alexametrics

Membanggakan, Mahasiswa Kampus Kehidupan Lapas Tangerang Rata-rata Ber-IPK 3,65

loading...
Membanggakan, Mahasiswa Kampus Kehidupan Lapas Tangerang Rata-rata Ber-IPK 3,65
Mahasiswa program sarjana (S1) Fakultas Hukum Kampus Kehidupan mengikuti kuliah di Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang. Foto/Dok. SINDOnews
A+ A-
TANGERANG - Prestasi membanggakan diraih 33 mahasiswa karena meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) mencapai 3,65. Membanggakan karena ke-33 mahasiswa tersebut adalah warga binaan pemasyarakatan (WBP) alias narapidana.

Mereka ini mahasiswa program sarjana (S1) Fakultas Hukum Kampus Kehidupan di Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang. Para mahasiswa itu datang dari lapas-lapas di tiga wilayah Indonesia, yakni Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Kampus Kehidupan sendiri dibangun Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) dengan menggandeng Universitas Syekh Yusuf (UNIS) Banten.

“Saya ikut merasa bangga dengan prestasi yang mereka raih,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lapas Pemuda Tangerang, S.E.G. Johannes, saat meninjau pelaksanaan ujian tengah semester (UTS) semester genap, Senin (28/10/2019).

Johannes berharap, UTS menjadi tolok ukur pencapaian hasil belajar para mahasiswa yang tengah berupaya meraih gelar sarjana hukum tersebut. Mata kuliah yang diujikan meliputi Sosiologi Hukum, Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Jinayat, Hukum Muamalat, hingga Hukum Asuransi.



Yang membanggakan Johannes, prestasi para mahasiswa yang 30 di antaranya mendapatkan beasiswa Ditjenpas-Kemenkumham itu rata-rata tinggi. “Ada dua orang yang indeks prestasi kumulatifnya sangat tinggi, 4,0. Sementara yang terendah pun masih tergolong tinggi, yakni 3,30,” kata Johannes.

Rachmat Sesario dan Rally Raymond Polandos, tercatat merupakan dua mahasiswa dengan IPK sempurna 4,0. Nama Kampus Kehidupan datang dari Menkumham Yasonna Laoly, yang kini terpilih kembali.

“Pendidikan itu hak dasar warga negara yang harus dipenuhi oleh negara. Tidak terkecuali bagi narapidana yang sedang kehilangan kemerdekaannya di dalam lapas. Ini akan menjadi bekal mereka saat keluar nanti,” kata Yasonna saat itu.

Yang tak kurang bangga tentu Dirjen Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami. Program pendidikan sarjana hukum untuk WBP hasil seleksi se-Indonesia itu memang dia yang menggagasnya. “Kami berupaya menghasilkan sumber daya manusia unggul yang dibutuhkan Indonesia, sesuai visi Pak Presiden Jokowi,” kata Dirjen Utami, saat peresmian program tersebut beberapa waktu lalu.

Menurut Utami, dalam program Revitalisasi Pemasyarakatan, Lapas Pemuda Tangerang adalah lapas medium yang difokuskan pula untuk menghasilkan SDM berkualitas, baik dalam pengetahuan maupun keterampilan. Ia pun bersyukur mengetahui prestasi membanggakan para mahasiswa program tersebut.

“Alhamdulillah. Kan sudah merupakan janji Tuhan bahwa orang-orang yang berilmu pengetahuan itu akan diangkat derajatnya. Demikian pula para mahasiswa Kampus Kehidupan ini,” kata Utami.

Selain pendidikan di dalam kelas, para mahasiswa Kampus Kehidupan juga melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jika ada narapidana yang telah selesai menjalani masa pidananya atau mendapatkan pembebasan bersyarat, mereka dapat melanjutkan pendidikan di Lapas Pemuda Tangerang atau di UNIS.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak