alexametrics

Tumbuhkan Minat Baca Milenial lewat Sastra dan Kopi

loading...
Tumbuhkan Minat Baca Milenial lewat Sastra dan Kopi
Para pembicara yang dipilih dari peserta pertemuan Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS), di Jakarta. Foto/SINDOnews/Thomas Manggala
A+ A-
JAKARTA - Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS) menggelar pertemuan yang mengusung tema Sastra, Perbukuan, Kreativitas dan Kopi Bagi Generasi Muda.

Melalui acara ini, potensi turunnya minat membaca buku masyarakat, khususnya anak-anak atau generasi muda bisa diantisipasi.

Di era digital sekarang ini, minat membaca buku perlahan terkikis dengan perkembangan teknologi yang begitu canggih. Kini, membaca dan menulis tidak harus dengan buku, namun bisa menggunakan smartphone atau ponsel yang membuat anak cenderung asyik sendiri dengan ponsel ketimbang berinteraksi dengan sesama.



Menurut studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh John W Miller, Presiden Central Connecticut State University (CCSU), Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca pada 2016.

Menurunnya minat baca literasi tersebut, membuat sastrawan yang bergelut di dunia perbukuan pun tergerak untuk melakukan perubahan. Untuk itu, Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS) mengadakan pertemuan antar-sastrawan dari berbagai Asia Tenggara.

Pertemuan yang mengusung tema Sastra, Perbukuan, Kreativitas dan Kopi Bagi Generasi Muda ini lahir karena berubahnya perilaku manusia dalam membaca buku, yakni dari membaca buku cetak dan beralih menjadi artikel digital.

Rupanya kultur ini tak hanya terjadi di Indonesia saja namun semua negara Asia Tenggara pun ikut terdampak dengan perkembangan teknologi digital yang berakibat pada menurunnya minat baca anak-anak.

"Kelompok sastrawan akan ikut berbicara dan berdiskusi sharing tentang dunia perbukuan yang dibenturkan dengan era digital, karena saat ini para milenial lebih suka membaca digital daripada membaca buku," tutur Free Hearty, Ketua sekaligus founder PSBNS kepada SINDOnews di Coffe Lab, Kopi Kapal Api Center, kawasan Jatibaru Tanah Abang, beberapa waktu lalu.

Gelaran acara tahunan kali ini menghadirkan 70 sastrawan serumpun dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Tak hanya berbicara mengenai perbukuan, para sastrawan juga mengupas tentang budaya minum kopi yang jadi inspirasi saat menulis.

"Kopi itu memberikan inspirasi bagi sastrawan karena saat menulis biasanya selalu ada kopi. Saya juga yakin bahwa teman-teman sastrawan pasti selalu meminum kopi kecuali kalu memang mereka yang punya penyakit. Kopi selalu memberikan semangat untuk para seniman," ujar Sari Narulita, Wakil Ketua PSBNS.

Selain diskusi mengenai problem dan tantangan yang dihadapi dunia literasi di era digital, ada pula berbagai kegiatan lain seperti membaca sajak, penampilan musikalisasi puisi, peluncuran buku, mengulas buku, hingga menyanyikan lagu dari syair puisi karya para sastrawan.

Pertemuan sastrawan serumpun ini sebenarnya digelar rutin setiap tahun. Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini seluruh pembicara ditunjuk langsung dari peserta sehingga diskusi jadi lebih terbuka sesuai dengan persepsi masing-masing pembicara.

"Biasanya tema dan acara kami setting terlebih dahulu. Tetapi kali ini kami keluar dari pakem, dan yang menjadi pembicara adalah sastrawan dari peserta. Tetapi ternyata dampaknya lebih menarik karena tidak direncanakan sebelumnya," ujar Free Hearty.

Dalam tema yang mengangkat buku dan digitaliasi ini, ada empat sastrawan yang ditunjuk jadi pembicara untuk berdiskusi. Mereka adalah Malim Ghozali, Raja Ahmad Aminollah, Syamsuddin CH Haesy, dan Hana Fransisca. Hasil dari diskusi tersebut, bahwa eksistensi buku tidak pernah mati.

Digital dan buku akan saling bersinergi satu sama lain. Buku bisa dijadikan bentuk digital agar bisa tersebar luas di kalangan berbagai lapisan masyarakat.

Selain untuk berdiskusi, pertemuan ini bertujuan untuk mempersatukan tali silaturahmi antar para sastrawan dan memperkenalkan sastra kepada berbagai masyarakat agar lebih disukai dan dihargai.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak