alexametrics

Indonesia Visionary Leader 2019

IVL Tumbuhkan Optimisme terhadap Kepemimpinan Lokal

loading...
IVL Tumbuhkan Optimisme terhadap Kepemimpinan Lokal
(ka-ki) Ketua Pembina Indonesia Institute For Corporate Directorship Andi Ilham Said, Rektor Paramadina Prof Firmanzah dan Direktur Fasilitasi Kepala Daerah dan DPRD Kemendagri Budi Santosa saat menjadi panelis ILV season 5 di Gedung SINDO, Jakarta. Rabu
A+ A-
JAKARTA - SINDO Media kembali menggelar Indonesia Visionary Leader Kelima kalinya. Ajang ini dinilai mampu menumbuhkan optimisme terhadap kepimpinan lokal baik gubernur maupun bupati/wali kota.

Hal ini mengingat saat ini ada kecenderungan masyarakat memiliki ketidakpercayaan kepada kepala daerah karena pemberitaan akhir-akhir ini.

“Pemberitaan akhir-akhir ini melahirkan distrust. Akhirnya tidak percaya pimpinan lokal. Bagi saya kita harus bangun optimisme. Indonesia harus dibangun optimisme. Nah acara SINDO ini membangkitkan optimisme ke depan bahwasanya ada pemimpin-pemimpin terbaik ke depan,” kata Juri IVL yang juga Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri Akmal Malik di Gedung SINDO, kemarin.



Setelah melakukan penjurian, Akmal mengaku bahwa optimisme tersebut nyata. Menurutnya banyak kepala daerah yang bertabur harapan. ”Bukan cuma secercah harapan. Ini bertabur harapan sebenarnya,” ungkapnya.

Dia mengaku menemukan banyak pemimpin-pemimpin lokal yang visioner. Meskipun setiap pemimpin memiliki cara dan gaya masing-masing dalam mengelola pemerintahannya di daerah.

“(Mereka) visioner. Memang ada yang makro. Ada yang fokus pada hal-hal tertentu saja. Tapi saya katakan tadi, mereka memilik visi yang bagus membangun daerahnya. Ada tadi yang sangat bagus mengupas paparan makro, bagaimana kendalanya, bagaimana ruang investasi dan apa yang dilakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut Akmal menginagtkan bahwa pemerintah bukan aksi tunggal tapi aksi yang komprehensif. Seorang pemimpin dituntut untuk dapat menggugah kebersamaan. “Saya termasuk yang percaya bahwa keberhasilan sebuah sistem itu akan dipengaruhi seberapa bagus aktornya. Siapa aktornya? Kepala daerah,” katanya.

Akmal memberikan saran agar ke depan SINDO juga menyasar Indonesia bagian Timur yang juga memiliki kepala daerah yang potensial. Tidak saja itu, dia juga ingin agar DPRD juga di-review karena merupakan bagian dari pemerintahan daerah.

Sementara itu Juri IVL lainnya yang juga Ketua Pembina Indonesia Institute for Corporate (IICD), Andi Ilham Said mengatakan bahwa ajang ini menantang kepala daerah untuk berani dan terbuka dengan apa yang dilakukannya. Dia mengatakan sebagai juri pun tidak hanya menggali dari apa yang disampaikan kepala daerah tapi juga meverifikasi dari sumber lain.

“Kalau kepala daerah sudah berani datang artinya berani dikompetisikan. Itu hal luar biasa. Ini akan membangun budaya pemimpin yang terbuka dan transparan. Ini menjadi hal positif dan penyeimbang terhadpa berita miring soal kepala daerah,” paparnya.

Dari penjurian selama dua hari, Andi menilai rata-rata kepala daerah mampu menangkap apa yang dibutuhkan masyarkatnya. Hal ini tergambar dari visi, misi, dan program yang diperuntukan untuk kebutuhan masyarakatnya.

“Jadi meskipun programnya kelihatan kecil ataupun sepele tapi itu yg diperlukan warganya. Ini kenapa program kabupaten kecil di Sumatera berbeda dengan program yang surabaya. Materinya sangat beda. Tapi kita paham itu yng dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya

Sementara itu, Bupati Banjar Khalilurrahman mengatakan program yang menjadi andalannya adalah pembebasan Sungai Martapura dari jamban terapung. Program tersebut adalah Om Toilet Om.

Pasalnya kualitas air di Sungai Martapura karena tidak ada sanitasi yang memadai bagi masyarakat di pinggir sungai. “Masyarakat tinggal di pinggir sungai jadi buat jambat di atas sungai. Kita targetkan penghapusan seribu jamban terapung,” katanya.

Dia mengaku perlu pendekatan baik agar masyarakat mau mengikuti program tersebut. Dia mengatakan pendekatan nilai-nilai agama terkait masalah kesehatan cukup berhasil menyadarkan masyarakat.

“Kita hapus jamban terapunya dan diganti dengan fasilitas sanitasi seperti WC individual dan WC komunal,” ujarnya.

Tidak hanya disitu saja, sanitasi tersebut juga dilengkapi dengan pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT), tanki septi individual ataupun komunal, dan instalasi pengelolaan air limbang.

Khaililurahhman mengaku ingin sungai Martapura menjadi slaah satu tujuan wisata. Maka dari itu dia ingin agar sungai tersebut dapat bersih. “Saya ingin membangun restoran terapung yang hilir mudik di sungai. Saat inimasih cari investor untuk menerapkan restoran terapung,” pungkasnya.
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak