alexametrics

Kesaksian Gulbakhar dari Balik Penjara Uighur

loading...
Kesaksian Gulbakhar dari Balik Penjara Uighur
Salah satu warga negara Kazakhstan keturunan Uighur, Gulbakhar Cililova menceritakan penderitaannya selama 16 bulan menjadi tahanan Pemerintah Komunis Cina, dalam diskusi 'Kesaksian dari Balik Penjara Uighur', Sabtu (12/1/2019). Foto/SINDOnews/Komaruddin
A+ A-
JAKARTA - Salah satu warga negara Kazakhstan keturunan Uighur, Gulbakhar Cililova menceritakan penderitaannya selama 16 bulan menjadi tahanan Pemerintah Komunis Cina.

Pebisnis yang kerap melakukan perjalanan bisnis Kazakhstan-Cina selama 20 tahun ini ditangkap Pemerintah Cina pada Mei 2017. Sejak saat itu, ia dimasukkan ke kamp reedukasi di Xinjiang dengan dugaan bahwa Gulbahar adalah etnis Uighur.

“Ketika saya berada di kamp tersebut, saya dimintai KTP Cina saya. Saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan bahwa saya tidak melakukan kesalahan,” kata Gulbahar dalam diskusi 'Kesaksian dari Balik Penjara Uighur', Sabtu (12/1/2019).



Namun demikian, lanjut Gulbakhar, ia terus diinterogasi identitas Uighurnya selama lebih dari satu tahun.Selama penginterogasian tersebut, Gulbahar dikurung dalam ruangan yang pengap, berukuran 7x6x3 meter.

Di ruangan itu ia kerap melihat tahanan Uighur disiksa hanya karena gerak-gerik yang menunjukkan seperti mereka mau beribadah.

“Kepala menengok ke kanan dan ke kiri saja, dianggap melakukan salat. Atau mengusap muka, dianggap habis berwudu. Karena gerakan itu, mereka dihukum seperti kaki mereka diberi pemberat seberat 5 kilogram. Ada juga yang kuku-kuku mereka dicabut dan bentuk represi laainnya yang membuat saya stress,” kenang Gulbakhar pilu.

Depresi melihat penyiksaan itu semua, ia empat kali dilarikan ke rumah sakit tahanan yang kondisinya sangat tidak layak. Kisahnya, di rumah sakit itu juga terdapat tahanan seumur hidup atau tahanan Uighur yang dijatuhi hukuman mati.

“Mereka tidak dibunuh langsung, tapi secara perlahan dengan pemberian obat-obatan yang mematikan,” tambah Gulbakhar.

Baru pada September 2018 lalu Gulbakhar dibebaskan karena terbukti bukan etnis Uighur.

“Saya berjanji pada saudara-saudara Uighur yang ditahan di kamp, untuk menyuarakan fakta pahit ini. Ini suatu ketidakadilan HAM,” tutup Gulbakhar.

Komaruddin Bagja Arjawinangun
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak