alexametrics

Polri Dalami Kabar WNI Disandera Kelompok Abu Sayyaf

loading...
Polri Dalami Kabar WNI Disandera Kelompok Abu Sayyaf
Polri langsung turun tangan untuk menelusuri adanya kabar yang beredar di medsos mengenai penyanderaan seorang WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Foto/Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A+ A-
JAKARTA - Polri langsung turun tangan untuk menelusuri adanya kabar yang beredar di Media Sosial (Medsos) mengenai penyanderaan seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf dari perairan di lepas pantai Pulau Gaya.

Informasi penyanderaan WNI oleh kelompok teroris itu ramai diperbincangkan setelah beredarnya cuplikan video di Medsos.

"Ya sedang dicek dulu info tersebut (penyanderaan WNI)," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada Okezone, Jakarta, Sabtu (5/1/2019).



Dedi menyebut, penelusuran informasi itu beriringan dengan Pemerintah Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Lua Negeri (Kemenlu) serta otoritas Filipina.

"Tunggu informasi juga dari Kemenlu dan pihak Filipina," ucap Dedi.

Selain itu, Dedi menuturkan, Direktora Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri juga tengah menelisik informasi dari konten video yang beredar luas di lini masyarakat tersebut.

"Termasuk tim cyber sedang cek keaslian konten video tersebut," tutur Dedi.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI), Lalu Muhammad Iqbal mengatakan bahwa taktik penyebaran video sandera telah beberapa kali dilakukan oleh Abu Sayyaf sejak pertama kali terjadi penyanderaan WNI pada 2016.

Iqbal memastikan bahwa Pemerintah Indonesia melakukan upaya-upaya pembebasan terhadap tiga WNI yang saat ini masih disandera di Filipina Selatan dengan menggunakan seluruh aset yang dibutuhkan di Indonesia maupun di Filipina. Dalam proses tersebut, keselamatan sandera selalu menjadi perhatian utama.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak