alexametrics

YLBHI Cium Konflik Kepentingan di Pansel KPK, Hendardi: Biarkan Saja!

loading...
YLBHI Cium Konflik Kepentingan di Pansel KPK, Hendardi: Biarkan Saja!
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuah Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati. Foto/SINDOnews/Rico Afrido Simanjuntak
A+ A-
JAKARTA - Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengungkapkan dugaan konflik kepentingan beberapa anggota dan ketua Panitia seleksi (Pansel) calon pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Anggota Pansel Capim KPK, Indriyanto Seno Adji dan Hendardi disebut sebagai penasihat Polri. "Yang pertama adalah Bapak Indriyanto Seno Adji dan Bapak Hendardi, dan dalam sebuah pernyataan kepada publik yang sudah tersiar, Bapak Hendardi mengakui bahwa dia adalah penasihat dari Polri, bersama dengan Bapak Indriyanto Seno Adji, dan kedua-duanya adalah anggota Pansel," ujar Ketua Umum YLBHI Asfinawati di Kantor LBH Jakarta, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 74, Jakarta Pusat, Minggu (25/8/2019).

Kemudian, Ketua Pansel Capim KPK Yenti Garnasih juga disebut bekerja sebagai tenaga ahli Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri maupun Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol). "Ibu Yenti Garnasih yang juga merupakan Ketua Pansel tercatat dalam jejak digital juga tenaga ahli Bareskrim dan Kalemdikpol, setidak-tidaknya pada tahun 2018," katanya.



Menurut dia, dugaan konflik kepentingan itu harus ditelusuri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun anggota Pansel lainnya. "Karena kalau ini dibiarkan tidak hanya cacat secara moral, tapi juga cacat secara hukum," ungkapnya.

Dia pun mengingatkan Undang-undang tentang Administrasi Pemerintahan nomor 30 Tahun 2014. "Disebutkan bahwa seorang pejabat pemerintahan yang berpotensi memiliki konflik kepentingan, tidak boleh menetapkan atau mengeluarkan keputusan atau tindakan tertentu," pungkasnya.

Sementara itu, Anggota Pansel Capim KPK, Hendardi membantah tudingan Ketua Umum YLBHI, Asfinawati yang merupakan perwakilan Kawal Capim KPK. Hendardi menegaskan tidak ambil pusing.

"Biar saja. Tidak saya pikirin. Dari awal dibentuk mereka sudah nyinyir begitu. Malah kelihatan punya interest yang tidak sampai makanya tuduh kiri-kanan," ujar Hendardi dihubungi wartawan.

Dia mengatakan, integritasnya dibangun lebih dari tiga dasawarsa sejak menjadi pimpinan mahasiswa. "Mungkin sebagian dari mereka masih menyusu," ujarnya.

Maka itu, dia mempertanyakan tudingan tersebut. "Catatan saya menjadi Penasihat Ahli Kapolri sejak masa kepemimpinan Jenderal Pol Badrodin Haiti sampai sekarang. Bukan merupakan organ struktural Polri, tapi hanya semacam think-tank untuk Kapolri dan Wakapolri," katanya.

Dia mengatakan, anggota Penasihat Ahli Kapolri itu sebagian besar profesor dan doktor serta purnawirawan Jenderal Polisi dari berbagai disiplin ilmu dan keahlian.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak