar Makarim

Siapkan Investasi SDM untuk 10 Tahun ke Depan

loading...
Siapkan Investasi SDM untuk 10 Tahun ke Depan
Siapkan Investasi SDM untuk 10 Tahun ke Depan. (Dok. SINDOphoto).
A+ A-
PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Pendiri salah satu startup unicorn terkemuka di Indonesia ini dipercaya mampu membenahi pendidikan di Indonesia. Salah satunya menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang andal dan berkualitas. Lantas, apa saja yang akan dilakukan Nadiem? Berikut petikan wawancaranya.

Presiden kemarin mengatakan ingin ada perubahan kurikulum. Seperti apa kurikulum yang akan dibuat ke depan?
Sesuai arahan Presiden, maksudnya perubahan kurikulum bukan berarti kontennya saja yang berubah. Tapi, esensi dari arahan Presiden adalah penyederhanaan dan cara penyampaiannya harus berbeda. Harus melatih, arahnya melatih kompetensi bukan masalah menghafal informasi. Itu maksud Presiden. Itu adalah PR saya untuk bisa mengubahnya, tapi itu bukan sesuatu yang bisa diubah dalam waktu cepat. Itu butuh pemikiran sangat matang dan butuh insight dari para guru dan pihak lainnya.

Jadi sebenarnya, apa basis saya untuk melakukan berbagai macam penyempurnaan dan penyederhanaan serta perubahan kurikulum, itu saya mengacu pada guru. Jadi, apa yang sebenarnya kurikulum yang berguna bagi guru, itu kuncinya karena guru itu yang paling tahu seperti apa yang relevan untuk muridnya dan lain-lain. Jadinya dari sisi perubahan itu, kalau saya yang akan menentukan, itu pasti selalu ada error-nya. Jadi, kajian yang terpenting itu adalah melibatkan guru dalam proses penyempurnaan kurikulum tersebut. Satu arahnya, jangan menghafal informasi, pindah ke kompetensi.



Kedua, pelibatan stakehoder, yaitu guru dalam penyusunan tersebut dan ketiga adalah sistem metode. Kemarin itu waktu ada wacana ganti menteri ganti kurikulum, waktu saya tanya alasannya itu kepada guru-guru kenapa banyak yang merepotkan, itu adalah cara di-rollout-nya yang manual. Tapi, sebenarnya bukan kurikulum berganti itu guru ada masalah, karena sebenarnya setiap hari di kelas guru memakai kurikulum dari berbagai macam hal.

Cara dia berinovasi dalam kurikulumnya itu selalu berganti. Banyak yang mengikuti, banyak juga yang menggunakan hal-hal lain, dan itulah yang ingin kita bangun, kemerdekaan mereka untuk mencari berbagai macam jalan untuk menimbulkan pembelajaran yang baik. Karena ujung-ujung itu apakah ini menciptakan pendidikan yang baik untuk murid. Itu lho filternya, itu semua. Mau itu kebijakan, mau itu kurikulum, mau teknologi, semua itu harus ada dampaknya pada pembelajaran publik. Baik di perguruan tinggi maupun di sekolah dasar menengah. Itu kuncinya.

Bagaimana peran teknologi di dalam dunia pendidikan?
Nah, peran teknologi itu ada berbagai macam objektif. Kenapa teknologi? Teknologi itu hanya enabler. Teknologi itu bukan suatu objektifnya sendiri. Teknologi hanya pendamping untuk bisa menciptakan beberapa hal. Dengan teknologi apa benefit-nya, kita bisa mencapai pemerataan yang lebih baik sehingga konten-konten misalnya pelatihan guru, konten lesson planned, yang lain-lain itu, bisa di daerah-daerah terpencil yang punya akses misalnya ke 3G. Itu bisa dapat mengaksesnya yang sama di Jawa atau di kota.

Tentu masih banyak sekali perbaikan yang harus dilakukan dalam proses internet dan lain-lain. Ini juga merupakan PR kita bersama kementerian lain. Tapi, esensinya adalah satu untuk pemerataan. Kedua, untuk efisiensi berbagai macam hal yang tadinya sebagai manual atau harus face to face bisa digunakan teknologi. Ketiga adalah fleksibilitas. Bayangkan, alangkah baiknya kalau guru-guru itu bisa bebas memilih apa yang lebih cocok untuk dia berdasarkan materi pelajaran atau pelatihan yang menurut mereka itu lebih cocok. Jadi, dengan teknologi semua bisa terjadi. Teknologi adalah tools, hanya suatu alat, bukan segalanya. Ujung-ujungnya adalah kualitas pembelajaran dalam kelas, yaitu interaksi antara guru dan murid, itu esensinya. Tidak ada yang bisa menggantikan itu. Jadi, teknologi harus mendukung proses apa yang terjadi dalam kelas.

Guru tetap tidak bisa tergantikan teknologi?
Tidak. Tidak bisa. Teknologi harus membantu guru. Makanya, paradigma di dalam, saya akan mencoba sebesar mungkin untuk mengubah bahwa kita ini berubah yang tadinya operator dan regulator, kita pindah menjadi pelayanan. Kita jadi melayani, unit-unit pendidikan kita, kita melayani guru-guru kita, kita melayani perguruan tinggi kita. Bukan sebagai selalu pada peraturan regulasi dan lain-lain. Intensinya banyak yang baik. Intensinya itu, kan untuk penjagaan dan mutu, tapi yang harus kita cek apakah aturan yang kita buat, apakah hal-hal administratif, ketentuan yang kita buat itu, dapat meningkatkan mutu atau tidak. Dan meningkatkan mutu itu cukup jelas. Untuk kualitas interaksi, apa yang terjadi antara murid dan guru dalam pendidikan kita. Jadi, semuanya harus difilter, harus kita tes satu per satu dari sisi bujet, kebijakan, aturan, administratif, dan lain-lain. Itu semua harus disisir kembali untuk melihat apakah benar ini benar-benar meningkatkan kualitas di dalam kelas.

Kemarin sudah bertemu organisasi guru?
Sudah. Banyak sekali, saya bertemu dengan pemimpin asosiasi guru, baik dari daerah yang sedang melakukan pelatihan. Walaupun banyaknya keragaman, sebenarnya feedback dari mereka itu banyak yang sama. Mereka ingin kebebasan dan kemerdekaan untuk apa yang terbaik bagi muridnya. Itu buat saya sangat terharu mendengar motivasi mereka, karena menurut saya yang terpenting dari guru adalah purpose dia atau hatinya. Hatinya itu mau ke mana? Kalau hatinya itu untuk murid dan untuk yang terbaik bagi murid, itu kompetensi akan dia pelajari dari mana pun untuk mencapai yang terbaik bagi muridnya. Ini cara kita melihat guru dari sisi terpenting. Itu adalah kenapa dia menjadi guru. Itu dulu dilihat. Baru dari situ kita berikan berbagai macam resource dan kebebasan untuk melakukan apa yang terbaik bagi muridnya, tentu dengan berbagai macam narasumber, resource, dan juga dengan pendanaan layak untuk sekolah, fasilitas, serta lainnya.

Saya rasa kualitas pendidikan di Indonesia akan naik secara otomatis. Makanya, ini yang dibutuhkan kenapa saya selalu bicara inovasi-inovasi. Saya bukan bicara inovasi itu dan Pak Presiden selalu bicara mengenai inovasi serta SDM terutama. Inovasi itu semakin penting kalau hal pekerjaan yang dilakukan itu semakin kompleks. Jadinya semakin tinggi kompleksitas semakin tinggi juga kebutuhan inovasi. Kalau dilihat dari semua instansi pemerintah maupun swasta, itu tingkat kompleksitas yang paling tinggi adalah unit pendidikan. Karena manusia itu untuk membangun karakter, kompetensi, rasa percaya diri, membangun rasa kebangsaan dia, itu luar biasa rumit dan kompleksnya.

Karena itu, dibutuhkan inovasi di dalam kelas yang tinggi. Inovasi ini membutuhkan empat hal untuk terjadi. Pertama, dia merasa organisasi atau unit pendidikan ini aman untuk bereksperimentasi. Dia harus merasa aman dan diberikan kebebasan serta keleluasaan untuk mencoba hal-hal baru. Itu pertama. Kedua, tidak bisa dibebankan dengan hal-hal sifatnya administratif. Kalau kebanyakan tugas untuk guru itu administratif, tentu waktu untuk anak dan energi dia ke mana. Ketiga, harus diberikan berbagai macam resource, tools untuk bisa mengembangkan dirinya, baik juga untuk mempermudah tugasnya. Juga resource itu dalam bentuk pelatihan, kurikulum, teknologi, bisa bentuk macam-macam. Kalau ini tercipta dan terakhir adalah hati. Keempat, purpose atau tujuan hatinya si guru itu harus jelas bahwa ini yang terbaik untuk murid dan hanya yang terbaik untuk murid. Bukan hanya untuk sekolah, administratif, bahkan untuk kementerian. Keempat ini tidak mudah dicapai. Ini luar biasa sulitnya untuk mencapai hal ini. Kalau empat hal ini terjadi, maka di situlah secara otomatis kualitas pembelajaran ini akan meningkat. Itu saya percaya dan itu teori atau hukum alamnya inovasi.

Bagaimana tentang guru yang meminta kesejahteraannya meningkat dan juga guru honorer?
Betul, jadinya penggunaan dana pendidikan harus kita kaji agar kita melakukan yang benar-benar berdampak pada pembelajaran murid. Bagaimana murid bisa belajar kalau gurunya tidak bahagia? Bagaimana murid bisa merasa aman kalau gurunya tidak merasa aman?

Jadi, ini hal-hal yang sifatnya kami kaji dan tentu ini akan makan waktu karena ini bukan hal mudah. Perbedaan saya di sini bisa saja yang mengatakan hal-hal yang saya janjikan, tapi kemudian saya tidak deliver. Jadi, saya akan sangat hati-hati dalam melakukan statement apa pun yang menjanjikan hal-hal mungkin tidak akan bisa saya capai. Karena kenyataannya, banyak sekali mungkin rencana pemerintah yang sifatnya tahunan. Tapi, saya datang di posisi ini untuk melakukan hal-hal berbeda. Kita akan melakukan hal-hal sifatnya investasi SDM yang akan terlihat dalam 10 tahun lagi. Waktu saya sudah tidak ada lagi di sini. Ini merupakan satu hal penting untuk menjadi pemimpin yang baik.

Pendidikan tinggi saat ini digabung kembali ke Kemendikbud. Apa rencana ke depan untuk menyinergikan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi ini?
Nah, pendidikan tinggi itu sebenarnya isunya banyak, overlap-nya dengan pendidikan dasar dan menengah. Saya tadi bicara itu sebenarnya isu dua-duanya. Tapi, perguruan tinggi menurut saya adalah kesempatan untuk mengakselerasi prinsip-prinsip inovasi tadi. Pada saat ini beban-beban administratif dan peraturan di perguruan tinggi terlalu rumit dan terlalu banyak. Harapan saya, bagaimana bisa menantang perguruan tinggi kita untuk menjadi roda inovasi negara, untuk mencetak pemimpin masa depan. Kalau mereka tidak diberikan ruang untuk bereksperimentasi, berinovasi, mencoba hal baru, maka tidak bisa. Jadi, menurut saya, perguruan tinggi untuk tahun ke depan ini bisa lebih maju dan lebih cepat diakselerasi. Terutama dalam memberikan mereka kemerdekaan untuk bisa berinovasi.

Jadi program PPK dilanjutkan?
Iya, dilanjutkan dan dibesarkan, dijadikan suatu hal yang lebih tangible untuk generasi milenial kita juga. Jangan lupa, sekarang kebanyakan orang tua murid sudah generasi milenial dan guru-guru pun banyak yang muda. Jadi, cara kita menyampaikan pendidikan karakter tidak bisa dengan tolong baca buku ini, kurikulumnya ini, tidak cukup. Dalam unit pendidikan kita, pendidikan karakter harus dilakukan dalam bentuk kegiatan. Itu yang terpenting dan juga melihat panutan orang dewasa. Panutan ada dua. Orang tua dan guru. Bagaimana kita ingin pendidikan karakter kalau semua pendidikan kita hanya dilakukan di institusi pendidikan? Kita harus pendekatan langsung kepada masyarakat.Bagaimana pemajuan kebudayaan ke depan?
Bagi saya, pendidikan dan kebudayaan itu susah sekali dipisah. Karena dua hal itu, pendidikan karakter menjadi luar biasa perannya. Itu adalah set identitas kita sebagai bangsa dan perayaan keragaman yang ada di Indonesia itu tercermin melalui kebudayaan kita, melalui aktivitas-aktivitas kebudayaan kita. Yang saya ingin lihat lebih banyak adalah partisipasi masyarakat.

Karena itu, kita mengubah paradigma kementerian kita bukan sebagai operator dan regulator saja, tetapi sebagai enabler, sebagai pelayan. Kita harus meng-empower society atau masyarakat untuk bisa mengerjakan berbagai macam hal kebudayaan. Tapi, penting juga bahwa kebudayaan itu harus inovatif. Bukan hanya dari dulu, tapi juga harus masuk ke era sekarang di mana semua kaum pemuda-pemudi bisa berpartisipasi dan menikmati kebudayaan. Jadi, kalau kebudayaan tidak bisa dinikmati oleh masyarakat luas, itu namanya tidak berdampak. Kebudayaan itu penting, bukan supply-nya yang kita pikirkan, tapi juga di demand-nya. Bagaimana kita bisa membuat kebudayaan itu seperti ngehits untuk kaum pemuda-pemudi kita. Bagaimana caranya agar kaum milenial mengerti dan lebih penting lagi berpartisipasi dalam aktivitas budaya. (Neneng Zubaidah)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak