alexametrics

Stikom Media Kenalkan Profesi Fotografer pada Anak Panti Asuhan

loading...
Stikom Media Kenalkan Profesi Fotografer pada Anak Panti Asuhan
Anak Panti Asuhan Hidayatus Shibyan, Jangkungan, Surabaya, belajar fotografi bersama mahasiswa Stikom Surabaya, Sabtu (25/5/2019). Foto/SINDONews/Ali Masduki
A+ A-
SURABAYA - Mahasiswa Stikom Surabaya dari berbagai Organisasi Mahasiswa (Ormawa) seperti Himpunan Mahasiswa (Hima) Administrasi Perkantoran, Hima Manajemen, Stikom Java Network (SJN) dan (Presma) Stikom Surabaya Media, mengadakan kegiatan sosial di berbagai panti asuhan dan anak jalanan.

Kegiatan yang dikemas dengan tema "Indahnya Berimajinasi" (INDAHSI) ini menyambagi sejumlah anak-anak panti asuhan, salah satunya panti asuhan Hidayatus Shibyan, Jangkungan, Surabaya, Sabtu (25/5/2019).

Kehadiran mahasiswa ditengah-tengah anak panti asuhan ini cukup berarti. Sambil ngabuburit, mereka berbagi ilmu yang didapatkan selama kuliah pada anak-anak, yakni mengenalkan ilmu fotogragi dan desainer.



Ketua pelaksana baksos, Khafid, menuturkan pengenalan fotografi pada anak-anak ini untuk memberikan pemahaman, bahwa suatu pekerjaan atau cita-cita tidak harus menjadi dokter, polisi, dan guru yang sudah terbilang kuno.

"Kami mengenalkan pada anak-anak, ada keahlian-keahlian lain yang bisa untuk mencari nafkah seperti menjadi seorang desainer, programer, jurnalis dan fotografer yang tidak kalah menarik," katanya.

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 30 anak panti. Mereka dibagi dalam empat kelompok dan diberi materi serta workshop. Usai materi, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok dan langsung praktik menjadi seorang fotografer menggunakan fasilitas kamera yang disediakan panitia.

Layaknya pekerja profesional, setiap tim ada yang menjadi pengarah gaya, model dan fotografer. Merekapun mengambil pemandangan di sekitar panti yang menurutnya menarik untuk dijadikan angle.

Khafid mengungkapkan, selaian di panti asuhan Hidayatus Shibyan, mahasiswa Stikom Surabaya juga menyambangi Rumah Belajar Pandawa, Wonokromo. Rumah belajar ini sebagian besar berisi anak-anak jalanan dan putus sekolah, karena minimnya perekonomian.

"Di sana anak-anak diajari teknik menggambar mural," ujarnya.

Bebeda dengan mural pada umumnya yang menggambar di media luas dan bersifat permanen seperti di dinding dan tembok. Untuk pembelajan di Rumah Belajar Pandawa media yang digunakan adalah papan triplek dengan tema gambar "Tak Ada Kata Antara Aku dan Dia". Seperti konsep sebelumnya, anak-anak juga kita bagi menjadi empat kelompok untuk menyelesaikan gambar selama 2 hari.

Pada puncak acara Minggu (26/5), sembari menyelesaikan mural, anak-anak rumah pandawa akan diajak berbagi takjil di jalan agar mengerti betapa pentingnya memberi dan berbagi terhadap sesama.

"Yang terpenting dari berbagi takjil ini, komunitas Stikommedia menghindari penggunaan plastik, untuk mendukung program eco campus di Stikom Surabaya dan menciptakan go green dengan menggunakan goodybag yang bisa digunakan berulang-ulang," tegasnya.

Rencananya, hasil foto dan mural dari anak panti dan jalanan ini akan dipamerkan di C2O Liberary. Mahasiswa akan mengajak anak-anak untuk datang melihat hasil karyanya.

"Saya ingin anak-anak jalanan mendapat kesempatan untuk menunjukan keahliannya dan hasil karya dilihat orang lain, bahwa mereka juga bisa berkarya," tukasnya.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak