alexametrics

Guntur Sakti: Setiap Zaman Ada Orang Pilihan

loading...
Guntur Sakti: Setiap Zaman Ada Orang Pilihan
Kepala Biro Komunikasi Publik di Kemenpar, Guntur Sakti. (Foto/Istimewa/Dok)
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan untuk terus berusaha membangkitkan kembali pariwisata di Indonesia dengan menjaga kondusivitas dan ekosistem industri pariwisata agar terus tumbuh.

Hal ini dikatakan Kepala Biro Komunikasi Publik di Kemenpar, Guntur Sakti (GS). Diakui Guntur terjadi penurunan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) karena adanya kejadian luar biasa seperti bencana alam.

Berikut perbincangan bersama Guntur Sakti, Selasa (5/2/2019).



Apa yang dirasakan sejak bergabung di Kemenpar?

Luar biasa, saya beruntung, mendapat CEO-Chief Executive Officer seperti Pak Menpar Arief Yahya ini. Antara teori dan praktik, antara konsep dan implementasi, antara great spirit dan grand strategy berjalan seiring.

Pantas sekali Mark Plus menobatkan beliau sebagai Marketeer of The Year sejak 2013, dan sampai 2018 menjadi ketua dewan juri dalam pemilihan best marketer di sana.

Soal tulisan kinerja pariwisata Indonesia, apa respons Anda?

Kita sudah terlalu jauh melangkah. Ini mengajak flashback, untuk menjaga kondusivitas dan ekosistem industri Pariwisata yang terus optimistis bertumbuh. Tidak perlu gaduh dan berpolemik yang membuat 'keruh' suasananya. Kalau mau memperbaiki, ambil ikannya, tak perlu keruh kolamnya.

Kemenpar disebut gagal mencapai target, bagaimana Anda melihatnya?

Sudah disampaikan berkali-kali di banyak forum. Ada force majeure, ada kejadian luar biasa, bencana alam, dan bencana alam itu bisa terjadi di mana-mana. Apakah bencana ini mempengaruhi kunjungan wisman dan wisnus, jawabannya anak kecil juga tahu. Pasti.

September 2017, Gunung Agung aktif, erupsi, menutup Bandara Ngurah Rai Bali dan Lombok International Airport. Sempat terjadi kepanikan dan viralnya sampai di mana-mana, termasuk pasar utama Tiongkok. Dampaknya lebih dari 10 negara mengeluarkan Travel Advice ke Indonesia, bukan hanya di Bali.

Baru di Imlek, akhir Januari 2018 peringatan pemerintah buat travelers Tiongkok itu dicabut.
Tahun 2018, gempa Lombok, disusul gempa dan tsunami di Palu Donggala, lalu beruntun daerah-daerah lain di tanah air. Puluhan Negara juga Travel Advice.

Apakah itu berdampak?

Saya kira anak-anak kecil jika ditanya pasti menjawab sama dengan saya. Satu jutaan wisman yang cancel atau reroute ke destinasi lain. Orang berwisata, itu mau happy, ingin senang, menikmati alam, budaya dan buatan, mencari pengalaman baru.

Tahun 2018 juga ditambah dengan polemik zero dollar tour dari Tiongkok dan jatuhnya Pesawat Lion Air. Industri Pariwisata itu nyawanya adalah hospitality, keramah tamahan. Media sosial, media online, dunia, ini connected, satu orang dengan orang lain, satu bangsa dengan bangsa lain, satu belahan bumi dengan belahan bumi lainnya.

Tidak ada jarak, tidak ada border. Kejadian di sini, bisa cepat dirasakan, dilihat, dicari infonya dari manapun juga. Pariwisata adalah industri jasa, services, bagaimana bisa melayani jika narasinya seperti itu.

Padahal kita semua tahu 75% wisman masuk ke Indonesia melalui jembatan udara atau airlines. Bagaimana dengan catatan Pak SN soal wisman yang turun, Jepang (-7,52%), Taiwan (21,41%) Korea Selatan (-15.28%), Arab Saudi (-8,9), Belanda (-0,36%). China naik (2,12%), Australia (3,52%), dan rata-rata negara Eropa (1,76%).

Mengapa ini terjadi?

Jangan tergoda dengan angka persentase, yang kelihatan besar. Lihat juga jumlahnya. Kalau persentase besar dari negara yang jumlah wismannya besar, itu alert, berbahaya. Begitu pun sebaliknya, jadi jangan mudah terharu oleh persentase.

Misalnya, Tiongkok, Singapore, Malaysia, Australia, itu jumlahnya besar, jadi naik dengan persentase kecil pun, angkanya besar. Kita punya war room yang setiap hari realtime up date, memberikan informasi yang valid, untuk membuat keputusan manajemen yang cepat dan on target.

Bagaimana dengan branding?

Branding itu long term investment. Investasi jangka panjang. Sekarang investasi, hasilnya 3-5 tahun ke depan. Awards itu termasuk dalam strategi branding. Hasilnya jangka panjang, tetapi kalau tidak kita lakukan saat ini, kita akan semakin sulit mengejar fondasi produk pariwisata kita ke depan.

Diibaratkan, orang tua mencari menantu laki-laki. Pilihan A, seorang satpam dengan gaji 5 juta, punya sepeda motor, dan sudah punya pekerjaan. Pilihan B, mahasiswa ITB Bandung, jurusan Elektro, juara kelas, juara di kampusnya, tapi duitnya masih pas-pasan, belum ada pekerjaan.

Anda kalau menjadi orang tua, menyarahkan anak perempuan Anda memilih yang mana? Pasti B? Bukan karena performance saat ini, tapi punya proyeksi masa depan yang lebih bagus. Itulah long term investment. Mahasiswa itu sedang berinvestasi untuk masa depan, menambah ilmu, menambah value, memperkuat brandingnya. Itulah branding.

Advertising sudah mulai mengajak orang untuk datang. Dan selling sudah 'memaksa' orang datang dengan cara membuat pilihan yang sulit untuk ditolak. Misalnya hot deals, diskon 70% ke Kepri, buat wisman yang sudah ada di Singapore. Itu tidak perlu pernghargaan atau awards, tinggal pasang harga diskon besar, beri kemudahan, insentif akses.

Jadi, jangan menyoal program jangka panjang dengan menggunakan ekspektasi jangka pendek. Jaka Sembung naik ojek, alias gak nyambung jek. Jadi penting sekali untuk branding.

Bagaimana dengan Spending, atau pengeluaran wisman, Kan berbeda-beda. Yang Eropa Amerika, Timur Tengah, Asia Pasifik relatif besar. Yang CrossBorder kecil?

Betul, semua orang juga tahu. Kemenpar itu menggarap semua segmentasi. Jadi kalau kita sejak 2016 menggarap pasar crossborder atau daerah perbatasan dengan berbagai festival itu, bukan berarti pasar utama yang lain diabaikan. Semua segmen digarap dengan serius, bahkan dengan digital saat ini sudah semakin tidak relevan membicarakan segmentasi.

Karena the more digital, the more personal. 50% travelers yang ke Indonesia saat ini adalah millennials, mereka sudah tersambung dengan teknologi digital, online media, dan social media. Mereka sudah look book pay dengan online. Mereka search and share dengan online.

Teknologi big data, customers yang big and loud ini sudah bisa dikompilasi dengan baik dan detail. Dengan digital juga semakin matching, produk kita seperti apa? Akan bertemu dengan customers yang seperti apa pula? Ada yang high end, kelas atas. Ada yang kelas menengah, ada juga kelas glampackers.

Bagaimana Soal Budgeting Pariwisata yang naik, tetapi hasilnya kok tidak eksponensial?

Kita ini masih jauh dari usulan Kemenpar, tidak sampai 50% yang disetujui, untuk mendapatkan target 20 juta wisman. Dengan kata lain, dengan budget yang hanya separoh, ditambah berbagai bencana alam yang terjadi di 2017-2018, capaian saat ini sudah sangat luar biasa.

Tentang Indonesia Incorporated?

Googling deh. Dari tahun 2015 Pak Menpar Arief Yahya sudah mempopularkan konsep Indonesia Incorporated, sampai sekarang juga, bersinergi dengan Kemenlu (mengoptimalkan KBRI-KJRI), Kemenhub (optimalkan akses melakui Airlines, Airport, Airnav), KemenPUPR (membangun infrastruktur Pariwisata, menuju ke destinasi wisata), Kemenkes, BNPB, Basarnas, Polri-TNI, untuk disaster management, Pemda Provinsi dan Kabupaten Kota, untuk membangun produk Pariwisata yang bernama destinasi.

Saya kira, kalau urusan Incorporated, Pak Menpar Arief Yahya sudah melakukan juah lebih mendalam, lebih konkret, lebih banyak dan lebih sistematis daripada sebelum-sebelumnya. Bahkan, setiap tahun Pak Menteri datang sendiri ke mereka.

Mengenai Sustainable Tourism Development atau pariwisata berkelanjutan?

Soal Pariwisata Berkelanjutan ini, Kemenpar sudah beberapa langkah lebih maju, tidak di awang-awang lagi, dan pasca pertemuan Pak Menpar Arief Yahya dengan Sekjen UNWTO Zurab Pololikashvili di FITUR Madrid, 24 Januari 2019 semakin meyakinkan.

Komitmen Indonesia dalam mengembangkan konsep STD Sustainable Tourism Development, Sustainable Tourism Observatory (STO), dan menuju Sustainable Tourism Certification (STC) sangat serius dan progres.

Ada kata-kata yang sering disampaikan Pak Menteri Pariwisata terkait dengan ini: 'Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan.' Lalu sering menggunakan istilah ECE - Environment, Community, dan Economic Value. Atau dengan bahasa yang lebih mudah 3P, Planet, People, Prosperity.

Soal strategi membentuk tim percepatan yang dinilai sering bertabrakan internal?

Itu biasa saja. Proses pembelajaran selalu ada yang bersinggungan. Namanya juga proses. Tetapi opsi itu adalah yang terbaik, dari 3B yang kemungkinan bisa dilakukan. To Build, membangun dari nol, butuh waktu lama, dan tingkat kegagalannya lebih tinggi.

To Borrow, seperti yang sekarang, menggunakan shadow management, meminjam tenaga ahli, orang yang sudah punya reputasi untuk membuat percepatan. To Buy, itu mengganti semua dengan yang baru, lebih tabrakan lagi kalau memilih yang ini.

Kita memilih To Borrow, sambil belajar manajemen, project menagemen, sambil meninggalkan jejak yang progresif, etos kerja yang professional, Winway Solid Speed Smart, pada para pejabat di lingkungan Kemenpar. Saya kira Kemenpar saat ini jauh lebih profesional, lebih melayani, seperti korporasi, tidak birokratis yang berlebihan.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak