alexametrics

Memandu Pemilih Pemula Mencari Pemimpin

loading...
Memandu Pemilih Pemula Mencari Pemimpin
Anggota (Peneliti) Pusat Studi Islam dan Pancasila FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, Joli Apriansyah. Foto/SINDOphoto
A+ A-
Joli Apriansyah

Anggota (Peneliti) Pusat Studi Islam dan Pancasila,

FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta







VOTING to me will mean that I legitimise this choice, and I don’t want to legitimise this choice. I want to fight against it, and I will fight against it by NOT VOTING! (Seorang demonstran dalam protes antipemilu di Prancis, 2017).



Begitulah. Sama halnya dengan masyarakat Indonesia dalam waktu lebih satu bulan lagi, tepatnya 17 April 2019, akan mengikuti pesta demokrasi memilih presiden, wakil presiden, anggota DPR RI, DPD RI, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota. Hal menarik pada pemilu kali ini adalah perebutan suara pemilih pemula. Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemilih pemula untuk Pemilu 2019 sebesar lebih kurang dari 7 juta orang.



Pemilih pemula identik dengan ketidaktahuan akan profil calon pemimpin yang bertarung dalam kontestasi politik lima tahunan. Karena ketidaktahuannya, itu akan berlanjut dengan asal coblos atau bahkan tidak memilih sama sekali. Ini yang harus kita sama berikan pendidikan soal pemilihan umum kepada pemilih pemula, bukan soal bagaimana cara mencoblos, namun cara menentukan pilihannya.



Caranya, awali dengan mengidentifikasi keinginan pemilih pemula untuk masa depan bangsanya misalnya perubahan apa yang dinginkan lima tahun ke depan dan sebagainya. Seringkali dalam diskusi penulis mendengar aspirasi sejumlah pemilih pemula yang mengaku jengah akan gerakan para elite politik yang seperti gitu-gitu aja, dan terkesan tidak mementingkan rakyat. Pemilu dan demokrasi di Indonesia dianggap tidak relevan dengan masalah kehidupan sehari-hari yang tengah dihadapi masyarakat.



Pemilu pemula ini juga menyaksikan bahwa ada oknum politisi yang berkolaborasi dengan oknum aparat birokrasi yang korup, yang dengan kekuatan modal dan agresivitasnya ternyata hanya memanfaatkan demokrasi untuk menumpuk kekayaan dan menguber kekuasaan. Dalam pandangan mereka demokrasi mengalami malfungsi akibat disalahgunakan oleh para elite. Inilah yang bisa menjelaskan dua fenomena penting dalam demokratisasi Indonesia selama ini, yakni pembajakannya oleh elite di satu pihak dan apatisme publik di pihak lain. Hal inilah yang antara lain memicu munculnya keinginan untuk tidak memilih di pemilu atau golput (golongan putih).



Lantas, bagaimanakah mengubah agar kelompok golput ini tidak berlarut-larut menumpuk kegusarannya sehingga berpotensi menjadi ledakan yang destruktif? Bagaimanakah membuat politik yang membosankan ini mengalami transformasi menjadi gerakan publik yang kreatif dan secara politik signifikan? Merebut kembali demokrasi dari tangan elite oligarkis adalah skenario besar yang harus dipikirkan.



Berkaitan dengan pemilu kali ini, terutama menyikapi persaingan calon presiden dan wakil presiden, seyogianya pemilih pemula diberi panduan tentang arah masa depan demokrasi yang dituju. Sejatinya kita harus sama-sama mendukung dan menebar kebaikan, baik berupa informasi, sikap, atau tindakanpositif agar pemilih pemula ini tidak larut dengan sikap apatis.



Mereka jangan dibiarkan kehilangan arah dan harus bisa menentukan siapa pemimpin nasional yang akan dipilihnya untuk lima tahun ke depan. Jadi, Anda pilih siapa? Pilihan boleh saja berbeda. Saya pilih menebar harapan! Karena dari harapan akan lahir sebuah gerakan berkemauan demi tujuan membahagiakan rakyat dan memenangkan negara ini.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak