alexametrics

Dorong Pembangunan Nasional lewat Penguatan Industri Halal

loading...
Dorong Pembangunan Nasional lewat Penguatan Industri Halal
Talkshow bertema Industri Halal dan Keuangan Syariah Indonesia yang digelar KORAN SINDO dan SINDOnews.com di Hotel Ashley, Menteng, Jakarta, Rabu (21/8/2019).
A+ A-
JAKARTA - Indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar di dunia dengan jumlah penduduk muslim mencapai 87% dari total 260 juta jiwa.

Oleh karena itu, industri halal perlu terus didorong untuk mendukung pembangunan nasional.

Hal itu dibahas dalam talkshow bertema Industri Halal dan Keuangan Syariah Indonesia yang digelar KORAN SINDO dan SINDOnews.com di Hotel Ashley, Menteng, Jakarta, Rabu (21/8/2019).



Pemimpin Redaksi KORAN SINDO dan SINDOnews, Djaka Susila mengatakan, dengan komposisi demografi yang demikian maka Indonesia menjadi pasar terbesar Industri halal.

"Berdasarkan data Global Islamic Economy 2018/2019, Indonesia menghabiskan USD170 miliar untuk produk makanan halal atau setara dengan Rp2.465 triliun," kata Djaka dalam sambutannya.

Menurut Pung, data tersebut menempatkan Indonesia pada rangking pertama dari 10 negara sebagai negara dengan jumlah pengeluaran makanan halal terbesar di dunia.

Sementara itu Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW) Ikhsan Abdullah menuturkan, pertumbuhan ini menjadi sinyal yang cukup baik bagi industri halal dan keuangan syariah Indonesia.Kendati begitu, kata dia, kondisi itu tetap menghadapi banyak tantangan. Salah satunya bagaimana meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat khususnya pelaku usaha terhadap subtansi produk halal.
"Upaya mendongkrak industri halal dan keuangan syariah juga perlu dilakukan dengan mendorong lembaga keuangan syariah untuk membantu pembiayaan industri halal, baik untuk pelaku usaha mikro, kecil maupun menengah agar lebih bisa berkembang," tuturnya.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak