alexametrics

Selama 12 Tahun Hilang di Yordania, Gaji Tak Dibayar Majikan

loading...
Selama 12 Tahun Hilang di Yordania, Gaji Tak Dibayar Majikan
Selama 12 Tahun Hilang di Yordania, Gaji Tak Dibayar Majikan
A+ A-
JAKARTA - Perlakuan buruk dari majikan tak pernah dibayangkan oleh Diah Anggrain, 35, saat berangkat untuk mencari rezeki dengan menjadi pekerja migran ke Yordania.

Warga Kedung-kandang, Malang, Jawa Timur, itu berangkat ke Yordania sejak 5 Oktober 2006 melalui PT Safina Daha Jaya. Setiba di tempat tujuan dia bekerja di tempat majikannya. Namun, beberapa saat setelah bekerja Diah justru tak diberi akses komunikasi, tak memperoleh hak-haknya sebagai pekerja dan gajinya pun tak dibayar oleh majikan.

Keluarganya di Malang kebingungan karena kehilangan kontak dengan Diah selama 12 tahun. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman, Yordania, pun menerima laporan. Kemudian KBRI menyelidiki dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.



Setelah melakukan serangkaian penelusuran dan penyelidikan, KBRI akhirnya berhasil menemukan Diah dan langsung mengontak keluarganya di Malang. Saat diinvestigasi di awal Desember 2018 ditemukan keterangan bahwa Diah tidak diurus dokumennya sejak 2014 dan tidak ada kejelasan tentang gaji serta hak-hak ketenagakerjaannya selama 12 tahun.

Saat diwawancara oleh petugas KBRI, Diah tidak mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan baik. Atas dasar ini, diputuskan untuk membawa Diah tinggal di Griya Singgah KBRI di Amman untuk diperjuangkan hak-haknya, termasuk gajinya yang belum dilunasi oleh majikannya.

“Diah dalam keadaan sehat dan akan segera dipulangkan setelah kasusnya diselesaikan,” kata Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Yordania dan Palestina Andy Rachmianto melalui siaran pers Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) kemarin.

Di Griya Singgah KBRI Diah terus melakukan penyesuaian dan belajar bahasa Indonesia secara intensif dan menyelesaikan pelatihan health massage yang diselenggarakan KBRI. Saat ini, kondisi Diah sudah mampu kembali berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Bahkan, Diah begitu gembira dapat berkomunikasi secara langsung melalui video call dengan ibunya di Tanah Air. Meski tak terbendung rasa harunya, Diah tetap tak lupa memberikan apresiasi kepada Dubes RI untuk Yordania dan Palestina serta petugas KBRI di Amman yang telah membantu dan segera memulangkannya ke keluarga di Jawa Timur.

“Saya gembira sekali dan memang sudah lama hilang kontak dan tidak berkomunikasi dengan keluarga. Saya ingin segera pulang dan bertemu kedua orang tua di kampung halaman (Malang),” ujar Diah. Suseno Hadi, Atase Ketenaga kerjaan KBRI di Amman, mengungkapkan, KBRI telah memanggil majikan tempat Diah bekerja selama ini.

Majikannya pun bersikap kooperatif dan berjanji akan menyelesaikan pembayaran gajinya sebesar USD9.000 atau setara dengan Rp126 juta dengan kurs Rp14.000. “Gajinya sebesar 2/3 telah dibayarkakan oleh majikannya. Tinggal sisanya 1/3 lagi yang belum dibayarkan, serta denda izin tinggal yang sampai saat ini belum dibayar majikannya,” kata Suseno.

“Terhitung mulai 10 Februari 2019 pengumuman Amnesti yang diberikan oleh Pemerintah Yordania telah diberlakukan. Dipastikan tidak lama lagi Diah dapat segera kembali ke tanah air.”

Presiden Union Migrant Indonesia (Unimig) Muhammad Iqbal berpendapat, pemerintah harus segera melakukan pendataan siapa saja yang merasa kehilangan kontak dengan anggota keluarganya yang menjadi pekerja migran.

Sebab, diduga kasus Diah merupakan fenomena gunung es yang dibaliknya masih banyak tenaga kerja Indonesia yang menjadi korban. “Pemerintah harus proaktif untuk mendata keluarga yang lost contact sehingga bisa dide teksi di mana saja mereka bekerja. Apakah mereka disekap, dikurung, atau dipi dana karena sebuah kasus,” katanya.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak