alexametrics

Quick Count, Bisa Dipercayakah?

loading...
Quick Count, Bisa Dipercayakah?
Warga saat memberikan suaranya di TPS Bhinneka Tunggal Ika di Kota Semarang, Jawa Tengah. Foto: dok/SINDOphoto
A+ A-
Handi Irawan D
CEO Frontier Group

QUICK Count itu bukan survei atau polling. Itulah sebabnya, membandingkan akurasi Quick Count dengan survei, jelas bukan perbandingan apple to apple. Ketika survei dilakukan sebelum pemilu berlangsung, jawaban bisa meleset besar. Mencari responden secara random yang representatif terhadap populasi, membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, masih akan ada problem antara jawaban saat ditanya sebagai responden dibandingkan dengan pilihan sebenarnya pada saat pemilu.Sebagian responden kemudian bisa saja beralih pilihan karena memang ada perbedaan waktu antara survei dan hari pemilihan. Sebagian responden bisa saja memberikan jawaban yang kurang jujur saat disurvei. Ini adalah beberapa hal yang menyebabkan hasil survei tidak seakurat yang diinginkan oleh para penyelenggara survei bila dibandingkan dengan hasil pemilu.Lain hal nya dengan Quick Count. Ini adalah cara menghitung cepat dengan mengumpulkan data-data dari TPS. Jadi, ini bukanlah suatu survei untuk mendapatkan opini dari responden. Dengan 2.000 TPS yg masing masing sekitar 200 pemilih (40.000 pemilih) yang diambil dari total 810.329 TPS di seluruh Indonesia, pada tingkat kepercayaan sebesar 95%, margin of errornya tidak jauh dari 1%. Artinya, kalau Quick Count ini diulangi sebanyak 100 kali, maka kemungkinannya adalah 95 kali akan memiliki kesalahan sebesar maksimal 1%. Sisanya 5%, mungkin sedikit lebih dari 1%. Peluang bahwa perhitungan akan meleset sebesar 3% saja, boleh dikatakan sangat kecil sekali.
Rumus menghitung margin of error, tidak dipengaruhi oleh jumlah populasi selama jumlah populasi minimal 20 kali dari jumlah sampel yang diambil. Kalau jumlah sampel yang diambil ditingkatkan menjadi 10.000 TPS atau sekitar 2 juta pemilih, maka tingkat error hanya akan berkurang sekitar 0.5%. Jadi, sampel di atas 2.000 TPS dalam Quick Count, maka penurunan margin of error sudah sangat kecil atau tidak sebanding lurus dengan penambahan sampel.

Satu satunya cara yang membuat Quick Count bisa dipercaya adalah dengan cara memilih TPS secara random. Misal, dipilih TPS no 1, 101, 201, 301...dst. Dan tidak peduli dimana area TPS berada. Sebaliknya, cara paling mudah membuat Quick Count yang abal-abal adalah dengan mengambil sampel TPS secara bias, seperti sengaja memilih TPS dimana pendukung paslon tertentu lebih banyak. Kita bersyukur, tidak ada media besar yang tampil beda di pilpres kali ini.Sore jam 18.00 di hari Pilpres ini, kita sudah melihat bahwa dari lembaga lembaga survei independent yg punya reputasi yang baik, paslon 01 sdh unggul rata rata sebesar 9 % - 12 %. Dengan margin of error yang 1 % , maka sdh dapat diprediksi, nyaris 100 % (99.9 %) hasil perhitungan KPU akan memenangkan Paslon 01.Quick Count adalah cara ilmiah. Ini Salah satu penemuan besar dalam bidang riset sosial. Kita bisa memprediksi hasil populasi jauh sebelum selesai dihitung.
Sambil menunggu perhitungan resmi KPU, ini saatnya semua pihak berdamai. Beda pilihan dalam konteks demokrasi akan membawa persatuan yang baru, yang lebih indah. Tuhan sayang Indonesia.

Indonesia boleh berbangga, berhasil menyelenggarakan pemilu yang paling complicated di dunia dan dunia memberi pujian.

(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak