alexametrics

Polarisasi Politik Identitas Jadi Pemicu Anjloknya Suara Demokrat

loading...
Polarisasi Politik Identitas Jadi Pemicu Anjloknya Suara Demokrat
Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan di sela diskusi bertajuk 'Regenerasi Parpol, Hanya Basa-Basi atau Harga Mati' di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/6/2019). Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat akibat menguatnya politik identitas menjadi salah satu alasan melorotnya perolehan suara Partai Demokrat pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Pilihan Partai Demokrat yang mendukung pasangan calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mau tidak mau terdampak pada menguatnya politik identitas.

Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan mengatakan akibat dari menguatnya polarisasi politik idenitas, partainya harus kehilangan kursi DPR di sejumlah daerah seperti Sulawesi Utara, Babel, Bali, Kalimantan Barat, Papua Barat, dan Papua.

Hasil Pemilu 2019, Partai Demokrat harus kehilangan tujuh kursi di DPR. Hasil pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU), partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu hanya mengantongi 10.876.507 suara atau 7,77%.



Jika dikonversi dalam kursi di DPR, Demokrat hanya mendapatkan 54 kursi atau melorot tujuh kursi dari perolehan pemilu sebelumnya sebanyak 61 kursi.

”Teman-teman sekalian, ini memang akibat polarisasi politik identitas yang kental sekali (dalam pilpres) kemarin. Karena itu, kami kehilangan kursi di Sulawesi Utara, kami kehilangan kursi di Babel, kehilangan kursi satu di Bali, Kalimantan Barat, Papua Barat dan Papua," ujar Hinca di sela diskusi bertajuk 'Regenerasi Parpol, Hanya Basa-Basi atau Harga Mati' di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

"Itu gambaran politik Identitas yang tadi terpaksa harus kami terima sebagai pilihan yang diharuskan waktu kita memilih Pilpres tadi,” sambungnya.

Hinca menambahkan ketika pertama kali ikut berkompetisi pada 2004, Demokrat berhasil meraih 7,5% suara. Angka tersebut ternyata mampu menempatkan SBY sebagai presiden.

Selanjutnya pada 2009, SBY kembali terpilih sebagai presiden dan suara Demokrat pun melambung menjadi 21%. Kemudian pada Pemilu 2014 setelah SBY tidak lagi bisa bertarung karena sudah dua kali menjabat, suara Demokrat anjlok menjadi 10,1%.

”Kurvanya begitu. Nah, 2019 tarung lagi, kembali lagi balik ke 2004 yaitu 7,7 persen,” katanya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak