alexametrics

Pudarnya Kepakaran

loading...
Pudarnya Kepakaran
Pengguna gawai di Indonesia masuk posisi ketiga terbanyak di dunia setelah China dan India. Saat ini orang mudah sekali mengakses informasi, bahkan dibanjiri informasi sehingga merasa setingkat pengetahuannya. Ilustrasi/KORAN SINDO
A+ A-
Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

JUDUL di atas terinspirasi dari buku The Death of Expertise (2017) oleh Tom Nichols. Sebuah buku yang provokatif dan peringatan serius bagi kalangan pakar, yaitu mereka yang mempelajari bidang ilmu secara serius, konsisten, memiliki pengalaman banyak pada disiplin ilmunya, dan memperoleh pengakuan dari kolega seprofesi.

Menurut Nichols, dulu pakar atau seorang ilmuwan ahli memperoleh penghormatan dan status sosial tinggi di tengah masyarakat, tetapi sekarang telah pudar. Istilahnya “death” atau mati rasanya terlalu keras.



Ruang demokrasi yang memberikan kebebasan setiap orang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya semakin memperoleh medium luas melalui gawai berbasis internet. Setiap orang bebas menulis dan menyebarkan gagasan apa saja tanpa hambatan.

Setiap orang bisa menjadi penulis dan pengkritik sekaligus. Dunia diperkecil menjadi miniatur dalam genggaman gawai.

Masyarakat Amerika yang selama ini dianggap paling berpendidikan, ternyata pengetahuan mereka tentang peta dunia sangat lemah. Merasa negaranya sebagai pusat dunia, warga Amerika tidak tertarik mempelajari negara lain.

Bahkan di tingkat elite politiknya minim sekali pengetahuannya tentang negara-negara di dunia, sementara politisi Gedung Putih mengklaim dirinya sebagai polisi dunia. Mereka tahu Pulau Bali misalnya, tetapi tidak tahu di mana Indonesia.

Hal yang membuat posisi pakar memudar adalah semakin berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan sampai ke ranting-ranting terkecil. Ini membuat seorang yang memiliki kepakaran dianggap sebagai ilmuwan biasa saja.

Sekarang ini bukan hal asing melihat seorang pasien mendebat dokternya tentang resep obat yang diberikan. Banyak pasien mempelajari jenis penyakit dan obatnya lewat media sosial.
halaman ke-1 dari 2
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak