alexametrics

Polri Membentuk Tim untuk Mengusut Kematian Tujuh Perusuh

loading...
Polri Membentuk Tim untuk Mengusut Kematian Tujuh Perusuh
Polri Membentuk Tim untuk Mengusut Kematian Tujuh Perusuh
A+ A-
JAKARTA - Kerusuhan yang terjadi saat aksi di Jakarta, 21 dan 22 Mei, menyebabkan sejumlah orang tewas. Polisi menyebut ada tujuh orang yang tewas. Namun, Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan ada delapan orang yang meninggal dunia di berbagai rumah sakit (RS) tersebut. Penyebab pasti kematian para perusuh ini masih menjadi misteri.

Polri menegaskan tidak pernah memakai peluru tajam dalam mengamankan peserta aksi. "Bapak Kapolri sudah membentuk tim investigasi yang dipimpin Irwasum untuk mengetahui apa penyebab dan semua aspek sehingga ada korban dari massa perusuh," kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, kemarin.

Iqbal juga menegaskan bahwa warga yang tewas bukan dari peserta aksi damai. Keseluruhan peserta adalah massa perusuh yang berupaya membuat aksi 21 dan 22 menjadi kacau. Dari pihak kepolisian, lanjut Iqbal, tidak ada korban jiwa yang meninggal, hanya korban luka-luka akibat rusuh kemarin. "Dari aparat luka-luka sembilan orang, bisa saja bertambah," jelasnya.



Iqbal memaparkan, selama aksi berlangsung Polda Metro Jaya mencatat telah menangkap 257 tersangka. Empat di antaranya positif menggunakan narkoba. "Yang diamankan oleh Polda Metro Jaya 257, itu tatonya banyak, dan ada empat orang positif narkoba. Bagaimana mau unjuk rasa kalau mereka narkoba. Yang lain juga akan diperiksa," ucapnya.

Ombudsman RI berencana memanggil Polri terkait tewasnya sejumlah orang dalam kericuhan saat demonstrasi 21-22 Mei. "Kami mengetahui sudah ada korban yang jatuh, yang meninggal dunia, maka dalam waktu dekat Ombudsman ingin mendengarkan pihak kepolisian di dalam rangka menjaga keamanan pengumuman pasca pemilu," kata anggota Ombudsman RI Ninik Rahayu di Gedung Ombudsman, Jakarta Selatan, kemarin.

Menurut Ninik, pemanggilan tersebut terkait adanya tewasnya seorang demonstran akibat peluru yang menembus pada bagian dada. Menurutnya, hal itu perlu menjadi perhatian penting bagi pihak kepolisian mengenai protap dalam penggunaan senjata dalam menghalau demonstran.

Anggota Ombudsman lainnya, Adrianus Meliala, menegaskan pemanggilan itu jauh dari tuduhan bahwa Polri khususnya Brimob yang melakukan penembakan terhadap massa aksi 22 Mei. "Semata-mata hanya dua hal, pertama adalah karena Polri yang melakukan kontak tembak dengan para perusuh dan yang kedua adalah pernyataan dari Pak Wiranto bahwa semua anggota Polri tidak membawa senjata tajam," kata Adrianus.

Adrianus menyebut pihaknya bakal melakukan investigasi terkait penyebab kematian korban demonstrasi yang rusuh pada 21-22 Mei. "Bahwa kematian dari enam orang itu belum jelas itu adalah pengetahuan yang umum. Kami belum tahu cause of death-nya, apakah benar disebabkan peluru tajam atau apa peluru karet," kata dia.

Kepolisian menegaskan tidak ada penggunaan senjata dengan peluru tajam pada anggotanya saat pengamanan aksi massa di Bawaslu RI, Menteng, Jakarta Pusat. "Tak ada penggunaan senjata dengan peluru tajam," kata Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo pada wartawan, Rabu (22/5).

Pemprov DKI meminta para pengusaha di kawasan bekas aksi untuk segera beraktivitas kembali. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, sejak pagi kemarin, semua tim Pemprov DKI Jakarta sudah bekerja untuk memastikan kawasan Thamrin bersih kembali. Dirinya menginginkan seluruh kawasan Thamrin yang merupakan kawasan strategis bersih semula.

Anies menjelaskan, kondisi Di Jakarta relatif tenang dan stabil karena berbeda dengan apa yang terjadi pada 1998. Saat itu seluruh wilayah Di Jakarta terjadi kerusuhan, di berbagai tempat ada toko, mal, pusat perbelanjaan terjadi penjarahan. Sedangkan pada peristiwa Thamrin kemarin, hal itu tidak terjadi.

Menurutnya, yang terjadi di Thamrin, Tanah Abang, Slipi dan sekitarnya itu aksi demonstrasi yang berujung kericuhan. Mantan menteri pendidikan itu mengimbau agar semua masyarakat beraktivitas seperti semula, khususnya untuk yang berada di wilayah Thamrin, Tanah Abang, dan Slipi. Mereka pada pedagang segera membuka kembali sehingga perekonomian bergerak baik kemudian.

"Jakarta adalah ibu kota bagi semua, karena itu warga Jakarta maupun luar Jakarta bisa beraktivitas di sini, tetapi Jakarta bukan tempat bagi perusuh di Jakarta. Kita akan sambut mereka yang datang ke Jakarta berkegiatan di Jakarta kita fasilitasi, tapi kalau mau kerusuhan Anda akan berhadapan dengan kami semua," tandasnya.

Identitas delapan orang yang tewas adalah Farhan Syafero, 31, warga Depok, Jawa Barat yang tewas pada Rabu (22/5) di Rumah Sakit Budi Kemuliaan. M Reyhan Fajari, 16, remaja Jalan Petamburan 5, RT 10/05, Tanah Abang, Jakarta Pusat dan tewas di RS Laut (RSAL) Mintoharjo pada Rabu (22/5/2019). Selanjutnya adalah Abdul Ajiz, 27, warga Pandeglang, Banten dan Bachtiar Alamsyah, warga Batu Ceper, Tangerang, Banten yang tewas di RS Pelni pada Rabu (22/5).

Korban lainnya adalah Adam Nooryan, 19, pemuda Jalan Sawah Lio II, Gang 3 Nomor 6A RT 06/01 Jembatan 5, Tambora,Jakarta Barat dan Widianto Rizky Ramadan,17, remaja Jalan Slipi Kebon Sayur, Kemanggisan, Slipi, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Keduanya tewas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan pada Rabu (22/5).

Sementara dua orang lainnya yang tidak memiliki identitas antara lain, seorang pria yang dirawat dan dinyatakan tewas di RS Dharmais pada Rabu (22/5) dan seorang laki-laki bernama Sandro, 31, korban kerusuhan yang dirawat di RSUD Tarakan sejak Rabu (22/5).
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak