alexametrics

Penderita Gangguan Fungsi Ginjal Bisa Terapi Cuci Perut

loading...
Penderita Gangguan Fungsi Ginjal Bisa Terapi Cuci Perut
Dokter kepresidenan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, dr Jonny Sp.PD-KGH, M.Kes, MM dalam seminar awam bertajuk Kenapa Kamu Pilih CAPD? di Jakarta, Minggu (21/7/2019). Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Di Indonesia, tindakan Hemodialisa (HD) atau kerap disebut cuci darah merupakan jenis terapi yang paling banyak digunakan oleh orang yang memiliki gangguan fungsi ginjal. Padahal, selain HD terapi lain yang bisa menjadi pilihan bagi pasien adalah cuci perut atau Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Salah satu keuntungan penderita gagal ginjal kronis dengan memilih terapi CAPD adalah kehidupan sosial dan pekerjaan tidak terganggu oleh rutinitas, dibandingkan dengan terapi HD yang harus dilakukan 2-3 kali seminggu di rumah sakit.

“CAPD cukup dilakukan di rumah atau di kantor, yang penting tempatnya bersih, tidak ada binatang dan matikan AC atau kipas angin untuk mencegah debu beterbangan,” kata dokter kepresidenan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, dr Jonny Sp.PD-KGH, M.Kes, MM dalam seminar awam bertajuk “Kenapa Kamu Pilih CAPD?” yang digelar oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bekerja sama dengan Baxter Healthcare Asia, di Jakarta, Minggu (21/7/2019).



Berbicara di hadapan 200 audiens yang sebagian besar pasien gagal ginjal kronik, dr Jonny yang merupakan Konsulen Ginjal Hipertensi (KGH) itu menjelaskan beberapa keuntungan lain memilih CAPD dibandingkan HD. “Sangat mudah dan tidak rumit seperti dibayangkan orang kebanyakan. Pergantian cairan dalam sehari dilakukan selama 4 kali, dan hanya memerlukan waktu 25 menit,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan terapi CAPD pasien lebih bebas makan karena dengan makan makanan yang baik maka kadar HB (Hemoglobin) juga akan meningkat. Kedua, dapat berpergian ke belahan dunia manapun karena cairan hampir tersedia di seluruh negara.

"Ketiga, mudah dipahami pasien, latihan satu minggu saja sudah cukup untuk memahami CAPD dan cara menghubungkan/melepaskan transfer set dari kantong cairan,” jelasnya.

Dr Jonny pun menyampaikan hal-hal yang tidak menyenangkan dengan terapi CAPD. Salah satunya terkena infeksi bila prosedur CAPD tidak dilakukan dengan baik dan benar. “Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk menjaga kebersihan tangan dan menggunakan masker saat mengganti cairan untuk menghindari infeksi," tukasnya.
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak