alexametrics

UBSI- Forum Akademisi Indonesia Gelar Bedah Buku

loading...
UBSI- Forum Akademisi Indonesia Gelar Bedah Buku
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dan Forum Akademisi Indonesia (FAI) menggelar bedah buku di UBSI Kampus Kalimalang, Sabtu (16/3/2019).Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - UBSI bersama Forum Akademisi Indonesia (FAI) menggelar bedah buku dengan judul 'Bangsa Terbelah’ di UBSI Kampus Kalimalang, Sabtu (16/3/2019)
Acara bedah buku ini merupakan salah satu kegiatan yang ada dari rangkaian kegiatan menyemarakan HUT Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ke-31.

Selain ini juga bertujuan untuk mengedukasi para peserta mengenai manfaat literasi bagi diri sendiri juga dapat bermaaf bagi seluruh bangsa.
Hadir nara sumber Ichsanuddin Noorsy selaku penulis buku 'Bangsa Terbelah' selaku seorang ekonom, pengamat politik dan ekonomi Indonesia serta dibahas oleh Ridwan Saidi, ahli sejarah dan budayawan Betawi serta I Ketut Martana selaku Ketua Program Studi (Prodi) Administrasi Perkantoran UBSi.Ichsanuddin Noorsy mengatakan, jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal untuk mengatasi masalah fundamental ekonomi makro di masa kepemimpinannya.

Ichsanuddin berkata demikian karena menurutnya Jokowi sudah gagal untuk membuat rupiah berdaulat di negeri sendiri. Terlebih, pemerintah dirasa kurang sigap saat mengatasi terpuruknya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS.



"Perbadingan ekonomi pemerintah itu biasanya dengan Jepang dan Amerika Serikat. Tapi, Yen berdaulat di Jepang. Sementara dolar AS sudah tahu kita sangat bagus di negeri Amerika. Kalo Indonesia tidak terjadi demikian," ujarnya

Menurut Ichsanuddin kenapa rupiah tidak bisa perkasa di negeri sendiri karena ada tiga institusi penting yang lebih mengutamakan pinjaman dari luar negeri. "Ada tiga yang membuat rupiah lemah. Korporasi swasta, BUMN, dan pemerintah," ujarnya.
Dampak dari kebijakan itu menurut pria kelahiran Jakarta 60 tahun silam itu, market risk tidak pernah di atas 5 persen. Artinya, kesejahteraan ekonomi di Indonesia sudah dalam situasi gawat.

"Artinya, pemerintah ingin membuat stabil ekonomi dengan pinjaman saja tidak mungkin berhasil. Ini tentu tidak aman karena market risk tidak bisa diatasi," ujarnya.

Di tempat yang sama, Ridwan Saidi seorang ahli sejarah dan budayawan mengatakan, Indonesia saat ini sudah berada di titik nadir kehancuran. Menurutnya, jika tidak ada perubahan maka tinggal menunggu saja keruntuhan.

“Korupsi dan ‘kegeblekan’ memimpin negara menjadi faktor penyebab ekonomi terpuruk. Lihat saja terbaru Ketua Umum PPP yang ditangkap KPK. Itu kembali lagi Kementerian Agama menjadi pioner buat korupsi tahun 1951,” ungkapnya.Hernita Arianty selaku ketua pelaksana kegiatan, mengatakan, Bedah buku juga akan diselenggarakan di 3 kampus UBSI lainnya yaitu UBSI Kampus Yogyakarta pada 22 Maret 2019 dengan pembahas seorang Cendekiawan Yogyakarta yaitu Yulianto Puji Winarno dan Ani Wijayanti selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBSI.

Hernita menjelaskan UBSI kampus Sukabumi pada 22 Maret 2019 dengan pembahas Bupati Sukabumi periode 2005-2015, Sukmawijaya yang akan didampingi oleh Rachmat Adi Purnama selaku Ketua Prodi Teknologi Komputer UBSI.

Selain itu juga akan diselenggarakan di UBSI kampus Pontianak pada 30 Maret 2019 dengan pembahas Muhammad Kurniawan dari praktisi pendidikan dan Sriyadi selaku Ketua Prodi Sistem Informasi.

“Acara ini juga menjadi ajang UBSI untuk memperkenalkan fakultas-fakultas yang ada di lingkungan Kampus UBSI. Selain dari tujuan utamanya memberikan edukasi pentingnya literasi pada para peserta,” kata dia.
(vhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak