alexametrics

Pemuda Muhammadiyah Sebut Selandia Baru Gagal Beri Perlindungan

loading...
Pemuda Muhammadiyah Sebut Selandia Baru Gagal Beri Perlindungan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunanto saat bersama Ketua DPR Bambang Soesatyo di Gedung DPR, Jakarta, 17 Januari 2019. Foto/SINDOnews/Yulianto
A+ A-
JAKARTA - Pemuda Muhammadiyah mengutuk keras tragedi penembakan jamaah masjid di Selandia Baru, Jumat (15/3/2019) yang menewaskan 40 orang.

Pemuda Muhammadiyah menilai tindakan pelaku penembakan tersebut sebagai terorisme, dan pelakunya adalah teroris.

"Pemuda Muhammadiyah mengutuk keras dan mengecam tindakan terorisme tersebut serta menuntut aparat penegak hukum mengadili pelaku dengan sanksi hukum seberat-beratnya," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam keterangan persnya, Jumat (15/3/2019).



Menurut dia, Kota Christchurch yang terkenal dengan kota sejuta taman, ramah pada pendatang dan damai dalam menjalankan ibadah ternodai oleh aksi teroris biadab yang terkesan dibiarkan oleh Pemerintah Selandia Baru.

Salah satu teroris penembakan adalah warga Negara Australia Brenton Tarrant pernah menulis manifesto setebal 73 halaman yang menyatakan niat jahatnya. Hal ini tentu diketahui oleh semua orang terutama intelijen Selandia Baru.

"Sangat mencurigakan di mana tidak ada tindakan pencegahan dari pihak terkait," kata Sunanto.

Dengan aksi penembakan yang disiarkan langsung oleh pelaku teror, kata dia, ini membuktikan Pemerintah Selandia Baru gagal melindungi warga negaranya dan mendeteksi dini kegiatan terorisme di negara mereka.

"Pemuda Muhammadiyah mendesak agar pemerintah New Zealand menyatakan tindakan tersebut sebagai tindakan terorisme yang biadab. Pemuda Muhammadiyah menyatakan duka mendalam kepada korban, baik yang telah meninggal, luka-luka, dan yang masih selamat," tuturnya.

Pemuda Muhammadiyah meminta dan mendesak Menteri Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Selandia Baru untuk berkoordinasi secara cepat, dan melakukan perlindungan ekstra bagi warga negara Indonesia yang berada di masjid tersebut, dan di wilayah yuridiksi Selandia Baru.

"Hal ini dilakukan karena ada lebih kurang 331 warga negara Indonesia yang tinggal di Chirstchurch dan 6 WNI diperkirakan berada di lokasi teror tersebut," tuturnya.

Sunanto menegaskan organisasinya berkeyakinan tindakan terorisme, apa pun latar belakang pelaku dan motifnya, tidak bisa dibenarkan dan harus dilawan.

"Agama Islam dan juga keyakinan agama lain, kami pandang memiliki paham agama yang memuliakan kemanusiaan, mendukung hubungan toleransi (tasamuh), tolong menolong (ta’awun), saling asih dan asuh di tengah kehidupan sosial yang ragam, dan mengecam pembunuhan, ekstremesme, dan terorisme. Sehingga tidak ada agama apapun yang mendorong melakukan terorisme," tuturnya.

Sunanto mengimbau umat Islam di Indonesia dan di mana pun berada untuk tidak terpancing dengan provokasi dan hal-hal yang tidak produktif.

"Sebaliknya mendorong agar umat Islam senantiasa berdoa dan membangun hubungan sosial yang mulia dan beradab," tuturnya.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak