alexametrics

Peneliti Harvard: Asap Kebakaran Hutan Ancam 36.000 Jiwa

loading...
Peneliti Harvard: Asap Kebakaran Hutan Ancam 36.000 Jiwa
Peneliti dari Harvard University, Tianjia Liu menyebut, asap kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan mengancam kehidupan 36.000 jiwa akibat menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Kebakaran hutan yang melanda beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan telah menjadi ancaman. Selain merusak lingkungan dan lahan hutan, asap kebakaran hutan juga mengancam puluhan ribu jiwa.

Peneliti dari Harvard University, Tianjia Liu mengatakan hasil penelitiannya bersama peneliti dari Columbia University disimpulkan bahwa apabila tidak segera di satasi, diprediksi akan terjadi 36.000 kematian akibat penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akan mengintai setiap tahunnya.

Menurut Tianjia, 36.000 ancaman kematian akibat ISPA dari dampak kebakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan akan mengancam tiga negara yaitu 92% di Indonesia, 7% di Malaysia, dan 1% di Singapura.



Dia menyebut, ada tiga faktor penyebab kabut asap parah di Indonesia yaitu meteorologi seperti El Nino. Kedua, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan. Ketiga, kebakaran lahan gambut berminggu-minggu yang sulit untuk dipadamkan.

“Banyaknya asap dan kabut asap mengganggu kesehatan masyarakat, penurunan fungsi paru-paru, meningkatkan ISPA, jantung dan kematian dini,” ungkapnya dalam diskusi 'Ongkos Kesehatan dari Bencana Kebakaran Hutan dan Gambut' di Kawasan Kuningan, Jakarta (13/8/2019).

Dari penelitian, kata Tianjia diperkirakan ada 100.300 kasus kematian dini yang dipicu kebakaran hutan di Indonesia pada September 2015. Namun, hal ini bisa dicegah dengan strategi komprehensif mengurangi kebakaran hutan.

“Kami mengambil sampel penelitian ini dari salah satu contoh kebakaran hutan hebat yang terjadi di Indonesia pada 2015. Akibat kebakaran tersebut, terjadi 100.300 kasus kematian dini dan 69 juta orang terkena ISPA. Lalu, potensi kerugian material mencapai USD16 miliar di luar kerugian kesehatan,” jelasnya.

Dari sampel kebakaran hutan di Indonesia dari 2005 hingga 2009, kata dia, ternyata lahan gambut menyumbang polusi yang terpapar asap lebih besar jika dibandingkan kebakaran hutan di lahan non gambut. Diapun mendorong restorasi lahan gambut segera digencarkan. Dia menyebut, jumlah kebakaran hutan di Indonesia saat itu mencapai sekitar 18 juta hektare di Sumatera dan Kalimantan. Dari jumlah tersebut, hanya 9% saja kebakaran terjadi di lahan gambut.

"Tapi, kebakaran di lahan gambut menyumbang emisi yang lebih besar. Jumlahnya lebih dari separuh atau 51% dari total emisi sepanjang tahun tersebut. Untuk itu, restorasi lahan gambut secara maksimal bisa mengurangi populasi yang terpapar asap hingga 60 sampai 67%," katanya.
(sco)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak