alexametrics

Nonton Bareng Bumi Manusia, Erick Thohir Ajak Dukung Film Indonesia

loading...
Nonton Bareng Bumi Manusia, Erick Thohir Ajak Dukung Film Indonesia
Koordinator Staf Khusus Presiden, Teten Masduki, mantan ketua TKN Erick Thohir, sutradara Hanung Bramantyo, dan pemain film, Sha Ine Febrianti di Bioskop XXI Epicentrum, Jakarta, Sabtu (24/8/2019) malam. Foto/SINDOnews/Abdul Rochim
A+ A-
JAKARTA - Film Bumi Manusia resmi dirilis sejak 15 Agustus lalu oleh Falcon Pictures. Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini merupakan satu dari sekian film dalam negeri yang diangkat dari karya novel. Film ini mengangkat buku karya sastrawan legendaris Tanah Air, Pramoedya Ananta Toer.

Hanung bersama sejumlah pemain film Bumi Manusia seperti Sha Ine Febrianti yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh dan Mawar Eva de Jongh yang berperan sebagai Annelies Mellema menggelar nonton bareng mantan ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin, Erick Thohir dan Koordinator Staf Khusus Presiden, Teten Masduki di Bioskop XXI Epicentrum, Jakarta, Sabtu 24 Agustus 2019.

Erick mengaku sengaja datang di acara nonton bareng tersebut untuk mendukung pengembangan industri perfilman nasional. "Saya datang ke sini sebagai fans film Indonesia. Di film ini saya tidak ada investasi, enggak ada apa-apa. Tapi saya mendukung saudara saya Hanung, dan kita sudah beberapa kali menggarap film secara bersama-sama," tuturnya ditemui di sela acara nonton bareng.



Erick berharap film Indonesia bisa kembali menjadi raja dalam industri perfilman di Tanah Air layaknya industri lagu. Apalagi sekarang dengan digitalisasi, menurutnya, banyak sekali konten-konten film yang sangat bagus.

"Konten-konten film lokal harus diprioritaskan karena kita tidak mau semua produk asing masuk Indonesia. Bukan berarti kita anti asing, tapi juga harus menjaga budaya, kultur Indonesia dengan cara memproduksi konten-konten yang baik. Kalau konten yang nggak bisa bersaing ya mau bicara apa lagi? Tapi kalau konten yang bagus ya harus kita dukung," serunya.

Erick mengatakan, ada tiga kunci agar produk film bisa meraih kesuksesan. Pertama, cerita yang bagus. Kedua, manajemen bagus dengan menghadirkan sutradara, pemain, serta sponsor yang bagus.

"Ketiga, dikasih sama Allah filmnya meledak karena film itu salah satu yang sulit. Dari 10 film, meledak dua saja itu sudah bagus. Harus ada faktor luck walaupun di era digital ini semua bisa dipelajari. Dan saya bagian dari 800.000 penonton yang merasa ini film bagus," katanya.

Setelah tiga jam menonton, Erick seperti tidak merasa durasi film cukup lama karena kualits yang disuguhkan memang cukup bagus. "Kualitas filmnya, sutradaranya, pemain filmnya semuanya bagus," paparnya.

Dia berharap pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Benkraf) nantinya bisa membawa film Bumi Manusia ke Oscar. "Saya enggak tahu bagaimana caranya, paling tidak ada film Indonesia yang bisa berkelas dunia. Ini bagian juga membangun konten Indonesia, mempromosikan budaya Indonesia. Memang sudah saatnya bangsa ini menjadi bangsa besar," serunya.

Sementara itu, Teten Masduki mengakui film Bumi Manusia adalah film dengan tema sangat bagus. "Saya dulu membaca karya Pram, Bumi Manusia ini, terkesan luar biasa. Saya kira tak ada kelasnya lagi. Jadi kalau film-film Indonesia mengangkat karya-karya sastra yang berkelas seperti ini, menurut saya ini akan memberikan mutu tersendiri bagi industri film nasional," paparnya.

Teten mengatakan, selama ini pemerintah sudah memberikan kebijakan- kebijakan yang dapat menggairahkan perfilman nasional.

"Laporan Benkraf sekarang jumlah penonton film semakin banyak. Saya kira ini harus diteruskan. Jadi yang paling penting, bagaimana film-film Indonesia semakin banyak diputar dan diberikan kesempatan di sinema-sinema kita. Jadi jangan dikalahkan terus. Biasanya cuma sebentar kan diputarnya," katanya.

Sementara itu, Hanung Bramantyo mengatakan tantangan saat ini, yaitu bagaimana membangkitkan kepercayaan penonton terhadap film Indonesia.

"Karena itu kita harus meng-upgrade diri kita. Kita tidak boleh meremehkan penonton, menganggap penonton itu bego, bodoh. Itu yang susah, kita kadang berhadapan dengan produser yang merasa kita menganggap bahwa, 'oh ini penonton milenial cukup dikasih kayak gini kok'," katanya.

Hanung mengatakan, kalangan milenial justru sangat melek informasi karena mereka punya banyak akses, salah satunya mendapatkan informasi melalui Google atau Instagram untuk membandingkan dengan produk-produk film dari seluruh dunia.

"Baik itu Korea, China, Holywood dan sebaginya sehingga kita harusnya meng-upgrade diri kita, tidak boleh meng-underestimate penonton, khususnya milenial," paparnya.

Karena itu, lanjut Hanung, film Bumi Manusia diproduksi dengan menggunakan teknologi dan lensa yang digunakan dalam industri film Holywood. "Kami juga rela memundurkan jadwal tayang karena ingin menampilkan gambar yang perfect, hanya untuk melampiaskan espektasi penonton, sebuah karya yang dianggap high class kan gitu," katanya.

Karena itu untuk membuat sebauha karya yang bagus, sambung dia, prosesnya sangat berat dan harus ditunjang dengan waktu dan modal yang besar.

Hanung menilai peran pemerintah dalam mendukung industri perfilman nasional sudah cukup baik melalui regulasi dengan mendirikan Benkraf yang menaungi para pelaku perfilman.

"Sekarang ada beasiswa dan gampang sekali ke festival internasional karena ada bantuan. Sudah nggak kayak dulu lagi, susah makanya sekarang banyak muncul sutradara-sutradara baru yang bisa berkiprah di dunia perfilman, enggak hanya di Indonesia," paparnya.

Hanung mengatakan, animo masyarakat terhadap perfilman nasional mulai naik, meski diakuinya penonton sangat pemilih.

"Dilihat dari sutradaranya siapa, production house-nya siapa? Kalau dianggap tidak dikenal sama mereka, mereka enggak mau menonton," pungkasnya.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak