alexametrics

Kelompok Lukriyang, Wadah Merajut Persatuan di Thailand Selatan

loading...
Kelompok Lukriyang, Wadah Merajut Persatuan di Thailand Selatan
Rumah singgah bagi anak-anak korban konflik yang dikelola Kelompok Lukriyang, di Provinsi Yala, Thailand selatan. Foto/SINDOnews/Sucipto
A+ A-
YALA - Konflik selalu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi anak-anak. Bagaimana tidak, mereka harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Hal ini pernah dialami masyarakat di tiga provinsi di Thailand selatan yakni, Provinsi Yala, Narathiwat dan Pattani. Meski perdamaian kini sudah terwujud namun, perasaan traumatik masih menghinggapi anak-anak yang pernah tinggal di daerah tersebut.

Kondisi inilah yang mendorong Wannakanok Pohitaedaoh, membentuk Kelompok Lukriyang, sebuah tempat penampungan bagi anak-anak korban konflik untuk kembali menatap dan membangun masa depannya yang lebih baik. "Mereka yang ditampung di sini adalah anak-anak yang keluarganya menjadi korban," katanya Minggu (8/9/2019).



Didirikan pada 2005, Kelompok Lukriyang berhasil membentuk anak-anak menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang pantang menyerah dan optimistis dalam meraih cita-cita. Ya, di Kelompok Lukriyang ini mereka dibekali keterampilan, beasiswa pendidikan hingga ke jenjang S-2 baik di dalam maupun di luar negeri dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin.

"Tujuan pembentukan kelompok ini adalah untuk memberikan keamanan dan fasilitas kepada anak-anak, ada semacam latihan dan panduan untuk safety atau keamanan diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Saat ini, ada 102 anak-anak yang ditampung oleh lembaga kemanusiaan Lukriyang. Mereka berusia antara 10 tahun hingga 22 tahun. "Mereka yang tinggal di sini 16 orang. Sisanya pulang, tinggal bersama dengan keluarganya. Karena ada yang harus membantu orang tua, ayahnya dan sebagainya," katanya.

Wannakanok Pohitaedaoh, yang kini menjabat sebagai Ketua Kelompok Lukriyang ini mengaku, di sini anak-anak diajarkan untuk saling mencintai satu sama lain, menghargai perbedaan dan menerima kenyataan. "Apa yang telah dilihat itu pasti membekas, tapi di sini diajarkan supaya mereka bisa menerima kenyataan bahwa ini sudah terjadi maka kita harus mandiri," ujarnya.

Perempuan yang telah kehilangan empat kakak tercintanya dalam kurun beberapa tahun akibat berbagai peristiwa itu mengaku, ingin anak-anak asuhnya dapat hidup normal dan berdampingan satu sama lain."Nanti kalau sudah besar kita harus menerima kenyataan bahwa kita berada di lingkungan ini," katanya.
(cip)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak